Memuat...

22 Napi Meninggal di Penjara Tunisia, Gelombang Panas Disorot

Hanoum
Selasa, 8 September 2026 / 27 Rabiulawal 1448 05:55
22 Napi Meninggal di Penjara Tunisia, Gelombang Panas Disorot
Penjara di Tunisia. [Foto: Barlaman Today]

TUNIS (Arrahmah.id) -- Sebanyak 22 narapidana Tunisia, yang sebagian besar disebut sebagai tahanan politik, dilaporkan meninggal di sejumlah penjara selama Juli dan Agustus 2026. Observatorium Kebebasan Tunisia menyebut kematian tersebut terjadi di tengah gelombang panas ekstrem, buruknya ventilasi sel, kepadatan penghuni, serta keterbatasan air minum.

Laporan tersebut muncul ketika Tunisia menghadapi salah satu gelombang panas terberat pada musim panas ini. Suhu di sejumlah wilayah dilaporkan mendekati 50 derajat Celsius, sementara pemadaman listrik dan gangguan pasokan air turut memperburuk kondisi masyarakat, termasuk mereka yang berada di balik tembok penjara.

Dilansir Barlaman Today (4/9/2026), yang mengutip informasi kelompok hak asasi manusia Tunisia, kondisi penjara menjadi sangat berat karena sel-sel yang penuh sesak memiliki ventilasi terbatas. Kekurangan air minum juga disebut menjadi persoalan serius ketika suhu meningkat tajam.

Bassem Trifi, Presiden Liga Tunisia untuk Hak Asasi Manusia (LTDH), sebelumnya mengatakan organisasinya mendokumentasikan kematian narapidana berdasarkan informasi dari dokter, pengacara, dan keluarga mereka. Dalam laporan terpisah, Trifi menyebut kondisi penjara diperburuk oleh kepadatan, ventilasi yang buruk, serta lemahnya layanan kesehatan.

“Kondisi penjara Tunisia tidak manusiawi, dengan kepadatan, kurangnya ventilasi, penyebaran penyakit, dan lemahnya layanan kesehatan,” kata Bassem Trifi .

Kekhawatiran terhadap kondisi tahanan sebenarnya telah muncul sebelum laporan mengenai 22 kematian tersebut. Pada Juli, pengacara Haifa Chabi mengatakan ia melihat pemimpin Ennahda, Rached Ghannouchi, pingsan di penjara akibat panas. Al Jazeera melaporkan suhu di beberapa wilayah Tunisia saat itu mendekati 50 derajat Celsius.

“Saya melihat Rached Ghannouchi pingsan di penjara karena panas,” kata Haifa Chabi dalam kesaksiannya yang dikutip Al Jazeera. Ghannouchi, tokoh politik Tunisia berusia 85 tahun, merupakan salah satu tahanan politik paling senior di negara tersebut.

Pada akhir Agustus, sejumlah organisasi hak asasi manusia juga melaporkan kematian narapidana di beberapa wilayah. Al Jazeera mencatat lima tahanan meninggal dalam satu hari di penjara-penjara sekitar Tunis, empat lainnya meninggal di Monastir, dan satu kematian dilaporkan di Gafsa. Dua tahanan di Mahdia juga harus mendapatkan perawatan intensif.

Kelompok Intersection Association for Rights and Freedoms sebelumnya juga mendokumentasikan empat kematian mencurigakan di penjara Tunisia selama Juli, masing-masing dua di Penjara Gabes dan satu di Penjara Borj El Amri serta Penjara M'saadine. Organisasi itu mengaitkan kondisi tersebut dengan kombinasi gelombang panas, pemadaman listrik, kepadatan penjara, ventilasi buruk, serta keterbatasan layanan kesehatan.

Krisis penjara tersebut berlangsung bersamaan dengan tekanan lebih luas akibat cuaca ekstrem. The National melaporkan suhu di Kairouan mencapai 49,8 derajat Celsius pada akhir Agustus, sementara beberapa kota Tunisia masuk daftar lokasi terpanas di dunia. Gelombang panas juga terjadi bersamaan dengan gangguan listrik dan kekurangan air di berbagai wilayah.

Masalah pasokan air bahkan berkembang menjadi krisis nasional. Le Monde melaporkan bahwa pada Agustus terjadi kelangkaan air kemasan yang diperburuk oleh tingginya suhu dan pemadaman listrik yang mengganggu produksi. Pemerintah menyebut tingginya permintaan akibat cuaca panas dan gangguan energi sebagai faktor utama.

Organisasi Tunisian Organization of Young Doctors juga menyerukan agar pemerintah menetapkan keadaan darurat kesehatan. Organisasi tersebut menyatakan telah terdapat kematian dan kasus sengatan panas, tetapi pemerintah belum mempublikasikan angka resmi mengenai dampak gelombang panas terhadap kesehatan masyarakat. (hanoum/arrahmah.id)