Memuat...

MUI: AI Jangan Gantikan Peran Ulama

Ameera
Kamis, 30 Juli 2026 / 16 Safar 1448 21:35
MUI: AI Jangan Gantikan Peran Ulama
MUI: AI Jangan Gantikan Peran Ulama

JAKARTA (Arrahmah.id) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak boleh mengikis tradisi sanad keilmuan dan hubungan guru dengan murid yang selama ini menjadi fondasi pendidikan Islam di Indonesia.

MUI menilai kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan kualitas sumber daya manusia.

AI dipandang sebagai alat pendukung dakwah dan pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran ulama dalam membimbing umat.

Pesan tersebut disampaikan Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi, saat membuka Workshop "Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI" yang diselenggarakan Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Masduki menjelaskan bahwa perkembangan AI kini telah memasuki fase baru. Menurutnya, teknologi tersebut tidak lagi hanya mampu menghasilkan teks maupun gambar, tetapi telah berkembang menjadi AI agent yang mampu merencanakan, berdiskusi, hingga membantu pengambilan keputusan secara sistematis.

Perkembangan tersebut, kata dia, berpotensi mengubah cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memperoleh pengetahuan agama.

Apabila lembaga-lembaga keagamaan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut, peran ulama dikhawatirkan akan semakin terpinggirkan.

"Ketika mereka bertanya dan algoritma menjawab sesuai selera mereka, terjadi fenomena echo chamber. Mereka hanya mengonsumsi informasi yang cocok dan mengesampingkan yang lain tanpa cross check. Ini sangat berbahaya karena sistem sanad kita, tradisi belajar guru dan murid, bisa dihancurkan oleh sistem digital jika kita pasif," ujar Masduki.

Ia juga menilai pola generasi muda dalam memahami agama mulai mengalami perubahan.

Agama, menurutnya, semakin sering dipandang sebagai sarana memenuhi kenyamanan pribadi dibandingkan sebagai proses pencarian ilmu melalui bimbingan guru yang memiliki otoritas keilmuan.

Meski demikian, Masduki menegaskan AI bukanlah ancaman apabila dimanfaatkan secara tepat. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperluas penyebaran nilai-nilai Islam moderat, meningkatkan layanan keagamaan seperti pengelolaan zakat, hingga membantu proses pembelajaran mengaji dengan tetap mengedepankan verifikasi dari para ulama.

"MUI harus diisi oleh orang-orang berkapasitas tinggi agar dipercaya generasi muda," katanya.

Lebih lanjut, Masduki mengingatkan MUI tidak boleh bersikap pasif atau sekadar menyalahkan perkembangan teknologi. S

ebaliknya, AI harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk memperkuat literasi keislaman sekaligus menjaga tradisi keilmuan Islam Nusantara di tengah era digital.

Sementara itu, Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, mengatakan tantangan dakwah saat ini tidak lagi sebatas menyampaikan materi keagamaan secara konvensional. Dakwah juga harus mampu bersaing di ruang digital dengan memahami cara kerja algoritma media sosial serta teknologi AI.

Menurutnya, konten keislaman yang sahih, moderat, dan menyejukkan tidak boleh kalah oleh konten instan yang berpotensi menyesatkan masyarakat, termasuk informasi keagamaan dari figur publik yang tidak memiliki dasar keilmuan yang memadai.

Hari menambahkan bahwa perkembangan AI juga menghadirkan berbagai tantangan, seperti penyebaran deepfake, informasi yang tidak akurat, hingga konten keagamaan yang tidak melalui proses verifikasi.

Namun di sisi lain, teknologi tersebut memiliki peluang besar untuk memperluas jangkauan dakwah dan meningkatkan literasi keislaman di masyarakat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, MUI mendorong lahirnya mujahid digital, yaitu generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memproduksi, mengelola, dan mendistribusikan narasi keislaman yang kredibel di ruang digital.

Workshop yang digelar MUI bersama Baznas tersebut dirancang dengan pendekatan berbasis praktik.

Materi pelatihan terdiri atas 40 persen teori dan 60 persen praktik, meliputi prompt engineering, generative engine optimization (GEO), produksi konten digital, hingga strategi manajemen serta amplifikasi konten.

Peserta kegiatan berasal dari perwakilan MUI daerah, pengelola media komisi dan lembaga MUI, Baznas, serta para kreator konten dan influencer muda yang dipersiapkan menjadi penggerak literasi keislaman di era kecerdasan buatan.

(ameera/arrahmah.id)