BELGRADE (Arrahmah.id) -- Laga akbar sepak bola Serbia antara Red Star Belgrade dan Partizan di Stadion Rajko Mitić, Belgrade, Ahad (6/9/2026), dibuka dengan mengheningkan cipta untuk Ratko Mladić, mantan komandan militer Serbia-Bosnia yang dihukum seumur hidup karena genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Penghormatan tersebut memicu kontroversi karena Mladić merupakan tokoh yang dinyatakan bertanggung jawab atas sejumlah kejahatan kemanusiaan selama Perang Bosnia, termasuk genosida Muslim Srebrenica.
Mengheningkan cipta dilakukan sebelum pertandingan “Eternal Derby” ke-180 antara dua klub terbesar Serbia tersebut. Pada saat yang sama, pendukung Red Star membentangkan koreografi raksasa bergambar Mladić di tribun utara stadion, sementara suporter dari kedua klub meneriakkan namanya. Pertandingan kemudian berakhir dengan kemenangan Red Star 2-1 atas Partizan.
Penghormatan itu tidak berhenti pada satu menit hening. Menurut laporan BBC (7/9), setelah prosesi tersebut penyiar stadion mengatakan, “Semoga kemuliaan abadi menjadi miliknya.” Pernyataan tersebut disampaikan oleh penyiar stadion, yang identitasnya tidak disebutkan dalam laporan, sebelum pertandingan dilanjutkan.
Di tribun Red Star juga terlihat spanduk bertuliskan “Pravac Potočari” atau “Menuju Potočari”. Slogan tersebut merujuk pada ucapan Mladić ketika pasukan Serbia-Bosnia memasuki kawasan Srebrenica pada Juli 1995. Beberapa hari setelah itu, pasukan di bawah komandonya membunuh sekitar 8.000 laki-laki dan anak laki-laki Muslim Bosnia dalam pembantaian Srebrenica, yang oleh pengadilan internasional dinyatakan sebagai genosida.
Penghormatan di stadion Belgrade tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah UEFA menjatuhkan denda kepada Red Star akibat perilaku pendukungnya dalam pertandingan Liga Europa melawan Viktoria Plzeň di Republik Ceko pada 27 Agustus. UEFA menjatuhkan denda sebesar €90.000, selain sanksi terkait kehadiran pendukung pada pertandingan tandang berikutnya, setelah suporter meneriakkan nama Mladić, melakukan salam penghormatan dan membentangkan spanduk yang memujinya.
Kontroversi semakin besar karena penghormatan kepada Mladić berlangsung ketika Serbia sedang menghadapi kembali perdebatan mengenai warisan Perang Bosnia dan penerimaan terhadap kejahatan perang. Al Jazeera melaporkan bahwa penghormatan terhadap Mladić di kalangan suporter Red Star bukan fenomena baru. Pada pertandingan sebelumnya, kelompok pendukung klub juga pernah menampilkan pesan yang memuliakan mantan jenderal tersebut.
Mladić meninggal pada 27 Agustus 2026 di tahanan PBB di Den Haag pada usia 84 tahun ketika menjalani hukuman penjara seumur hidup. Pengadilan PBB menyatakan ia bersalah atas genosida di Srebrenica serta berbagai kejahatan selama perang Bosnia 1992–1995, termasuk perannya dalam pengepungan Sarajevo. (hanoum/arrahmah.id)
