PARIS (Arrahmah.id) - Rabbi Prancis Gabriel Hagai mengkritik fondasi ideologis 'Israel' dan Zionisme. Dalam wawancara yang akan ditayangkan melalui platform Atheer, ia menilai proyek Zionisme telah mengubah Yudaisme menjadi ideologi nasionalis-kolonial dan memperkirakan 'Israel' menuju kehancuran politiknya sendiri.
Hagai mengatakan Palestina sejak dahulu dihuni masyarakat Arab dengan peradaban yang mapan. Ia juga menyebut slogan “tanah tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah” sebagai sebuah tipu daya.
Rabbi Yahudi yang dikenal menentang Zionisme itu mengatakan dirinya pernah terlibat dalam kelompok sayap kanan Zionis saat muda. Namun, setelah mempelajari fikih Taurat di Yerusalem selama lebih dari 14 tahun di bawah sejumlah rabbi senior dari Timur, ia kemudian secara terbuka menentang Zionisme.
Menurut Hagai, inti proyek Zionisme bukan mendirikan negara agama Yahudi sebagaimana kerap dipromosikan, melainkan mengubah agama Yahudi menjadi ideologi nasionalis-kolonial yang berlandaskan gagasan politik Barat.
Ia juga menuduh Badan Yahudi (Jewish Agency) menggunakan publikasi palsu dan serangan yang direkayasa untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa umat Muslim ingin membunuh mereka. Menurutnya, hal itu menciptakan ketakutan yang mendorong sebagian orang Yahudi bermigrasi dan menetap di Palestina.
Prediksi Kehancuran 'Israel'
Hagai mengatakan 'Israel' menurut pandangannya menuju bentuk kehancuran politiknya sendiri. Namun, ia berharap dampaknya terbatas pada entitas politik dan institusinya, tanpa membuat warga sipil menjadi korban.
Ia juga mengatakan lembaga-lembaga Zionis memiliki berkas keamanan terkait aktivitasnya. Karena sikap terbukanya menentang pendudukan Israel, ia mengaku tidak dapat mengunjungi wilayah Palestina yang diduduki, meski anak-anak dan keluarganya berada di sana.
“Jika saya harus kehilangan nyawa karena gagasan saya, setidaknya Tuhan tidak akan mencela saya karena tidak berani berbicara,” kata Hagai.
Mengenai Gaza, Hagai menilai otoritas 'Israel' bertanggung jawab atas kehancuran yang terjadi dan harus memberikan kompensasi kepada keluarga yang terdampak serta membangun kembali wilayah yang hancur. Menurutnya, prinsip yang sama juga berlaku untuk Lebanon.
Ia menegaskan bahwa perdamaian tidak dapat tercapai tanpa keadilan dan pemulihan kerugian secara menyeluruh.
Mengaku sebagai “Yahudi Arab”
Hagai juga menolak pertentangan antara identitas “Yahudi” dan “Arab”. Menurutnya, pertentangan tersebut dibentuk oleh propaganda Zionis.
Ia dengan bangga menyebut dirinya sebagai “Yahudi Arab” dan menolak pencampuran antara agama Yahudi dengan kebijakan politik kolonial 'Israel'.
Hagai juga mempertanyakan hubungan simbol Bintang Daud dengan ajaran asli Yudaisme serta menyerukan pemisahan yang jelas antara masyarakat dan sistem politik.
Ia membandingkan kebebasan beragama di Maroko dengan kondisi di Prancis. Menurutnya, meskipun Maroko bukan negara sekuler, ruang kebebasan beragama di negara tersebut lebih luas dibandingkan Prancis yang menganut prinsip sekularisme.
Hagai juga menuding sejumlah lembaga Yahudi di Prancis justru memperbesar ketegangan karena memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel dan menganggap kritik terhadap Zionisme sebagai bentuk antisemitisme.
Menurutnya, sikap tersebut membuat komunitas Yahudi di Prancis terikat pada ideologi Zionisme. (zarahamala/arrahmah.id)
