Memuat...

Menlu Sugiono Sambut Kepulangan 9 Relawan WNI GSF 2.0, Kutuk Keras Dugaan Penyanderaan oleh "Israel"

Ameera
Ahad, 24 Mei 2026 / 8 Zulhijah 1447 21:16
Menlu Sugiono Sambut Kepulangan 9 Relawan WNI GSF 2.0, Kutuk Keras Dugaan Penyanderaan oleh "Israel"
Menlu Sugiono Sambut Kepulangan 9 Relawan WNI GSF 2.0, Kutuk Keras Dugaan Penyanderaan oleh "Israel"

JAKARTA (Arrahmah.id) - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, resmi menyambut kepulangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Ahad sore (24/5/2026).

Kesembilan relawan tersebut sebelumnya sempat diadang dan ditahan oleh militer Israel saat menjalankan misi kemanusiaan internasional di perairan internasional pada 18 Mei lalu.

Mereka akhirnya berhasil dipulangkan ke Tanah Air setelah melalui proses diplomasi intensif lintas negara.

Dalam keterangannya kepada awak media, Sugiono menyampaikan rasa syukur atas keselamatan seluruh relawan yang telah kembali ke Indonesia dalam keadaan selamat.

“Kita bersyukur saudara-saudara kita akhirnya bisa kembali ke Tanah Air dengan selamat,” ujar Sugiono di area kedatangan Terminal 3 Soekarno-Hatta.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah negara sahabat yang terlibat aktif membantu proses pembebasan para relawan di lapangan, khususnya Turkiye, Yordania, dan Mesir.

“Khususnya lagi, lebih khusus lagi, pemerintah Turkiye yang juga membantu penjemputan saudara-saudara kita ini dari Ashdod,” kata Sugiono.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat kapal kemanusiaan sipil tersebut. Menurut Sugiono, pencegatan terhadap kapal bantuan di wilayah perairan internasional merupakan pelanggaran serius terhadap hukum laut internasional.

Ia menegaskan bahwa misi Global Sumud Flotilla 2.0 murni bertujuan menyalurkan bantuan logistik dan kemanusiaan bagi warga di Jalur Gaza yang tengah mengalami krisis kemanusiaan akibat blokade dan konflik berkepanjangan.

“Kami juga menyampaikan kecaman ini di Dewan Keamanan PBB pada 21 Mei yang lalu. Ini merupakan suatu tindakan yang tidak bisa diterima, dan tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.

Sugiono menambahkan, Kementerian Luar Negeri kini memprioritaskan pemulihan kondisi para relawan pasca-penahanan.

Pemerintah memastikan sejumlah WNI yang mengalami trauma fisik maupun psikologis akibat dugaan tindakan kekerasan selama masa penahanan akan segera mendapatkan penanganan medis intensif.

“Beberapa di antara mereka memang membutuhkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut, baik secara fisik maupun psikologis,” ujarnya.

Kepulangan sembilan relawan WNI tersebut disambut haru oleh keluarga dan rekan-rekan kemanusiaan yang telah menunggu sejak siang di Bandara Soekarno-Hatta.

Pemerintah menegaskan akan terus mengawal perlindungan WNI yang terlibat dalam misi-misi kemanusiaan internasional.

(ameera/arrahmah.id)