RIYADH (Arrahmah.id) - Pemerintah Arab Saudi dilaporkan telah mendesak pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menghindari aksi militer skala besar apa pun terhadap Iran hingga musim haji tahun ini selesai. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran di seluruh negara Teluk bahwa konflik baru dapat mengacaukan stabilitas kawasan selama salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia tersebut berlangsung.
Berdasarkan sejumlah laporan pada Rabu (20/5/2026), Riyadh meminta Washington untuk menghindari eskalasi militer demi kelancaran persiapan otoritas Saudi dalam menyambut lebih dari 1,5 million jemaah haji yang diperkirakan akan datang dari berbagai belahan dunia.
Musim haji tahun ini sendiri diperkirakan akan dimulai pada tanggal 24 Mei dan berlangsung selama enam hari. Selain Arab Saudi, sejumlah sekutu Teluk lainnya dan pejabat senior regional juga dilaporkan turut menekan pemerintahan Trump agar tidak menyulut kembali konflik bersenjata selama periode suci tersebut.
Para pejabat pemerintahan Trump dilaporkan telah mengadakan pembicaraan terpisah dengan para pemimpin di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam beberapa hari terakhir. Melansir laporan CNN dari sumber tepercaya, para pemimpin Teluk memanfaatkan momentum komunikasi tersebut untuk mendesak Washington menunda opsi militer dan memberikan kesempatan bagi kelanjutan upaya diplomatik.
Kekhawatiran utama negara-negara Teluk berakar pada potensi serangan balasan (retaliasi) dari Iran yang menyasar wilayah tetangga jika AS nekat melanjutkan serangan udara. Sumber tersebut menambahkan bahwa para pemimpin Teluk menunjukkan satu suara yang solid dalam mendesak penahanan diri dari pemerintahan Trump, di mana faktor keselamatan musim haji menjadi poin argumen paling krusial.
Sejumlah media internasional juga melaporkan bahwa Trump telah diperingatkan bahwa aksi militer selama musim haji dapat memicu gangguan regional yang lebih luas, termasuk risiko terdamparnya sejumlah besar jemaah haji di wilayah Teluk akibat penutupan ruang udara. Selain itu, para pejabat Teluk memperingatkan bahwa meluncurkan serangan pada hari-hari suci menjelang Idul Adha dapat merusak reputasi diplomatik Washington di dunia Muslim.
Meskipun AS sebelumnya pernah meluncurkan serangan terhadap Iran selama bulan suci Ramadan, para analis menilai bahwa eskalasi militer selama musim haji akan menciptakan tantangan logistik dan keamanan yang jauh lebih berat bagi otoritas Arab Saudi. Konflik baru dipastikan akan melumpuhkan hub penerbangan utama regional, termasuk di Qatar dan UEA, serta mengganggu rute penerbangan yang menghubungkan Asia Selatan dan Asia Timur, tempat di mana mayoritas jemaah haji memulai perjalanan mereka.
Laporan ini muncul satu hari setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa proses negosiasi berada di "garis batas" antara terobosan perdamaian atau dimulainya kembali aksi militer. Sebagai informasi, kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April lalu berhasil menghentikan pertempuran selama beberapa pekan yang diluncurkan oleh AS dan 'Israel' awal tahun ini, meskipun proses negosiasi lanjutan sejauh ini belum berhasil membuahkan kesepakatan damai yang permanen. (zarahamala/arrahmah.id)
