TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz mengancam perang skala penuh terhadap Otoritas Palestina (PA) jika badan keamanan Palestina dinilai sedang mempersiapkan serangan terhadap pasukan 'Israel' atau permukiman Yahudi seperti serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ancaman itu disampaikan Senin (7/9/2026), beberapa jam setelah seorang warga 'Israel' terluka parah dalam serangan penikaman di sebuah pos permukiman di Tepi Barat yang diduduki.
Katz mengatakan perang tersebut dapat diarahkan terhadap kepemimpinan senior dan aparat Otoritas Palestina, selain infrastruktur yang disebut Israel sebagai jaringan teror. Ia juga memperingatkan kemungkinan operasi militer yang menyebabkan pengungsian penduduk dari kota dan desa yang dianggap menjadi basis aktivitas tersebut. Katz mengatakan Netanyahu dan dirinya telah memerintahkan militer 'Israel' untuk bersiap menghadapi skenario itu.
“Jika mekanisme keamanan Otoritas Palestina dan badan-badan terkait memulai, atau kami mengetahui dengan pasti bahwa mereka akan melancarkan serangan teror bergaya 7 Oktober terhadap pasukan IDF dan permukiman Yahudi, perdana menteri dan saya telah menginstruksikan IDF untuk bersiap membuka perang skala penuh,” kata Israel Katz dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera (7/9).
Pernyataan tersebut muncul setelah seorang warga 'Israel' berusia sekitar 20 tahun ditikam di sebuah pos pertanian dekat Qusra, di kawasan Nablus, Tepi Barat bagian utara. Menurut militer 'Israel' dan layanan medis setempat, korban mengalami beberapa luka tusuk dan berada dalam kondisi sedang hingga serius. Pasukan 'Israel' kemudian mengejar dan menembak pelaku hingga tewas.
Kementerian Kesehatan Palestina mengidentifikasi korban yang ditembak tersebut sebagai seorang pria Palestina berusia 34 tahun. Militer 'Israel' menyatakan pelaku juga berusaha menyerang tentara ketika ditemukan dalam pengejaran.
Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu kemudian mengatakan 'Israel' akan terus mengejar pelaku serangan di Tepi Barat.
“Kami akan terus melenyapkan teroris, memburu mereka yang mengirim mereka, dan menghancurkan infrastruktur teror di Yudea dan Samaria,” kata Netanyahu, menggunakan istilah Alkitabiah yang lazim digunakan pemerintah 'Israel' untuk menyebut Tepi Barat.
Katz juga menegaskan bahwa kebijakan 'Israel' di Tepi Barat tetap mencakup pengejaran terhadap apa yang disebutnya “terorisme Palestina”, pengembangan permukiman Yahudi dan pemeliharaan stabilitas keamanan.
Pernyataan tersebut muncul meskipun sebagian besar negara dan badan-badan internasional menganggap permukiman 'Israel' di wilayah yang diduduki sejak 1967 bertentangan dengan hukum internasional, posisi yang ditolak 'Israel' dengan menyatakan wilayah tersebut masih berstatus sengketa.
Ancaman Katz juga mendapat kritik dari sejumlah politisi 'Israel'. Gilad Kariv, politikus dari Partai Demokrat Israel, menilai pernyataan tersebut berisiko memperburuk situasi keamanan. Pemimpin Partai Demokrat Yair Golan juga memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat memicu intifada Palestina ketiga dan menilai Katz serta Netanyahu tidak layak mengelola keamanan 'Israel'. (hanoum/arrahmah.id)
