Memuat...

Mengapa Hindu Radikal Sangat Keras Permusuhannya terhadap Muslim di India?

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman PutehDepartemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Kamis, 23 Juli 2026 / 9 Safar 1448 19:25
Mengapa Hindu Radikal Sangat Keras Permusuhannya terhadap Muslim di India?
Ketegangan hubungan Hindu-Muslim di India menjadi sorotan setelah serangkaian insiden kekerasan yang menyasar warga Muslim. Dalam perspektif antropologis Al-Biruni, konflik semacam ini dapat dipahami sebagai benturan identitas, simbol budaya, dan konstruksi sosial yang berkembang dalam sejarah panjang anak benua India. (Ilustrasi AI/Arrahmah.id).

Pendahuluan

Berita memilukan dari India kembali mengingatkan kita betapa rapuhnya relasi antaragama di negara tersebut. Laporan berjudul "Gadis Muslim 11 Tahun Tewas Diperkosa dan Dibunuh, CCTV Rekam Korban Bersama Anggota Hindu Radikal" dan "Karena Gunakan Kopiah dan Berjanggut, Ulama Bihar Diserang Hindu Radikal di Kereta" (Arrahmah.id, 2026) bukan sekadar catatan kriminal, melainkan cermin dari luka sosial yang mendalam.

Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kekerasan yang dialami Muslim di India tidak hanya menyasar tubuh, tetapi juga simbol-simbol identitas mereka. Kopiah, janggut, hijab, atau sekadar identitas sebagai seorang Muslim dapat menjadi alasan seseorang menjadi sasaran kekerasan. Dalam perspektif antropologis Al-Biruni sebagaimana diuraikan dalam Kitab al-Hind, konflik semacam ini lahir dari kegagalan memahami pluralitas budaya. Alih-alih memandang perbedaan sebagai ruang dialog, sebagian kelompok radikal justru menafsirkannya sebagai ancaman terhadap kosmologi dan dominasi sosial yang mereka yakini.

Dengan demikian, tragedi-tragedi tersebut bukan hanya menyangkut korban secara individual, tetapi juga mencerminkan kegagalan masyarakat menginternalisasi prinsip relativisme budaya yang ditekankan Al-Biruni, yakni bahwa setiap tradisi memiliki logika internal yang sah dan hanya dengan memahami logika tersebut keharmonian dapat dibangun.

Berita tragis tersebut membuka ruang refleksi yang lebih luas mengenai relasi Hindu-Muslim di India. Kasus-kasus itu tidak hanya memperlihatkan kekerasan fisik, tetapi juga menunjukkan bagaimana simbol-simbol keagamaan diperlakukan sebagai pemicu agresi. Dalam perspektif antropologis Al-Biruni, fenomena ini mencerminkan kegagalan memahami prinsip relativisme budaya, yaitu bahwa setiap tradisi harus dipahami dari kerangka budayanya sendiri.

Al-Biruni menegaskan bahwa konflik antaragama sering kali lahir bukan semata-mata dari perbedaan teologis, melainkan dari benturan simbolik dan konstruksi sosial yang melekat pada identitas kelompok. Kekerasan sebagian kelompok Hindu radikal terhadap Muslim dapat dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap pluralitas budaya, ketika simbol-simbol Islam dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kosmologi Hindu yang bersifat hierarkis.

Paragraf pembuka ini menegaskan bahwa analisis antropologis Al-Biruni tetap relevan dalam memahami konflik Hindu-Muslim kontemporer. Kekerasan muncul ketika relativisme budaya ditolak dan simbol-simbol keagamaan direduksi menjadi tanda antagonisme. Tulisan ini akan menguraikan bagaimana teori Al-Biruni mengenai relativisme budaya dan konflik simbolik dapat menjadi kerangka interpretatif dalam membaca permusuhan Hindu-Muslim di India, sekaligus menawarkan jalan keluar melalui dialog lintas budaya yang objektif dan filosofis.

Relativisme Budaya

Fenomena permusuhan keras antara sebagian kelompok Hindu radikal terhadap Muslim di India dapat dipahami melalui lensa antropologi, khususnya menggunakan kerangka pemikiran Al-Biruni. Sarjana Persia abad ke-11 tersebut menekankan pentingnya relativisme budaya dan pemahaman lintas peradaban. Menurutnya, konflik antaragama sering kali lahir bukan dari perbedaan teologis semata, melainkan dari konstruksi sosial, politik, dan simbolik yang melekat pada identitas kelompok.

Dalam Kitab al-Hind, Al-Biruni menjelaskan bahwa setiap masyarakat memiliki sistem nilai, simbol, dan praktik yang harus dipahami dari dalam kerangka budayanya sendiri. Permusuhan Hindu-Muslim di India dapat dipahami sebagai benturan simbolik antara dua sistem budaya yang berbeda.

Islam membawa tradisi monoteistik, egalitarian, dan universalistik, sedangkan Hindu berkembang dengan struktur kosmologis yang hierarkis, berbasis kasta, dan berorientasi lokal. Ketika kedua sistem tersebut berinteraksi, muncul ketegangan karena masing-masing membawa klaim kebenaran serta tatanan sosial yang berbeda.

Menurut Al-Biruni, agama bukan sekadar keyakinan, melainkan juga penanda identitas sosial. Dalam konteks India, Muslim sering diposisikan sebagai the other (kelompok luar), sehingga menjadi sasaran kekerasan simbolik maupun fisik.

Kopiah, janggut, dan hijab menjadi penanda visual yang dapat memicu agresi. Dalam perspektif antropologi simbolik, tanda-tanda tersebut dipersepsikan sebagian kelompok radikal sebagai ancaman terhadap dominasi budaya mayoritas.

Selain itu, warisan sejarah penaklukan, kolonialisme, hingga politik pasca-partisi India-Pakistan turut memperkuat narasi antagonistik. Al-Biruni sendiri mencatat bahwa prasangka sering kali muncul akibat ketidakmauan memahami sejarah secara objektif.

Permusuhan sebagai "Kejahatan Budaya"

Menggunakan kerangka Al-Biruni, permusuhan Hindu radikal terhadap Muslim dapat dipahami sebagai bentuk kejahatan budaya. Kekerasan tidak lagi dipandang sekadar sebagai tindakan kriminal, tetapi sebagai ekspresi dari ketidakmampuan menerima pluralitas budaya.

Dalam perspektif ini, radikalisme Hindu memandang Islam sebagai ancaman terhadap kosmologi Hindu sehingga kekerasan dipersepsikan sebagai bentuk "pembelaan budaya".

Al-Biruni menawarkan jalan keluar melalui dialog lintas budaya. Ia mengedepankan studi komparatif agama sebagai sarana mengurangi prasangka serta menekankan bahwa setiap tradisi memiliki logika internal yang sah sehingga tidak boleh dipaksa tunduk pada logika kelompok lain.

Dalam konteks India modern, pendekatan antropologis ini dapat menjadi dasar bagi program deradikalisasi yang menitikberatkan pada pemahaman historis dan simbolik, bukan semata-mata pendekatan hukum.

Dengan demikian, permusuhan sebagian kelompok Hindu terhadap Muslim di India bukan hanya fenomena teologis, melainkan hasil konstruksi sosial, simbolik, dan historis. Melalui teori antropologis Al-Biruni, akar konflik terletak pada ketidakmampuan menerima pluralitas budaya dan simbol. Jalan keluarnya adalah membangun ruang dialog yang menghormati relativisme budaya sebagaimana dipraktikkan Al-Biruni dalam studinya tentang India.

Analisis Antropologis

Studi Abd Hamid, Samsuddin, dan Hambali (2015) menegaskan bahwa Al-Biruni memandang keharmonian antaragama hanya dapat dicapai melalui pemahaman yang mendalam terhadap budaya lain. Permusuhan Hindu-Muslim di India justru muncul karena kegagalan sebagian kelompok menginternalisasi prinsip tersebut. Kekerasan yang dilakukan kelompok Hindu radikal terhadap Muslim merupakan bentuk penolakan terhadap relativisme budaya yang menurut Al-Biruni menjadi syarat utama koeksistensi.

Dalam Kitab al-Hind, Al-Biruni juga mencatat bahwa sistem kasta Hindu menciptakan hierarki sosial yang eksklusif. Islam, dengan prinsip egalitarianismenya, dipandang mengganggu tatanan tersebut. Siddiqui (2025) menegaskan bahwa ketegangan historis antara egalitarianisme Islam dan hierarki Hindu menjadi salah satu akar konflik yang terus berulang hingga kini. Kekerasan radikal dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan dominasi kasta dan kosmologi Hindu (Al-Biruni, 1989; Siddiqui, 2025).

Ahn dan Juraev (2026) menunjukkan bahwa Al-Biruni membangun "peta etis pengetahuan" (ethical cartographies of knowledge) melalui dokumentasi yang objektif mengenai masyarakat Hindu. Dalam konteks kontemporer, radikalisme Hindu justru menolak pendekatan etis tersebut dan menggantinya dengan narasi eksklusif yang menyingkirkan Muslim. Permusuhan menjadi bentuk "dekartografi etis", yaitu penghancuran ruang dialog yang seharusnya menjadi fondasi hubungan antaragama.

Moad (2016) menekankan bahwa Al-Biruni memandang agama sebagai tradisi hidup yang harus dipahami secara filosofis, bukan sekadar dogmatis. Kekerasan Hindu radikal terhadap Muslim menunjukkan kegagalan refleksi filosofis karena agama direduksi menjadi alat politik identitas, bukan ruang pencarian kebenaran. Dalam pengertian ini, radikalisme merupakan bentuk "anti-filosofi" yang bertentangan dengan semangat intelektual Al-Biruni.

Rehman (2025) juga menunjukkan bahwa Al-Biruni mengkritik sistem kasta Hindu sebagai sumber ketidakadilan sosial. Kritik tersebut tetap relevan hingga kini ketika Muslim sering diposisikan sebagai out-group yang diperlakukan layaknya kasta rendah. Kekerasan radikal terhadap Muslim dapat dipahami sebagai reproduksi logika kasta dalam bentuk baru, yakni diskriminasi berbasis agama.

Kesimpulan

Berdasarkan teori Al-Biruni dan berbagai kajian kontemporer, terlihat bahwa permusuhan Hindu-Muslim di India berakar pada benturan kosmologi antara egalitarianisme Islam dan struktur hierarkis dalam tradisi Hindu. Kekerasan yang dilakukan kelompok Hindu radikal merupakan manifestasi penolakan terhadap relativisme budaya yang ditekankan Al-Biruni.

Karena itu, penyelesaian konflik tidak cukup dilakukan melalui pendekatan keamanan atau hukum semata. Diperlukan upaya membangun kembali "kartografi etis pengetahuan" sebagaimana dicontohkan Al-Biruni, yaitu memahami agama dan budaya lain secara objektif, filosofis, dan bebas dari prasangka. Pendekatan inilah yang berpotensi membuka ruang dialog, memperkuat koeksistensi, dan mengurangi siklus kekerasan yang terus berulang.

Bibliografi

Abd Hamid, S., Samsuddin, & Hambali, K. M. (2015). Pemerkasaan keharmonian masyarakat beragama: Rujukan pendekatan Al-Biruni berdasarkan karyanya Kitab al-Hind. Afkar: Jurnal Akidah dan Pemikiran Islam, 16(1), 1–30.

Al-Biruni, A. R. (1989). Alberuni's India.

Ahn, Y.-J., & Juraev, Z. (2026). Al-Biruni's Kitab al-Hind and the Ethical Cartographies of Knowledge. Journal of Cultural Geography, 1–20.

Moad, E. (2016). Philosophical Reflections on Al-Biruni's Kitab Tareekh al-Hind. In Proceedings of the Asian Philosophical Association (ICAPA) (pp. 109). Universiti Teknologi Malaysia.

Rehman, S. (2025). Understanding Hinduism through the Eyes of Al-Beruni: An Analysis of His Observations and Critiques in Kitab fi Tahqiq ma li'l-Hind. Journal of World Religions and Interfaith Harmony, 4(1), 282–301.

Siddiqui, K. (2025). Al-Biruni's Kitab al-Hind: A Study of Religion, Caste, and Culture in Eleventh-Century India. World.

(*/arrahmah.id)