Memuat...

"Israel" Bisiki Trump soal Iran: Intelijen Diragukan AS, Tapi Diduga Masuk Kalkulasi Perang

Samir Musa
Ahad, 16 Agustus 2026 / 4 Rabiulawal 1448 15:16
"Israel" Bisiki Trump soal Iran: Intelijen Diragukan AS, Tapi Diduga Masuk Kalkulasi Perang
Donald Trump meninggalkan pesawat kepresidenan lama di Pangkalan Mildenhall, Inggris, saat berganti pesawat dalam perjalanan kembali ke Washington setelah menghadiri KTT Ankara (Getty).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Sejumlah informasi intelijen yang disampaikan "Israel" kepada Amerika Serikat terkait dugaan ancaman Iran terhadap Presiden Donald Trump disebut ikut masuk dalam perhitungan Washington menjelang keputusan untuk berperang melawan Iran.

Salah satu contohnya terjadi saat kunjungan Trump ke Ankara. Presiden AS tersebut sempat dipindahkan dari pesawat kepresidenan karena adanya informasi mengenai kemungkinan ancaman terhadap keselamatannya.

Informasi tersebut berasal dari "Israel", tetapi diragukan oleh sejumlah analis intelijen Amerika Serikat dan tidak menemukan konfirmasi dari pihak Turki. Meski demikian, Dinas Rahasia AS tetap mengambil langkah keamanan luar biasa untuk melindungi Trump.

Dilansir dari Al Jazeera, Ahad (16/8/2026), kasus tersebut menunjukkan persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana informasi dari sekutu dekat AS dapat masuk ke lingkaran pengambilan keputusan Washington, meskipun tingkat keyakinan terhadap informasi tersebut rendah.

Para penumpang menaiki pesawat kepresidenan "Air Force One" di Ankara, dalam perjalanan yang menerapkan langkah-langkah keamanan luar biasa untuk melindungi Trump setelah adanya peringatan dari "Israel" yang diragukan (Reuters).

Peringatan soal rencana pembunuhan Trump

Reuters melaporkan bahwa Amerika Serikat menerima sejumlah peringatan dari "Israel" mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh Trump.

Peringatan tersebut mencakup berbagai skenario, mulai dari serangan penembak jitu, perekrutan seseorang untuk menyerang Trump dengan pisau dalam sebuah acara publik, hingga kemungkinan penggunaan rudal yang dapat dibawa seseorang.

Menurut Reuters, peringatan tersebut mulai muncul menjelang perang selama 12 hari pada Juni 2025 dan meningkat menjelang keputusan Washington untuk melancarkan perang terhadap Iran pada Februari 2026.

Sebagian informasi disampaikan kepada badan-badan intelijen AS. Namun, sejumlah pejabat "Israel" juga disebut menyampaikannya secara langsung kepada pejabat senior Gedung Putih, termasuk pejabat yang berada di ruang operasi.

Persoalannya bukan hanya apakah informasi tersebut benar atau tidak, tetapi juga bagaimana informasi itu tetap berada dalam lingkaran pengambilan keputusan meski terdapat keraguan terhadap kebenarannya.

Reuters melaporkan bahwa CIA tidak dapat mengonfirmasi sejumlah ancaman spesifik yang dibagikan "Israel". Dalam beberapa kasus, badan tersebut menilai informasi "Israel" mengenai dugaan ancaman Iran, termasuk rencana pembunuhan Trump, dengan tingkat keyakinan rendah.

Tingkat keyakinan rendah tidak berarti informasi tersebut pasti palsu. Artinya, bukti yang tersedia belum cukup untuk menghasilkan tingkat keyakinan tinggi terhadap kesimpulan tersebut.

Dalam kasus Ankara, Washington Post melaporkan bahwa analis CIA tidak menganggap informasi "Israel" tersebut meyakinkan. Seorang pejabat AS bahkan menggambarkannya sebagai informasi yang berasal dari "Israel", bukan informasi yang bersumber dari intelijen AS, sehingga dinilai memiliki tingkat keyakinan rendah.

Namun, Dinas Rahasia tetap memilih langkah pencegahan.

Jalur langsung ke Gedung Putih

Pada umumnya, informasi intelijen melewati jalur institusional. Informasi dikumpulkan oleh badan terkait, dianalisis, kemudian hasil penilaiannya disampaikan kepada pengambil keputusan.

Namun, laporan Reuters menunjukkan bahwa sebagian informasi dari "Israel" memiliki jalur yang lebih langsung. Beberapa peringatan disebut disampaikan kepada pejabat senior Gedung Putih, bukan hanya melalui proses analisis intelijen.

Situasi tersebut berlangsung ketika sistem intelijen AS sendiri mengalami gejolak.

Reuters melaporkan CIA berhenti mengerjakan sejumlah penilaian bersama dengan National Intelligence Council, lembaga yang seharusnya merepresentasikan pandangan komunitas intelijen AS secara keseluruhan.

Ketegangan dengan kantor Direktur Intelijen Nasional juga meningkat. Pada saat yang sama, jumlah penilaian mengenai Iran yang dikeluarkan dewan tersebut menurun, sebagian akibat pengurangan jumlah pegawai.

Ketika ancaman pribadi masuk dalam keputusan perang

Persoalan kemudian menjadi lebih sensitif ketika informasi mengenai dugaan rencana pembunuhan Trump masuk ke dalam perhitungan mengenai perang.

Reuters melaporkan Trump mempertimbangkan informasi yang diberikan "Israel" mengenai dugaan upaya Iran untuk membunuhnya sebelum Washington melancarkan perang terhadap Iran pada Februari 2026.

Kurang dari 48 jam sebelum serangan dimulai, Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu dilaporkan berbicara melalui telepon dengan Trump.

Menurut Reuters, Netanyahu mendorong Trump memanfaatkan kesempatan untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Salah satu argumen yang digunakannya disebut berkaitan dengan dugaan upaya Iran sebelumnya untuk membunuh Trump.

Namun, hal tersebut tidak membuktikan bahwa informasi dari "Israel" menjadi penyebab keputusan perang.

Reuters menegaskan pihaknya tidak dapat menentukan seberapa besar pengaruh argumen Netanyahu terhadap Trump. Laporan tersebut juga tidak menyatakan bahwa "Israel" memaksa Trump mengambil keputusan untuk berperang.

Yang menjadi persoalan adalah masuknya isu dugaan pembunuhan Trump ke dalam lingkungan pengambilan keputusan yang sudah dipenuhi pertimbangan intelijen, militer, dan politik.

Washington tidak sepenuhnya percaya kepada "Israel"

Di dalam pemerintahan AS sendiri, informasi yang disampaikan "Israel" tidak selalu dianggap sebagai fakta yang sudah terbukti.

New York Times melaporkan sebuah pertemuan di ruang operasi Gedung Putih pada 11 Februari. Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu mempresentasikan rencana serangan terhadap Iran dan kemungkinan menggulingkan pemerintahan Iran.

Menurut laporan tersebut, Direktur CIA John Ratcliffe menyebut sejumlah skenario perubahan rezim sebagai sesuatu yang "konyol".

Sementara itu, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine disebut menilai pihak "Israel" berlebihan dalam mempresentasikan rencana mereka. Ia juga mengatakan rencana "Israel" tidak selalu matang, meski mereka memahami bahwa mereka membutuhkan dukungan Amerika Serikat sehingga terus mendorong Washington.

Meski demikian, Trump tidak menolak seluruh gagasan yang disampaikan Netanyahu. Presiden AS tersebut tetap tertarik terhadap sasaran yang dianggap dapat dicapai, termasuk kepemimpinan Iran dan kemampuan militernya.

Keraguan terhadap informasi "Israel" juga menyangkut motif di balik penyampaiannya.

Washington Post mengutip seorang mantan pejabat yang mengatakan bahwa sejumlah laporan intelijen "Israel" tampak dirancang untuk membentuk keputusan presiden, bukan sekadar memberikan informasi kepadanya.

Dari kanan: Donald Trump, Tucker Carlson, dan Marjorie Taylor Greene pada 2022. Carlson kemudian tampil sebagai salah satu tokoh yang menentang perang terhadap Iran (Associated Press).

Kritik dari dalam Amerika Serikat

Keraguan tersebut juga muncul di Kongres AS.

Senator Demokrat Chris Van Hollen mengatakan ia tidak meragukan bahwa Iran menginginkan Trump tersingkir. Namun, ia mempertanyakan apakah informasi yang diberikan "Israel" benar-benar dapat dipercaya dan diverifikasi secara independen.

Anggota DPR Demokrat Adam Smith juga mengatakan mudah untuk melihat kepentingan "Israel" dalam mendorong Trump agar lebih berani menghadapi Iran.

Penolakan terhadap perang dengan Iran bahkan muncul dari kalangan konservatif.

Tokoh media konservatif Tucker Carlson, yang dikenal sebagai salah satu suara penting gerakan "America First", merupakan salah satu penentang perang. Ia beberapa kali mengunjungi Gedung Putih dan memperingatkan Trump bahwa konflik dengan Iran dapat menghancurkan kepresidenannya.

Steve Bannon juga menyampaikan kekhawatiran serupa saat perang Juni 2025. Ia memperingatkan bahwa "Israel" bukan hanya ingin mempertahankan diri, tetapi juga menginginkan Amerika Serikat ikut menyerang.

"Israel" sendiri membantah menggunakan informasi intelijen untuk memengaruhi kebijakan luar negeri AS.

Seorang juru bicara kedutaan "Israel" mengatakan kepada Reuters bahwa pihak yang menuduh "Israel" memengaruhi kebijakan Amerika melalui pertukaran intelijen akan menuduh "Israel" menyembunyikan informasi penting jika hal tersebut sesuai dengan agenda mereka.

Ancaman terhadap Trump tetap menjadi persoalan

Keraguan terhadap sejumlah informasi dari "Israel" tidak berarti seluruh isu mengenai ancaman terhadap Trump tidak memiliki dasar.

Departemen Kehakiman AS sebelumnya mengumumkan dakwaan dalam sejumlah kasus yang menurut pemerintah AS melibatkan Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam rencana untuk menargetkan Trump.

Dalam salah satu kasus, seorang pria dinyatakan bersalah setelah pihak berwenang mengatakan bahwa ia bertindak berdasarkan arahan Iran.

Teheran membantah merencanakan pembunuhan Trump.

Penyelidik AS juga tidak menemukan bukti keterlibatan Iran dalam dua upaya pembunuhan terhadap Trump selama kampanye pemilihan presiden 2024.

Dengan demikian, persoalan utamanya bukan hanya apakah ancaman terhadap Trump benar-benar ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana informasi mengenai ancaman tersebut sampai kepada presiden dan bagaimana informasi itu disajikan kepadanya ketika ia harus mengambil keputusan besar.

Rangkaian fakta tersebut belum membuktikan bahwa "Israel" menciptakan keputusan perang AS terhadap Iran.

Namun, kasus ini menunjukkan bahwa informasi yang belum sepenuhnya terverifikasi, ketika datang dari sekutu dekat dan diterima oleh seorang presiden yang merasa dirinya menjadi target, tetap berpotensi masuk ke dalam kalkulasi politik dan militer.

(Samirmusa/arrahmah.id)