Memuat...

25 Tahun 11 September: Mengapa Barat Masih Sulit Memprediksi Serangan Teror Berikutnya?

Samir Musa
Selasa, 8 September 2026 / 27 Rabiulawal 1448 21:19
25 Tahun 11 September: Mengapa Barat Masih Sulit Memprediksi Serangan Teror Berikutnya?
Noonan: Setelah seperempat abad, New York masih menyimpan kenangan berat tentang peristiwa 11 September 2001 (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September 2001, ancaman terorisme menghadapi perubahan besar seiring pesatnya perkembangan teknologi. Tantangan bagi pemerintah Barat kini bukan hanya mencegah serangan besar seperti yang terjadi seperempat abad lalu, tetapi juga membayangkan bagaimana teknologi baru dapat dikombinasikan untuk menghasilkan bentuk serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hal tersebut disoroti dalam sebuah artikel yang dimuat Foreign Policy pada Selasa (8/9/2026). Peneliti Colin P. Clarke dan Clara Broekert menilai apa yang disebut sebagai "kegagalan imajinasi" dalam laporan Komisi 11 September masih menjadi persoalan, meskipun bentuk ancamannya telah berubah.

Menurut keduanya, lembaga-lembaga kontra-terorisme saat ini telah memahami berbagai risiko yang muncul dari perkembangan teknologi. Namun, mereka masih menghadapi kesulitan dalam membayangkan bagaimana teknologi tersebut dapat digabungkan dan dimanfaatkan dalam sebuah serangan yang tidak terduga.

Teknologi membuka medan baru

Internet disebut sebagai salah satu teknologi yang paling berpengaruh terhadap aktivitas kelompok-kelompok ekstremis. Teknologi tersebut menyediakan sarana untuk menyebarkan propaganda, melakukan perekrutan, berkomunikasi, serta menyebarkan pengetahuan.

Perkembangan itu kemudian diikuti oleh teknologi lain, termasuk komunikasi terenkripsi, mata uang virtual, pencetakan tiga dimensi, pesawat nirawak atau drone, serta kecerdasan buatan (AI).

Penggunaan drone menjadi salah satu perkembangan yang menonjol. Foreign Policy mencatat bahwa Hizbullah telah menggunakan drone sejak 2006. Teknologi tersebut kemudian diadopsi oleh berbagai kelompok bersenjata lainnya, termasuk kelompok Houthi, ISIS, dan Al-Qaeda di Semenanjung Arab.

Drone yang sebelumnya lebih banyak digunakan dalam serangan terbatas kini telah menjadi bagian dari operasi militer yang lebih kompleks. Sementara itu, perkembangan AI generatif berpotensi semakin memudahkan akses terhadap pengetahuan teknis mengenai pembuatan, modifikasi, dan pengoperasian berbagai perangkat.

AI juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan propaganda, membantu proses perencanaan, mencari kelemahan, serta menjalankan berbagai tugas organisasi dengan biaya dan waktu yang lebih rendah.

Namun, Clarke dan Broekert menilai ancaman terbesar bukan berasal dari satu teknologi tertentu.

Persoalannya justru terletak pada kemungkinan menggabungkan berbagai teknologi dalam satu operasi.

Internet menjadi pintu penghubung

Menurut kedua peneliti, internet menjadi mata rantai yang menghubungkan berbagai teknologi tersebut. Internet memungkinkan seseorang memperoleh informasi dan pengetahuan, sekaligus menyediakan sarana komunikasi, pendanaan, dan perekrutan.

Kondisi ini membuat keterlibatan seseorang dalam jaringan ekstremis tidak lagi harus melalui perjalanan ke kamp pelatihan sebagaimana yang dilakukan sejumlah pelaku serangan 11 September.

Di sisi lain, pemerintah juga mengembangkan kemampuan untuk mendeteksi dan mencegah ancaman. Sistem tersebut antara lain mencakup data biometrik, catatan perjalanan, analisis forensik, serta teknologi AI untuk mendeteksi propaganda ekstremis dan menganalisis data dalam jumlah besar.

Namun, menurut Clarke dan Broekert, tujuan realistisnya bukanlah menghilangkan penggunaan internet oleh kelompok teroris. Hal tersebut dinilai tidak mungkin dilakukan.

Sebaliknya, pemerintah perlu meningkatkan biaya dan risiko penggunaan internet untuk pendanaan, perekrutan, serta perencanaan serangan.

Upaya tersebut membutuhkan kerja sama erat antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan perusahaan teknologi.

Teknologi bukan satu-satunya jawaban

Meski demikian, artikel tersebut mengingatkan agar pemerintah tidak terlalu terfokus pada teknologi canggih.

Serangan yang paling sering terjadi di negara-negara Barat dalam beberapa tahun terakhir masih banyak menggunakan metode sederhana, seperti penusukan, penembakan, dan aksi menabrakkan kendaraan ke kerumunan.

Dalam sejumlah kasus, serangan dilakukan oleh individu yang mengalami radikalisasi dan memperoleh pengaruh ideologi ekstremis melalui internet.

Dengan demikian, teknologi baru tidak selalu menggantikan metode lama. Sebaliknya, teknologi dapat memperkuat kemampuan seseorang dalam menggunakan cara-cara sederhana.

Pada saat yang sama, teknologi juga dapat dimanfaatkan oleh aparat kontra-terorisme untuk menemukan pola, menganalisis data, dan mengganggu rencana serangan.

Karena itu, intervensi masyarakat, pengalaman manusia, serta pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya tetap dianggap penting.

Teknologi, menurut kedua peneliti, tidak semestinya menggantikan peran manusia dalam menghadapi ancaman terorisme.

Belajar dari "kegagalan imajinasi" 11 September

Seperempat abad setelah serangan 11 September, tantangan terbesar bagi pemerintah bukan sekadar memiliki teknologi yang lebih canggih, tetapi mampu membayangkan bagaimana ancaman berikutnya dapat muncul.

Clarke dan Broekert memperingatkan bahwa rasa aman yang berlebihan sama berbahayanya dengan ketakutan terhadap teknologi.

Pencegahan terhadap kejutan strategis berikutnya membutuhkan cakrawala imajinasi yang lebih luas dalam memahami ancaman, tanpa terjebak pada anggapan bahwa teknologi merupakan solusi bagi semua persoalan.

Teknologi yang diciptakan manusia dapat menjadi pengganda kekuatan bagi pihak yang menggunakannya untuk melakukan serangan. Namun, teknologi yang sama juga dapat menjadi instrumen penting dalam upaya mencegah dan menghadapi ancaman tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)