SANA'A (Arrahmah.id) - Kemajuan pesat kelompok Houtsi di sepanjang pesisir Laut Merah dan penguasaan sejumlah pulau di sekitar Selat Bab al-Mandab disebut mengungkap kelemahan strategi Arab Saudi dalam perang Yaman.
Menurut laporan The New Arab pada Rabu (16/9/2026), sejumlah pejabat dan sumber Barat, regional, serta Yaman menilai keberhasilan Houtsi dipengaruhi perpecahan faksi-faksi anti-Houtsi, lemahnya struktur komando baru yang dipimpin Saudi, dukungan udara yang terbatas, serta kegagalan memperkirakan persiapan Houtsi.
Seorang diplomat mengatakan Houtsi secara diam-diam telah mengumpulkan sekitar 100.000 prajurit. “Semua orang, termasuk Saudi, melewatkan pembangunan kekuatan ini dan salah menghitung niat Houtsi,” katanya.
Neil Quilliam dari Chatham House menyebut perkembangan tersebut sebagai kegagalan intelijen yang mencolok. Analis politik Yaman Farea Al-Muslimi juga mengatakan Saudi “terkejut” oleh perkembangan di Yaman.
Mundurnya pasukan yang didukung Saudi juga membuat Houtsi memperoleh persenjataan yang ditinggalkan di medan perang, termasuk sejumlah peralatan yang dipasok Amerika Serikat dan Saudi. Sumber-sumber regional menilai persenjataan tersebut dapat memperkuat kemampuan militer Houtsi sekaligus memberi mereka informasi mengenai peralatan lawan.
Saudi Cari Dukungan Mesir
Di tengah situasi tersebut, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo untuk membahas kerja sama militer.
Dua sumber regional yang mengetahui pertemuan itu mengatakan Riyadh meminta Mesir berperan dalam operasi di Laut Merah. Salah satu sumber menyebut MBS meminta dukungan militer Mesir terkait Yaman, meski belum ada kepastian apakah Kairo akan memenuhi permintaan tersebut.
Pertemuan itu sebenarnya telah dijadwalkan sebelum perang AS-'Israel' melawan Iran dimulai pada Februari. Namun, perkembangan terbaru di Yaman turut menjadi bagian pembahasannya.
Upaya Saudi mencari dukungan baru dilakukan setelah Washington menolak terlibat langsung secara militer dalam perang melawan Houtsi. Dua pejabat Barat mengatakan AS dan negara-negara Eropa juga belum siap memberikan dukungan militer langsung kepada Saudi.
Houtsi Dorong Konsesi Politik
Kemajuan militer Houtsi juga dinilai memberi kelompok tersebut posisi lebih kuat untuk menekan Riyadh.
Mantan negosiator AS Dennis Ross mengatakan Houtsi menginginkan Saudi mencabut pembatasan terhadap Pelabuhan Hodeidah dan Bandara Sanaa, memberikan kompensasi atas perang, serta mengurangi dukungan terhadap pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Seorang pejabat Teluk mengatakan Riyadh kini menghadapi pilihan yang semakin terbatas. Membiarkan Houtsi mempertahankan wilayah yang direbut berisiko memberi mereka pengaruh strategis jangka panjang, sementara serangan militer yang lebih besar dapat memicu serangan balasan lebih jauh ke wilayah Saudi.
Penguasaan wilayah di sekitar Bab al-Mandab, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, juga memiliki arti strategis bagi perdagangan dan energi global.
Bersama pengaruh Iran atas Selat Hormuz, posisi Houtsi di Bab al-Mandab dinilai dapat memberi Iran dan sekutunya pengaruh terhadap dua jalur maritim penting bagi pasokan energi dunia.
Sejumlah analis menilai perkembangan tersebut juga memperlihatkan keterbatasan dukungan keamanan AS kepada Saudi. Farea Al-Muslimi mengatakan keengganan Washington membantu mempertahankan wilayah Saudi menjadi salah satu ujian terbesar bagi hubungan keamanan kedua negara dalam beberapa dekade.
Sementara itu, pengalaman panjang berbagai negara asing yang gagal mencapai tujuan militernya di Yaman membuat sejumlah negara regional disebut berhati-hati untuk terlibat lebih jauh dalam konflik tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
