Setiap tanggal 2 Mei, panggung-panggung itu kembali berdiri. Spanduk ucapan terbentang rapi, pidato-pidato penuh harapan menggema, dan seremoni berlangsung seolah negeri ini baik-baik saja. Namun di balik kemeriahan itu, ada kegelisahan yang tak bisa lagi disembunyikan. Sebab di saat yang sama, ruang-ruang pendidikan justru sedang retak perlahan, tapi pasti.
Investigasi berbagai laporan media nasional memperlihatkan fakta yang tak nyaman. Di Bantul, seorang remaja kehilangan nyawanya akibat pengeroyokan oleh sesama pelajar, usia yang seharusnya diisi dengan belajar, justru diwarnai kekerasan mematikan.
Di Kendari, aparat menemukan pelajar yang terlibat dalam jaringan narkotika, bukan sekadar sebagai korban, tetapi juga pelaku.
Sementara itu, di ruang digital yang tak berbatas, percakapan mahasiswa dari kampus ternama berubah menjadi ruang pelecehan verbal, perempuan direduksi menjadi objek, tanpa rasa bersalah.
Ini bukan sekadar insiden terpisah. Ia adalah potongan-potongan realitas yang jika dirangkai, membentuk satu kesimpulan pahit: dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja.
Masalah tidak berhenti pada kekerasan dan penyimpangan perilaku. Di ruang akademik, integritas perlahan terkikis. Praktik joki UTBK, plagiarisme, hingga bisnis pengerjaan tugas bukan lagi cerita pinggiran, ia telah menjadi fenomena yang kian dianggap biasa. Nilai tinggi lebih dikejar daripada proses yang jujur. Gelar lebih dihargai daripada ilmu yang diperjuangkan.
Relasi antara murid dan guru pun tak luput dari perubahan drastis. Otoritas moral guru kian melemah. Disiplin sering disalahpahami sebagai pelanggaran. Bahkan tak sedikit kasus yang berujung pada pelaporan hukum terhadap guru yang mencoba menegakkan aturan. Pendidikan kehilangan salah satu pilar terpentingnya: keteladanan dan penghormatan.
Semua fakta ini mengarah pada satu kesimpulan yang tak bisa dihindari, ini bukan sekadar krisis perilaku, tetapi krisis sistemik.
Sistem Sekuler Kapitalistik dan Lahirnya Generasi Tanpa Arah
Akar persoalan ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh dari sistem pendidikan yang kehilangan pijakan ideologis. Pendidikan hari ini berjalan dalam kerangka sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan, sekaligus menjadikan materi sebagai tujuan utama.
Dalam sistem seperti ini, pendidikan direduksi menjadi alat produksi tenaga kerja. Sekolah dan kampus tidak lagi berfungsi sebagai tempat membentuk manusia beradab, tetapi sebagai “pabrik” yang mencetak individu siap pakai untuk memenuhi kebutuhan pasar. Nilai diukur dari angka, capaian dilihat dari gelar, dan kesuksesan ditentukan oleh materi.
Dari sinilah lahir generasi yang cenderung pragmatis dan instan. Mereka ingin hasil cepat tanpa proses panjang. Mereka mengejar kesuksesan, tetapi kehilangan arah tentang makna hidup itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kecurangan bukan lagi dianggap sebagai pelanggaran serius, melainkan sekadar “strategi”.
Lebih parah lagi, longgarnya sanksi terhadap pelanggaran terutama karena pelaku masih di bawah umur seringkali berujung pada toleransi terhadap kriminalitas. Kenakalan remaja menjadi label yang menutupi realitas kejahatan.
Sementara itu, minimnya pendidikan nilai agama yang benar membuka ruang kebebasan tanpa batas. Tanpa kontrol moral yang kuat, kebebasan ini berubah menjadi pintu masuk bagi berbagai penyimpangan.
Hasil akhirnya adalah generasi yang tampak cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral juga kehilangan kompas kehidupan.
Membangun Kembali Pendidikan Berbasis Akidah
Jika akar masalahnya adalah sistem, maka solusi yang ditawarkan tidak bisa bersifat tambal sulam. Ia harus menyentuh fondasi paling dasar.
Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar sarana meraih pekerjaan, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya. Negara memiliki tanggung jawab penuh untuk menjamin pendidikan sebagai kebutuhan mendasar setiap individu. Pendidikan tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan pasar, tetapi harus berlandaskan akidah.
Dengan asas ini, pendidikan akan melahirkan insan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertakwa. Standar benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh keuntungan materi, melainkan oleh halal dan haram.
Fokus utama pendidikan Islam adalah pembentukan syakhsiyah Islamiyah, kepribadian yang menyatukan pola pikir dan pola sikap secara selaras. Dengan kepribadian ini, pelajar tidak hanya tahu apa yang benar, tetapi juga terdorong untuk melakukannya. Kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah menjadi benteng utama dari segala bentuk penyimpangan.
Islam juga menetapkan sistem sanksi yang tegas terhadap pelanggaran, termasuk yang dilakukan oleh pelajar. Sanksi ini bukan sekadar hukuman, tetapi berfungsi sebagai pencegah dan penebus, sehingga kejahatan tidak berulang.
Lebih luas lagi, negara akan membangun ekosistem kehidupan yang sarat dengan nilai ketakwaan. Keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan berjalan dalam satu arah yang mampu mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sinergi inilah yang akan melahirkan generasi yang kuat, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara moral dan spiritual.
Untuk itu, Hardiknas tidak boleh lagi sekadar menjadi panggung seremoni yang meninabobokan. Ia harus berubah menjadi titik kejujuran saat kita berani mengakui bahwa ada yang salah, bukan hanya pada gejala, tetapi pada akar yang selama ini kita biarkan tumbuh tanpa arah. Sebab jika kita terus menutup mata, maka yang hilang bukan hanya kualitas pendidikan, tetapi masa depan generasi itu sendiri.
Hari ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar nilai ujian, gelar, atau prestasi. Yang dipertaruhkan adalah jati diri generasi apakah mereka akan tumbuh sebagai manusia yang berilmu dan beradab, atau justru menjadi generasi yang cerdas namun kehilangan nurani.
Kesadaran ini tidak bisa ditunda. Perubahan tidak akan lahir dari seremoni, tetapi dari keberanian untuk kembali pada fondasi yang benar. Pendidikan harus dikembalikan pada tujuan hakikinya: membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, memahami tujuan hidupnya, dan berjalan di atas kebenaran.
Jika tidak, maka setiap peringatan hanya akan menjadi pengulangan tanpa makna sementara krisis terus membesar, dan kita hanya menjadi saksi yang terlambat menyadari. Saatnya umat bangkit, membuka mata, dan menuntut perubahan yang mendasar. Bukan sekadar memperbaiki wajah pendidikan, tetapi mengembalikan ruhnya.
Wallahua'lam bis shawwab.
