Memuat...

Pasukan 'Israel' Gerebek Sejumlah Wilayah Tepi Barat, Tangkap Warga Palestina

Zarah Amala
Sabtu, 19 September 2026 / 8 Rabiulakhir 1448 11:26
Pasukan 'Israel' Gerebek Sejumlah Wilayah Tepi Barat, Tangkap Warga Palestina
Bezalel Smotrich menyatakan Perjanjian Oslo “batal demi hukum” dan mengklaim Area A dan B di Tepi Barat sebagai wilayah 'Israel'. (Desain: PC)

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Pasukan pendudukan 'Israel' melancarkan serangkaian penggerebekan pada Jumat dini hari (18/9/2026) di sejumlah wilayah Tepi Barat yang diduduki. Dalam operasi tersebut, sejumlah warga Palestina ditangkap dan gas air mata ditembakkan saat terjadi bentrokan.

Di Provinsi Nablus, pasukan 'Israel' menangkap empat warga Palestina setelah menggerebek dan menggeledah rumah mereka, menurut Quds News Network (QNN).

Mereka adalah Abdul Rahman Abu Dhahir dari Nablus, Karim Abdul Munim Ramadan dari Tell, serta Saed Deeb dan putranya, Turki, dari Deir Sharaf, sebelah barat Nablus. Penggerebekan juga dilaporkan terjadi di Beita, Awarta, Sarra, dan Tell.

Di Provinsi Jenin, pasukan 'Israel' menyerbu Fahma, sebelah barat daya Jenin, dan menangkap seorang pemuda Palestina serta dua perempuan. Penggerebekan juga dilaporkan terjadi di Arraba dan kawasan hutan Al-Saada.

Pasukan 'Israel' kemudian memasuki Kamp Pengungsi Jalazone dekat Ramallah. Bentrokan pecah di lokasi tersebut dan tentara 'Israel' menembakkan gas air mata.

Serangan dan penggerebekan juga dilaporkan terjadi di Umm al-Sharayet, Al-Bireh, serta Beit Fajjar, sebelah selatan Bethlehem.

Di Hebron, pasukan 'Israel' menangkap Ahmed Fawaz al-Rajabi dan Fahd Ahmed Ahrizat dari Khirbet Umm Namila, sebelah timur Yatta. Menurut sumber lokal, tentara menggeledah rumah Ahrizat dan merusak sejumlah barang di dalamnya.

Organisasi HAM Palestina mencatat 630 penangkapan di Tepi Barat dan Yerusalem sepanjang Juli. Menurut QNN, jumlah penangkapan sejak Oktober 2023 telah melampaui 25.000 orang.

Smotrich Janjikan “Tiga Kali Lipat” di Galilea dan Negev

Penggerebekan tersebut berlangsung ketika Menteri Keuangan 'Israel' Bezalel Smotrich secara terbuka menyatakan rencana memperluas apa yang ia sebut sebagai Yudaisasi wilayah Galilea di utara 'Israel' dan Negev di selatan.

Menanggapi laporan Al Jazeera mengenai kebijakan 'Israel' di Galilea pada Kamis, Smotrich menulis di X, “Apa yang kami lakukan di Yudea dan Samaria akan dilakukan tiga kali lipat di Negev dan Galilea.”

Smotrich menggunakan istilah Yudea dan Samaria untuk menyebut Tepi Barat yang diduduki. Pernyataannya muncul setelah sebelumnya ia dilaporkan mengatakan 'Israel' akan meng-Yudaisasi Galilea seperti yang kami lakukan di Yudea dan Samaria selama masa pemerintahan berikutnya.

Pada 28 Agustus, Smotrich mengumumkan rencana untuk menambah satu juta penduduk Yahudi di Galilea dan Negev. Rencana tersebut disebut sebagai kelanjutan dari apa yang ia gambarkan sebagai revolusi permukiman di Tepi Barat.

Rencana itu mencakup pembangunan 20 komunitas baru di Galilea dan 20 lainnya di Negev, puluhan pertanian, kebijakan untuk mendorong migrasi ke wilayah yang dianggap strategis, serta penghapusan sejumlah pembatasan tata ruang.

Sehari sebelum pernyataan terbarunya, Smotrich menyoroti perluasan permukiman Yahudi Israel dan pembongkaran bangunan milik warga Palestina di Tepi Barat.

Menurut data Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Tembok Palestina yang dikutip Anadolu, otoritas 'Israel' melakukan 71 operasi pembongkaran pada Agustus yang berdampak pada 155 bangunan Palestina.

Bangunan yang dibongkar terdiri atas 47 rumah berpenghuni, delapan rumah kosong, 33 bangunan yang digunakan sebagai sumber penghidupan, 61 bangunan pertanian, serta enam bangunan lainnya. Selain itu, sebanyak 44 perintah pembongkaran juga diterbitkan selama bulan tersebut.

'Israel' menduduki Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sejak 1967. Permukiman 'Israel' di wilayah pendudukan tersebut dinilai ilegal berdasarkan hukum internasional. (zarahamala/arrahmah.id)