DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa memaparkan perjalanan transformasinya dari pemimpin kelompok perlawanan Suriah menjadi kepala negara dalam wawancara eksklusif bersama Al Jazeera. Dalam wawancara yang disiarkan akhir Juli 2026, Ahmad asy Syaraa menegaskan bahwa fase perjuangan bersenjata telah berakhir dan kini pemerintahannya berfokus pada rekonsiliasi nasional, pembangunan kembali Suriah, serta pembukaan hubungan diplomatik dengan dunia internasional.
Wawancara tersebut menjadi salah satu penjelasan paling terbuka dari Ahmad asy Syaraa mengenai perubahan orientasi politiknya sejak memimpin ofensif yang menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Sosok yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama Abu Muhammad al Jaulani itu pernah memimpin Hai'ah Tahrir Sham (HTS), organisasi yang berakar dari Jabhat al Nusra dan memiliki hubungan historis dengan kelompok militan Al Qaeda dan Islamic State (ISIS). Setelah menjadi pemimpin pemerintahan transisi, ia menggunakan nama aslinya, Ahmad asy Syaraa sebagai bagian dari upaya membangun legitimasi negara Suriah yang baru.
Dalam wawancara tersebut, Asy Syaraa mengakui bahwa perjalanan hidupnya mengalami perubahan besar seiring perubahan kondisi Suriah. Menurutnya, pengalaman panjang perang telah mengubah cara pandangnya terhadap masa depan negara.
"Setiap fase memiliki tuntutan yang berbeda. Dahulu kami menghadapi perang, tetapi hari ini kami menghadapi tantangan membangun negara. Tugas kami sekarang adalah menghadirkan keamanan, membangun institusi, dan melayani rakyat Suriah," ujar Ahmad asy Syaraa, dikutip dari Al Jazeera.
Asy Syaraa menjelaskan bahwa prioritas pemerintahannya saat ini adalah memulihkan stabilitas keamanan, memperbaiki perekonomian yang hancur akibat perang selama lebih dari satu dekade, serta mengembalikan jutaan pengungsi Suriah ke tanah air mereka. Ia menilai keberhasilan pemerintahan tidak lagi diukur dari kemenangan militer, melainkan dari kemampuan menyediakan lapangan pekerjaan, pelayanan publik, dan kepastian hukum bagi masyarakat.
Dalam wawancara yang sama, Asy Syaraa juga mengungkapkan bahwa Damaskus sedang menjajaki kesepakatan keamanan dengan Israel melalui mediasi sejumlah negara. Menurutnya, pembicaraan tersebut bertujuan menciptakan stabilitas kawasan tanpa mengorbankan klaim Suriah atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
"Kami berupaya mencapai kesepakatan keamanan yang dapat membuka jalan menuju perdamaian yang lebih menyeluruh, tanpa mengorbankan hak Suriah atas Dataran Tinggi Golan. Kami memilih menghindari konfrontasi dan mengutamakan diplomasi," kata Asy Syaraa.
Selain membahas hubungan dengan Israel, Asy Syaraa menepis spekulasi mengenai kemungkinan intervensi militer Suriah ke Lebanon. Ia menegaskan pemerintahannya lebih memilih membantu Beirut melalui kerja sama politik dan ekonomi dibanding pendekatan militer. Sikap tersebut menunjukkan perubahan signifikan dibanding dinamika konflik regional pada masa perang saudara Suriah, ketika berbagai kelompok bersenjata terlibat dalam pertempuran lintas batas.
Transformasi Asy Syaraa menjadi salah satu perubahan politik paling dramatis di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Lahir di Riyadh pada 1982 dan dibesarkan di Damaskus, ia pernah bergabung dengan kelompok bersenjata setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003. Selanjutnya ia memimpin Jabhat al-Nusra, utusan Islamic State Iraq, sebelum mendirikan HTS dan memutus hubungan organisasi tersebut dengan Al Qaeda. Setelah menggulingkan pemerintahan Assad, Asy Syaraa beralih dari figur militer menjadi pemimpin politik yang aktif membangun hubungan dengan negara-negara Arab, Turki, Eropa, hingga Amerika Serikat.
Meski demikian, perjalanan politik Asy Syaraa masih menjadi perdebatan di tingkat internasional. Sejumlah negara Barat menyambut langkah pemerintah Suriah yang mulai membuka diri terhadap diplomasi dan reformasi ekonomi. Namun, organisasi hak asasi manusia tetap menyoroti pentingnya akuntabilitas atas pelanggaran yang terjadi selama konflik serta perlunya proses transisi politik yang inklusif. (hanoum/arrahmah.id)
