Memuat...

Masjid Diserbu Saat Shalat Jumat, Lebih dari 60 Jamaah Diculik di Nigeria

Hanoum
Senin, 24 Agustus 2026 / 12 Rabiulawal 1448 03:28
Masjid Diserbu Saat Shalat Jumat, Lebih dari 60 Jamaah Diculik di Nigeria
Foto ilustrasi. [Foto: X]

NIGER (Arrahmah.id) -- Lebih dari 60 jemaah dilaporkan diculik setelah kelompok bersenjata menyerbu sebuah masjid di Kpenya, Distrik Dekara, wilayah pemerintahan lokal Borgu, Negara Bagian Niger, Nigeria, ketika shalat Jumat berlangsung pada Jumat (21/8/2026). Polisi membenarkan adanya penculikan, tetapi belum dapat memastikan jumlah korban; sementara warga memperkirakan jumlah jemaah yang dibawa pergi mencapai 60 hingga 80 orang.

Dilansir DW (22/8), serangan tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 waktu setempat setelah para penyerang sebelumnya menyerang Desa Gidan-Zana dan Kpenya. Menurut keterangan polisi, para pelaku kemudian memasuki Masjid Kpenya dan membawa sejumlah jemaah pergi. Serangkaian serangan itu disebut berlangsung di beberapa komunitas di wilayah Borgu.

Juru bicara Kepolisian Negara Bagian Niger, Wasiu Abiodun, mengatakan aparat belum dapat mengonfirmasi jumlah orang yang diculik. Ia menyatakan pasukan keamanan gabungan telah dikerahkan untuk menilai situasi dan melakukan operasi penyelamatan.

“Laporan sementara menunjukkan tidak ada korban jiwa, sementara satuan keamanan gabungan telah dikerahkan ke daerah tersebut untuk melakukan penilaian dan operasi penyelamatan,” kata Wasiu Abiodun, dikutip dari Sky News.

Keterangan polisi mengenai tidak adanya korban jiwa berbeda dengan laporan sejumlah warga. Ketua Pemerintahan Lokal Borgu, Abdullahi Mohammed Nasir, mengatakan sedikitnya 60 orang diculik dan sejumlah warga mengalami luka tembak ketika berusaha melarikan diri. Ia menggambarkan para pelaku mengepung masjid sebelum membawa jamaah pergi.

“Orang-orang diculik ketika sedang melaksanakan shalat Jumat. Saat itulah orang-orang jahat datang, mengepung masjid, lalu membawa mereka pergi,” ujar Abdullahi Mohammed Nasir.

Salah seorang penyintas, Jibril Ahmad, memberikan kesaksian yang lebih rinci kepada AFP. Ia menuduh kelompok bersenjata Lakurawa sebagai pelaku dan mengatakan para penyerang datang dalam jumlah besar dengan membawa senjata api, pisau dan parang. Namun, identitas kelompok yang bertanggung jawab belum dikonfirmasi secara independen oleh aparat, dan tidak ada kelompok yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas rangkaian serangan tersebut.

Ahmad juga mengatakan kelompok bersenjata lain yang disebut Mahmuda kemudian terlibat bentrokan dengan para penyerang. Menurut kesaksiannya, bentrokan tersebut memungkinkan sebagian orang yang sempat diculik melarikan diri. Klaim mengenai bentrokan dan jumlah korban tersebut masih harus diverifikasi.

Salah satu korban yang disebut dalam laporan adalah ayah Zubairu Umar Talba, seorang tokoh pemuda di wilayah Dekara. Pria tersebut berusia 85 tahun. Talba mengatakan jumlah korban belum dapat dipastikan karena banyak warga melarikan diri dari kawasan tersebut.

Serangan di Borgu kembali menyoroti memburuknya keamanan di wilayah utara dan tengah Nigeria, yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi maraknya penculikan massal oleh kelompok bersenjata. Penculikan untuk mendapatkan uang tebusan menjadi salah satu modus utama kelompok-kelompok kriminal bersenjata, sementara sejumlah kelompok juga memiliki hubungan atau persinggungan dengan jaringan militan regional.

Hingga laporan terbaru, aparat keamanan Nigeria telah mengerahkan pasukan gabungan ke kawasan tersebut dan melakukan pencarian terhadap para korban. Jumlah pasti orang yang diculik serta nasib seluruh korban masih belum diketahui. Reuters menekankan bahwa perkiraan lebih dari 60 korban berasal dari keterangan warga dan belum dapat diverifikasi secara independen, sehingga angka tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai estimasi, bukan angka resmi pemerintah. (hanoum/arrahmah.id)