Memuat...

Koordinasi Yordania–Suriah Gencar Perangi Narkoba, Tuduhan Muncul terhadap “Jaringan Kaptagon Baru” di Selatan Suriah

Samir Musa
Ahad, 10 Mei 2026 / 23 Zulkaidah 1447 18:49
Koordinasi Yordania–Suriah Gencar Perangi Narkoba, Tuduhan Muncul terhadap “Jaringan Kaptagon Baru” di Selatan Suriah
Sumber-sumber Yordania mengindikasikan bahwa kelompok Hikmat al-Hijri kini berada di garis depan dalam aktivitas perdagangan narkoba di wilayah selatan Suriah (sumber terbuka).

DAMASKUS (Arrahmah.id) – Setelah beberapa bulan berlalu sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad, tanda-tanda perubahan besar mulai terlihat dalam peta perdagangan narkoba di Suriah. Sejumlah pihak menyebut bahwa fase baru telah dimulai, di mana berbagai kelompok berusaha mengambil alih jaringan “ekonomi kaptagon” yang sebelumnya berkembang di bawah sistem lama selama masa perang, lansir Al Jazeera.

Dalam konteks ini, sumber-sumber keamanan Yordania menyebut adanya peningkatan aktivitas kelompok yang dikaitkan dengan Hikmat al-Hijri. Kelompok ini dituding memanfaatkan runtuhnya struktur lama negara untuk membangun kembali jaringan penyelundupan narkoba, khususnya di wilayah selatan Suriah yang berbatasan langsung dengan Yordania.

Seiring perkembangan tersebut, hubungan kerja sama antara Yordania dan Suriah disebut memasuki tahap baru. Kedua negara dikabarkan telah menyepakati bentuk koordinasi keamanan bersama yang bertujuan menekan perdagangan narkoba lintas batas, yang kini menjadi salah satu tantangan paling serius di kawasan.

Dalam sebuah artikel opini yang ditulis oleh jurnalis Fahd al-Khitan, dikutip dari sumber pejabat Yordania, disebutkan bahwa mekanisme koordinasi antara Amman dan Damaskus berjalan cukup efektif. Pejabat tersebut menegaskan adanya “kemauan politik bersama” untuk memberantas ancaman narkoba yang diwariskan dari periode sebelumnya, yang tidak hanya berdampak pada Suriah tetapi juga negara-negara tetangga.

Sumber yang sama menjelaskan bahwa kedua negara kini memiliki saluran khusus pertukaran informasi serta sistem peringatan dini yang digunakan untuk melacak pergerakan jaringan penyelundup di wilayah selatan Suriah. Sistem ini memungkinkan pemantauan aktivitas kelompok-kelompok yang dicurigai terlibat dalam perdagangan narkoba lintas perbatasan.

Selain itu, kerja sama tersebut juga telah membuka peluang bagi pelaksanaan operasi gabungan. Sejumlah operasi dilaporkan berhasil menggagalkan upaya penyelundupan dalam jumlah besar, termasuk pil kaptagon dan bahan narkotika lain sebelum memasuki wilayah Yordania. Operasi ini juga disebut berhasil membongkar jaringan yang terlibat dalam produksi, distribusi, serta dukungan logistik.

Dalam perkembangan yang sama, sumber keamanan menyebut bahwa serangan udara yang dilakukan oleh angkatan udara Yordania dalam beberapa waktu terakhir merupakan bagian dari koordinasi bersama melalui pusat komando terpadu. Hal ini disebut sebagai perubahan signifikan dibandingkan masa sebelumnya, ketika informasi hanya bersifat satu arah dan tidak terkoordinasi.

Warisan “Ekonomi Kaptagon” di Suriah

Selama bertahun-tahun konflik di Suriah, negara tersebut disebut menjadi salah satu pusat utama produksi narkotika dunia. Laporan internasional memperkirakan bahwa jaringan yang terkait dengan rezim sebelumnya bertanggung jawab atas sebagian besar produksi kaptagon global, dengan angka mencapai sekitar 80 persen.

Namun, meskipun rezim telah runtuh, aktivitas perdagangan narkoba tidak serta-merta berhenti. Sebaliknya, jaringan tersebut diduga kembali terbentuk dalam pola baru dengan aktor-aktor berbeda yang mengisi kekosongan kekuasaan di sejumlah wilayah.

Sumber-sumber Yordania menyoroti perkembangan di Provinsi Suwayda sebagai salah satu titik penting dalam dinamika ini. Peristiwa yang terjadi pada musim panas lalu disebut memperlihatkan bagaimana kelompok yang dikaitkan dengan Hikmat al-Hijri mulai memainkan peran dominan dalam aktivitas perdagangan narkoba di wilayah tersebut.

Menurut sumber yang sama, kelompok tersebut diduga memberikan perlindungan kepada jaringan penyelundup narkoba dengan imbalan dukungan finansial untuk memperkuat aktivitas mereka, termasuk pendanaan kelompok bersenjata dan penguatan pengaruh lokal.

Beberapa pejabat Yordania juga menilai bahwa penolakan kelompok tersebut untuk mengikuti peta jalan kerja sama Yordania–AS–Suriah yang ditandatangani di Amman menjadi salah satu faktor yang memicu kembali meningkatnya aktivitas penyelundupan narkoba di wilayah Suwayda.

Berdasarkan estimasi sumber resmi, aktivitas penyelundupan narkoba di sepanjang perbatasan dilaporkan meningkat hingga sekitar 400 persen sejak kelompok tersebut memperkuat kendali di wilayah itu.

Dimensi Keamanan dan Dampak Regional

Menurut penilaian Amman, meningkatnya aktivitas narkoba di selatan Suriah tidak hanya merupakan persoalan kriminal biasa, tetapi telah berkembang menjadi ancaman strategis yang lebih luas. Hal ini disebabkan karena jaringan narkoba dinilai dapat membentuk kekuatan paralel yang berpotensi melemahkan negara dan mengganggu stabilitas kawasan.

Laporan keamanan juga menyebut adanya kekhawatiran terkait kemungkinan keterkaitan antara jaringan tersebut dengan kepentingan pihak eksternal, termasuk Israel, dalam upaya membentuk zona pengaruh di wilayah selatan Suriah.

Yordania menegaskan bahwa situasi ini memberikan tekanan langsung terhadap keamanan nasionalnya, terutama di wilayah perbatasan utara, baik melalui penyelundupan narkoba maupun potensi dampak keamanan lainnya.

Oleh karena itu, Amman menilai bahwa kelanjutan koordinasi dengan Damaskus menjadi elemen penting dalam upaya membendung ancaman tersebut. Di tengah meningkatnya kekhawatiran, kawasan selatan Suriah kembali disebut sebagai titik rawan utama dalam jaringan perdagangan narkoba lintas batas di Timur Tengah.

(Samirmusa/arrahmah.id)