KABUL (Arrahmah.id) - Jet tempur Pakistan melancarkan serangan udara pada Senin (21/9/2026) terhadap lokasi yang oleh pejabat keamanan diklaim sebagai tempat persembunyian militan di Afghanistan timur, dan mengklaim bahwa 28 militan tewas dalam serangan tersebut.
Pihak berwenang di Kabul menyatakan setidaknya tiga orang tewas.
Serangan di dekat perbatasan kedua negara ini menandai kembali meningkatnya ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan, memicu kekhawatiran akan permusuhan lintas batas lebih lanjut serta mengancam upaya mediasi yang dilakukan negara-negara kawasan—termasuk Cina—antara Islamabad dan Kabul, lansir AP (21/9).
Serangan udara ini terjadi setelah Pakistan memperingatkan kemungkinan menargetkan militan di dalam wilayah Afghanistan, menyusul dua serangan mematikan terhadap pasukan keamanannya di dekat perbatasan dalam beberapa hari terakhir.
Serangan militan yang menyasar polisi dan pasukan keamanan Pakistan telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Eskalasi ini terjadi setelah berbulan-bulan berlangsungnya aksi militer. Ratusan orang tewas dalam pertempuran lintas batas sejak Februari, saat Afghanistan melancarkan serangan balasan setelah Pakistan melakukan serangan udara di wilayah Afghanistan.
Pihak berwenang di Islamabad menuding Taliban Pakistan dan kelompok militan sekutunya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sebagian besar kekerasan tersebut. Taliban Pakistan merupakan kelompok yang terpisah dari, namun bersekutu dengan, Taliban Afghanistan yang kembali berkuasa pada 2021.
Dua pejabat keamanan Pakistan menyatakan bahwa 28 orang yang diduga militan tewas dalam serangan udara pada Senin tersebut. Namun, pemerintah Afghanistan menyatakan bahwa serangan itu menewaskan tiga warga sipil dan melukai empat orang lainnya.
Para pejabat Pakistan tersebut berbicara dengan syarat anonimitas karena mereka tidak memiliki wewenang untuk memberikan pernyataan kepada publik. Militer Pakistan tidak segera mengeluarkan pernyataan mengenai serangan tersebut.
Dalam sebuah unggahan di platform X, juru bicara Imarah Islam Afghanistan, Zabiullah Mujahid, mengecam serangan udara tersebut dan menyatakan akan ada tindakan balasan.
"Kami mengecam agresi dan penindasan ini, serta menganggapnya sebagai pengulangan kejahatan serupa. Kalangan militer Pakistan sekali lagi melakukan kejahatan semacam itu untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan keamanan di negara mereka sendiri," tulisnya.
Wakil juru bicara pemerintah Afghanistan, Hamdullah Fitrat, mengatakan serangan terjadi sekitar pukul 03.00 pagi di distrik Nurgal, Provinsi Kunar, dan distrik Barmal, Provinsi Paktika. Mengutip informasi awal, Fitrat menyebutkan bahwa sebuah rumah milik warga desa bernama Noor Ahmad di Desa Pathan, Nurgal, hancur; peristiwa itu menewaskan Ahmad beserta dua anggota keluarganya dan melukai empat kerabat lainnya.
Fitrat mengatakan serangan di wilayah Rakhah dan Tor Kundi di Barmal menghancurkan sebuah toko dan sebuah rumah tak berpenghuni, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Serangan tersebut terjadi sehari setelah enam personel keamanan Pakistan, termasuk dua perwira angkatan darat, tewas dalam baku tembak dengan militan di Hangu, sebuah distrik di provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan barat laut, dekat perbatasan Afghanistan.
Serangan itu juga menyusul serangan mematikan pada Jumat di kota Kohat, Pakistan, di mana seorang pengebom bunuh diri menyerang sebuah masjid di dalam kompleks kepolisian dan delapan orang bersenjata menyerbu kantor-kantor, memicu baku tembak selama 20 jam. Setidaknya 21 orang, sebagian besar petugas polisi, tewas dan lebih dari 100 orang terluka, menurut keterangan pejabat Pakistan.
Kementerian Informasi Pakistan pada Sabtu memperingatkan bahwa negara itu dapat menyerang militan di dalam wilayah Afghanistan sebagai tanggapan atas serangan-serangan di Pakistan. Kementerian tersebut menuding militan yang berbasis di Afghanistan sebagai pelaku serangan Kohat dan menuduh Imarah Islam Afghanistan melindungi serta mendukung kelompok-kelompok yang melancarkan serangan di Pakistan.
"Pakistan memiliki tekad maupun kemampuan untuk melenyapkan ancaman teroris di mana pun mereka berada," demikian pernyataan kementerian tersebut.
Kementerian itu juga mendesak Kabul untuk mengambil "langkah-langkah yang kredibel, dapat diverifikasi, dan berkelanjutan" guna membongkar apa yang disebut Pakistan sebagai tempat perlindungan militan serta jaringan perekrutan dan pelatihan mereka di Afghanistan.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Kohat maupun Hangu hingga saat serangan hari Senin itu terjadi. Kecurigaan tertuju pada Taliban Pakistan—yang secara resmi dikenal sebagai Tehrik-e-Taliban Pakistan atau TTP—kelompok yang telah meningkatkan serangan terhadap polisi dan aparat keamanan lainnya di Pakistan dalam beberapa tahun terakhir. (haninmazaya/arrahmah.id)
