Memuat...

Rabi 'Israel' Ungkap Rencana Pembangunan Sinagoge di Kompleks Masjid Al-Aqsa

Zarah Amala
Selasa, 25 Agustus 2026 / 13 Rabiulawal 1448 12:16
Rabi 'Israel' Ungkap Rencana Pembangunan Sinagoge di Kompleks Masjid Al-Aqsa
Rabi 'Israel' Shmuel Eliyahu berbicara terbuka tentang rencana pembangunan sinagoga Yahudi di dalam Masjid Al-Aqsha (Sumber: Avi Shushan Podcast)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Rabi 'Israel' Shmuel Eliyahu, yang merupakan rabi Kota Safed dan salah satu tokoh rabinik senior di 'Israel', secara terbuka berbicara mengenai rencana pembangunan sinagoge Yahudi di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha di Yerusalem Timur.

Pernyataan tersebut disampaikan Eliyahu dalam episode terbaru podcast yang dipandu jurnalis Avi Shoshan. Pembicaraan berfokus pada isu kunjungan umat Yahudi ke lokasi yang oleh 'Israel' disebut sebagai Temple Mount, termasuk kemungkinan pembangunan sinagoge di kawasan tersebut.

Eliyahu mengatakan pembangunan sinagoge diperlukan untuk memungkinkan umat Yahudi naik secara sah ke Kodesh Hakodashim, istilah dalam tradisi Yahudi untuk bagian paling suci dari Bait Suci. Ia bahkan menyatakan bahwa pembangunan tersebut pasti akan terjadi.

Ia juga mengatakan akan ada perkembangan baru dalam waktu dekat, termasuk pembangunan fasilitas yang diperuntukkan bagi umat Yahudi yang mengunjungi kawasan tersebut.

Menurut Eliyahu, pembangunan sinagoge tersebut bahkan seharusnya sudah dilakukan "kemarin".

Pernyataan tersebut memicu reaksi luas di media sosial serta kekhawatiran mengenai upaya mengubah status quo yang selama ini berlaku di kompleks Masjid Al-Aqsha.

Sejumlah aktivis menilai pernyataan Eliyahu muncul di tengah meningkatnya seruan dari kelompok keagamaan dan nasionalis 'Israel' untuk memperbanyak kunjungan ke kompleks Al-Aqsha serta mengizinkan pelaksanaan ritual Yahudi di dalamnya.

Para pengkritik menilai pembangunan bangunan permanen untuk kegiatan keagamaan Yahudi akan menjadi eskalasi lebih jauh dibandingkan sekadar seruan untuk kunjungan atau pelaksanaan doa di lokasi tersebut.

Beberapa pengguna media sosial juga mengkritik pernyataan Eliyahu yang menyindir kemungkinan terjadinya Perang Dunia III akibat pembangunan sinagoge di kompleks tersebut.

Mereka menilai pernyataan itu mengabaikan potensi konsekuensi serius yang dapat muncul jika status quo di tempat suci tersebut diubah.

Sejumlah pengamat menilai persoalan utama dalam pernyataan Eliyahu bukan hanya seruan membangun sinagoge, tetapi juga cara ia menggambarkannya sebagai langkah yang sudah pasti dan kemungkinan dilakukan dalam waktu dekat.

Menurut mereka, perubahan wacana dari sekadar tuntutan untuk mengizinkan kunjungan dan ritual keagamaan Yahudi menjadi gagasan pembangunan fasilitas permanen menunjukkan eskalasi dalam upaya mengubah realitas di kompleks Al-Aqsha.

Masjid Al-Aqsha merupakan salah satu situs paling sensitif dalam konflik Palestina-'Israel'. Kompleks tersebut mencakup area masjid, halaman, dan sejumlah bangunan serta tempat ibadah, dan selama puluhan tahun berada di bawah pengaturan keagamaan dan administratif khusus.

Setiap upaya mengubah pengaturan yang berlaku di lokasi tersebut berpotensi memicu ketegangan lebih luas di Yerusalem dan kawasan sekitarnya. (zarahamala/arrahmah.id)