Memuat...

CIA Ungkap: Iran Tak Tumbang Meski Diblokade AS, Perang Terancam Panjang

Samir Musa
Sabtu, 9 Mei 2026 / 22 Zulkaidah 1447 15:12
CIA Ungkap: Iran Tak Tumbang Meski Diblokade AS, Perang Terancam Panjang
Bentrokan sporadis terjadi di Selat Hormuz antara pasukan Iran dan Amerika Serikat. (Associated press)

TEHERAN (Arrahmah.id)  Analisis terbaru dari Central Intelligence Agency (CIA) memperkirakan bahwa Iran masih mampu bertahan menghadapi blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat selama sekitar empat bulan ke depan, tanpa mengalami tekanan ekonomi yang cukup untuk memaksanya menyerah.

Laporan yang dikutip oleh Reuters dari seorang pejabat AS yang mengetahui hal tersebut menyebutkan bahwa dampak tekanan Washington terhadap Teheran sejauh ini masih terbatas. Hal ini terjadi di tengah mandeknya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara kedua pihak.

Analisis tersebut juga mengindikasikan bahwa konflik tidak akan berakhir dalam waktu dekat, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus berupaya menghentikannya, terutama di tengah menurunnya popularitasnya di kalangan pemilih Amerika.

Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz

Situasi di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir mengalami eskalasi terbesar sejak gencatan senjata diberlakukan bulan lalu. Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan pada Jumat.

Pejabat AS tersebut menyebutkan bahwa Iran saat ini masih mempersiapkan respons terhadap proposal Amerika untuk mengakhiri perang, yang nantinya akan diikuti dengan jalur negosiasi mengenai isu-isu sensitif, termasuk program nuklir Iran.

Sementara itu, Reuters melaporkan terjadinya bentrokan sporadis di Selat Hormuz antara pasukan Iran dan Amerika. Washington juga mengklaim telah menargetkan dua kapal yang disebut terkait Iran saat mencoba memasuki pelabuhan Iran.

Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengutip sumber militer yang menyatakan bahwa situasi telah mereda. Namun, ia memperingatkan kemungkinan bentrokan kembali terjadi jika pasukan AS mencoba memasuki Teluk dan mengganggu jalur pelayaran Iran.

Menunggu Respons Iran

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata masih bertahan meskipun terjadi eskalasi. Washington saat ini menunggu jawaban Teheran atas proposal penghentian perang, yang akan dilanjutkan dengan pembahasan isu-isu lebih kompleks, terutama terkait program nuklir Iran.

Trump juga mengungkapkan bahwa tiga kapal perusak Angkatan Laut AS sempat diserang saat melintasi Selat Hormuz, dan pasukan Amerika membalas dengan tembakan.

Dalam pernyataannya di platform Truth Social, ia mengklaim bahwa kapal-kapal tersebut berhasil melintasi selat tanpa kerusakan, sementara pihak Iran disebut mengalami kerugian besar.

Ketegangan tidak hanya terjadi di laut. Laporan juga menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara di Uni Emirat Arab mencegat rudal dan drone yang diluncurkan dari Iran, menyebabkan sejumlah korban luka tingkat sedang, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Komando militer terpadu Iran, Markas Khatam al-Anbiya, menuduh pasukan AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran serta melakukan serangan udara di wilayah sipil di Pulau Qeshm dan kawasan pesisir sekitarnya.

Pihak Iran mengklaim telah membalas dengan menargetkan kapal militer AS di timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, serta menyebabkan “kerusakan besar”. Namun, Komando Pusat AS membantah adanya kerusakan pada armadanya.

AS Perketat Sanksi

Dalam perkembangan lain, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap 10 individu dan perusahaan di China dan Hong Kong yang dituduh membantu militer Iran memperoleh senjata dan komponen untuk produksi drone jenis “Shahed”.

Langkah ini muncul menjelang kunjungan Donald Trump ke China untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping, di tengah upaya yang masih buntu untuk mengakhiri konflik.

Departemen Keuangan AS menyatakan siap mengambil langkah tambahan untuk menargetkan basis industri militer Iran, guna mencegah Teheran membangun kembali kemampuan produksinya atau memperluas pengaruhnya di kawasan.

Washington juga mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan asing yang terlibat dalam perdagangan ilegal Iran, termasuk maskapai penerbangan, serta kemungkinan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan luar negeri—khususnya yang terkait dengan kilang minyak swasta di China.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan, “Di bawah kepemimpinan tegas Presiden Trump, kami akan terus memastikan keamanan Amerika Serikat dengan menargetkan individu dan perusahaan asing yang memasok senjata kepada militer Iran untuk digunakan melawan pasukan AS.”

(Samirmusa/arrahmah.id)