GAZA (Arrahmah.id) - Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Palestina mengonfirmasi bahwa pelanggaran militer 'Israel' yang terus berlanjut di Jalur Gaza telah menciptakan realitas yang tragis bagi penduduk setempat. PBB menegaskan bahwa warga Palestina, termasuk anak-anak, terus menjadi sasaran pembunuhan di berbagai lokasi meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berjalan selama tujuh bulan.
Juru Bicara Kantor HAM PBB, Mai Al-Shaikh, membeberkan data terkait pelanggaran beruntun 'Israel' sejak penandatanganan kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu. Berdasarkan pemantauan PBB, sedikitnya 880 warga Palestina tewas akibat tembakan dan serangan pasukan 'Israel' sejak masa gencatan senjata dinyatakan berlaku.
Al-Shaikh menyatakan bahwa kejahatan perang di Gaza tidak pernah berhenti. Ia menuduh 'Israel' sengaja mengubah momentum gencatan senjata menjadi kedok hukum untuk melanjutkan operasi pembunuhan secara senyap.
"Baru-baru ini, sebanyak 180 warga sipil tewas di dalam tenda-tenda pengungsian dan di jalanan akibat pengeboman dari jet tempur serta kapal perang 'Israel'. Kami mendeteksi intensitas serangan udara yang konstan, khususnya melalui penggunaan drone tempur, serangan rudal, dan artileri laut," ujar Al-Shaikh dalam wawancara bersama Al Jazeera.
Pihak PBB memperingatkan adanya bencana kemanusiaan berlapis yang mencakup lumpuhnya total proyek rekonstruksi pasca-perang. PBB menilai 'Israel' secara sengaja mencekik Jalur Gaza dengan membatasi pasokan makanan dan obat-obatan, serta menyebarkan teror psikologis di kalangan keluarga pengungsi sepanjang garis pantai.
Selaras dengan peringatan PBB, Kantor Media Pemerintah di Gaza melaporkan bahwa pemangkasan sepihak pasokan bantuan logistik dan bahan bakar oleh 'Israel' kian memperparah krisis kemanusiaan. Peringatan darurat ini didukung oleh desakan kolektif dari sejumlah organisasi kemanusiaan PBB di Jenewa, Swiss.(zarahamala/arrahmah.id)
