BAGHDAD (Arrahmah.id) -- 'Israel' dilaporkan membangun pangkalan militer rahasia di wilayah gurun Irak barat sebagai bagian dari operasi menghadapi Iran. Laporan tersebut diungkap The Wall Street Journal (9/5/2026) yang menyebut pangkalan itu digunakan untuk mendukung serangan udara 'Israel' terhadap Iran serta menempatkan pasukan khusus dan tim penyelamat militer. Temuan ini memicu kekhawatiran baru terkait pelanggaran kedaulatan Irak dan meluasnya konflik Timur Tengah.
Menurut laporan tersebut, pangkalan rahasia itu dibangun pada awal 2026 di wilayah gurun dekat perbatasan Irak. Lokasi tersebut dipilih karena strategis untuk mendukung operasi udara 'Israel' menuju Iran. Pangkalan itu disebut menjadi pusat logistik, tempat transit pasukan khusus, sekaligus titik evakuasi bagi pilot atau personel militer 'Israel' yang menjalankan misi di wilayah Iran.
Keberadaan pangkalan tersebut hampir terungkap pada Maret 2026 setelah seorang penggembala lokal melaporkan aktivitas militer mencurigakan, termasuk lalu lalang helikopter di kawasan gurun Irak. Pasukan Irak kemudian dikirim untuk menyelidiki area tersebut. Namun, menurut laporan Wall Street Journal, pasukan itu justru mendapat serangan udara yang diduga dilakukan 'Israel' sehingga menewaskan satu tentara Irak dan melukai dua lainnya.
Pemerintah Irak sempat mengajukan protes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait serangan terhadap tentaranya. Pada awalnya, Irak menduga Amerika Serikat terlibat dalam insiden tersebut, namun Washington membantah tuduhan itu dan menegaskan tidak ikut dalam operasi rahasia Israel di wilayah Irak.
Media Financial Times juga melaporkan bahwa Irak kini menjadi salah satu titik panas baru dalam konflik Iran-Israel. Serangkaian operasi militer rahasia, serangan udara, dan aktivitas kelompok bersenjata pro-Iran membuat situasi keamanan Irak semakin tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di Irak menuduh 'Israel' dan Amerika Serikat memperluas operasi militer mereka ke wilayah Irak. Pernyataan serupa juga muncul dari Popular Mobilization Forces (PMF) yang menyebut sejumlah markas mereka menjadi sasaran serangan udara sejak konflik Iran-Israel memanas pada Februari 2026.
Kepala Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Tomer Bar, sebelumnya sempat memberi isyarat mengenai operasi rahasia tersebut. Dalam pernyataannya yang dikutip media internasional, ia menyebut militer 'Israel' menjalankan “misi khusus yang dapat memicu imajinasi banyak orang.” Pernyataan itu kini dikaitkan dengan laporan mengenai pangkalan rahasia Israel di Irak.
Ketegangan di Irak semakin meningkat setelah sejumlah pangkalan militer, kedutaan asing, dan kelompok bersenjata di negara itu ikut terseret dampak konflik Iran-Israel. Ledakan di dekat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad hingga serangan terhadap basis milisi pro-Iran memperlihatkan bahwa Irak kembali menjadi arena perebutan pengaruh di Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
