Memuat...

Maskapai 'Israel' El Al Buka Penerbangan Langsung ke Argentina, Ada Apa?

Zarah Amala
Selasa, 19 Mei 2026 / 3 Zulhijah 1447 11:15
Maskapai 'Israel' El Al Buka Penerbangan Langsung ke Argentina, Ada Apa?
El Al akan meluncurkan penerbangan terpanjangnya ke Buenos Aires dengan dukungan pemerintah sebesar 20 juta shekel (Reuters)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Maskapai penerbangan nasional 'Israel', El Al, kembali membuka pemesanan tiket penerbangan langsung ke Argentina pada Mei ini. Proyek rute udara yang menghubungkan Tel Aviv dengan ibu kota Buenos Aires tersebut dijadwalkan meluncur pada akhir November 2026, dan akan menjadi rute penerbangan terpanjang dalam sejarah maskapai tersebut.

Namun, proyek ini dinilai tidak murni lahir dari kalkulasi bisnis komersial, melainkan erat dengan agenda politik. Dalam sebuah seremoni di Yerusalem pada 20 April lalu, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu menyambut Presiden Argentina Javier Milei dan memuji proyek tersebut sebagai jalur penerbangan langsung pertama antara kedua negara.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Duta Besar Amerika Serikat (AS), Mike Huckabee. Kehadiran dan pernyataan para tokoh tersebut mengindikasikan bahwa rute penerbangan ini dirancang untuk membawa dimensi politik yang melampaui batas batas penerbangan sipil.

Jalur udara baru ini tidak dapat dipisahkan dari pergerakan politik yang lebih luas oleh pemerintah sayap kanan di Amerika Latin untuk memperkuat hubungan dengan 'Israel'. Peluncuran rute ini merupakan realisasi konkret dari penandatanganan Ishaq Accords oleh Netanyahu dan Milei, yang terinspirasi dari Abraham Accords.

Kerangka kerja baru ini menjadi landasan kerja sama strategis yang mencakup koordinasi keamanan, pemberantasan terorisme, dan pengembangan sektor kecerdasan buatan (AI) dengan negara-negara Amerika Latin lainnya seperti Ekuador, Kosta Rika, dan Paraguay.

Pangkas Waktu Tempuh dan Subsidi Pemerintah

Saat ini, pelancong yang terbang antara 'Israel' dan Argentina harus transit melalui Eropa (seperti Madrid atau Paris) dengan total waktu tempuh mencapai 21 hingga 33 jam.

Dengan jalur langsung baru yang menggunakan armada Boeing 787 Dreamliner ini, waktu tempuh akan dipangkas secara signifikan menjadi sekitar 16,5 jam untuk keberangkatan dan 15,5 jam untuk rute sebaliknya. Penerbangan ini akan menempuh jarak tanpa henti sejauh lebih dari 12.000 kilometer.

Meskipun permintaan pasar meningkat, di mana data perusahaan teknologi AS, Sabre, mencatat ada sekitar 55.300 orang yang bepergian di antara kedua negara pada 2025, rute ini menghadapi kendala logistik berat. Pesawat-pesawat 'Israel' dilarang melintasi wilayah udara sejumlah negara Afrika seperti Libya, sehingga terpaksa mengambil rute memutar yang mahal di atas Laut Mediterania dan Samudra Atlantik.

Akibat tingginya risiko ekonomi pada penerbangan jarak jauh ini, Pemerintah 'Israel' mengambil langkah tidak biasa dengan memberikan subsidi finansial kepada El Al sebesar 20 juta shekel (sekitar 5,4 juta dolar AS) yang dicairkan selama 3 tahun demi menjamin keberlangsungan rute tersebut.

Taruhan Demografi dan Memori Penculikan Adolf Eichmann

Secara ekonomi, keberhasilan proyek ini bertumpu pada daya tarik bagi komunitas Yahudi di Argentina, yang merupakan komunitas terbesar di Amerika Latin dengan estimasi jumlah mencapai 180 ribu hingga 300 ribu jiwa.

Selain hitungan bisnis, bagi warga 'Israel', penerbangan El Al ke Buenos Aires memiliki simbolisme sejarah yang kuat sejak 1960. Pada 20 Mei 1960, badan intelijen Mossad memanfaatkan penerbangan resmi El Al untuk menyelundupkan mantan pejabat Nazi, Adolf Eichmann, keluar dari Argentina setelah menculiknya. Eichmann dimasukkan ke dalam pesawat dengan menyamar sebagai kru kabin, lalu dibawa ke 'Israel' untuk diadili dan dieksekusi mati.

Penolakan Konstitusi dan Isu Hukum Tentara 'Israel'

Meski dirayakan secara politik, proyek ini tidak lepas dari kritik tajam di kedua negara. Di 'Israel', Kementerian Transportasi dilaporkan keberatan karena penarikan armada Dreamliner dari rute-rute menguntungkan (seperti ke AS) dapat mengurangi pasokan dan melonjakkan harga tiket bagi warga 'Israel' yang hendak ke Amerika.

Sementara di Argentina, Presiden Javier Milei menghadapi perlawanan dari parlemen. Anggota kongres sayap kiri, Myriam Bregman, menuduh pemerintah menyeret negara ke dalam perang imperialis tanpa mandat institusional, dan memperingatkan bahwa keputusan krusial ini harus melalui parlemen agar tidak menyalahi konstitusi.

Kritik lain datang dari analisis regional yang melihat adanya motif keamanan tersembunyi. Penulis dan pembuat konten asal Brasil, Diego Gozarin, menilai rute langsung ini sengaja dibuat demi memfasilitasi perjalanan warga 'Israel' tanpa harus menghadapi interogasi keamanan di bandara internasional. Langkah ini dianggap untuk melindungi para anggota militer 'Israel' yang terlibat dalam kejahatan perang terhadap warga Palestina dari risiko penangkapan di luar negeri.

Di tingkat akar rumput, sentimen terhadap turis 'Israel' di Argentina selatan kian sensitif. Warga lokal dan aktivis lingkungan menuduh sejumlah turis 'Israel', yang banyak di antaranya merupakan mantan tentara, kerap memicu kebakaran hutan besar di cagar alam Patagonia akibat kelalaian. Kasus terakhir terjadi pada Januari 2026, di mana kebakaran hebat melahap 77.000 hektare lahan dan berujung pada penahanan seorang turis asal 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)