Memuat...

Perang Iran Hancurkan Seperempat Drone MQ-9 Reaper AS, Kerugian Tembus Rp21 Triliun

Samir Musa
Sabtu, 15 Agustus 2026 / 3 Rabiulawal 1448 06:44
Perang Iran Hancurkan Seperempat Drone MQ-9 Reaper AS, Kerugian Tembus Rp21 Triliun
Drone Amerika Serikat MQ-9 Reaper di Pangkalan Angkatan Laut Sigonella, Sisilia, Italia. (Getty Images)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Amerika Serikat dilaporkan kehilangan sekitar seperempat armada pesawat nirawak tempur MQ-9 Reaper selama perang melawan Iran. Drone yang harga per unitnya mencapai 50 juta dolar AS (sekitar Rp800 miliar) itu disebut gagal memberikan keunggulan menentukan di kawasan Selat Hormuz dan justru menjadi sasaran empuk pertahanan Iran.

Dilansir dari The Washington Post pada Jumat (14/8/2026), mengutip tiga pejabat Amerika Serikat yang mengetahui persoalan tersebut, militer AS telah kehilangan sekitar 25 persen armada MQ-9 Reaper yang dimilikinya.

Drone ini sebelumnya digunakan secara intensif untuk misi pengintaian dan serangan presisi di sekitar Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya menguasai jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, kecepatan terbang yang relatif lambat serta ketinggian operasionalnya membuat MQ-9 Reaper mudah dilacak dan ditembak jatuh oleh Iran maupun kelompok sekutunya.

Model pesawat nirawak MQ-9 Reaper dipamerkan dalam ajang Pameran Pertahanan dan Keamanan di Bratislava, Slovakia. (Getty Images)

Menurut Angkatan Udara AS, biaya pembuatan satu unit MQ-9 Reaper berkisar antara 30 hingga 50 juta dolar AS, bergantung pada konfigurasi sensor dan persenjataan yang dipasang. Drone ini digunakan untuk misi pengintaian sekaligus serangan dan selama ini banyak dioperasikan di kawasan Indo-Pasifik.

Data anggaran dan inventaris militer yang dihimpun The Washington Post menunjukkan bahwa sebelum perang pecah, Amerika memiliki sekitar 185 unit MQ-9 Reaper, terdiri atas 165 unit milik Angkatan Udara dan 20 unit milik Korps Marinir. Jumlah tersebut belum termasuk drone yang dioperasikan badan intelijen.

Namun, dalam kesaksiannya di hadapan Senat AS pada Mei lalu, Letnan Jenderal David Tabor mengungkapkan bahwa jumlah drone yang masih tersisa kini hanya sekitar 135 unit. Ia mengaku khawatir terhadap laju kerugian tersebut dan mengatakan Angkatan Udara sedang menyiapkan langkah untuk memperbarui armadanya secepat mungkin.

Selain ditembak jatuh, seorang pejabat AS lainnya mengatakan tidak semua drone yang hilang disebabkan oleh serangan Iran. Sejumlah MQ-9 Reaper dilaporkan jatuh akibat kehilangan komunikasi dengan operatornya.

Korps Marinir menjadi satu-satunya cabang militer AS yang mengaku belum kehilangan satu pun drone MQ-9 Reaper. Juru bicara Korps Marinir, Letnan Kolonel Joshua Benson, menyatakan seluruh armada Reaper mereka masih utuh.

Kerugian akibat hilangnya drone-drone tersebut diperkirakan melebihi 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp21 triliun, yang pada akhirnya harus ditanggung para pembayar pajak Amerika.

Akibat tingginya kerugian itu, Pentagon kini berencana menghentikan penggunaan MQ-9 Reaper secara bertahap. Drone buatan General Atomics tersebut akan digantikan dengan pesawat nirawak yang lebih murah dan dapat digunakan dalam jumlah besar untuk menyerang sasaran secara bersamaan.

Selat Hormuz berubah menjadi jebakan bagi drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat. (Associated Press)

Persenjataan AS Mulai Terkuras

Laporan itu juga menyebut MQ-9 Reaper hanyalah salah satu dari sederet sistem persenjataan Amerika yang terkuras akibat perang melawan Iran serta bertahun-tahun memasok senjata ke Ukraina dalam perang melawan Rusia.

Amerika dilaporkan telah menghabiskan sebagian stok rudal jelajah Tomahawk, sistem pertahanan udara Patriot, serta rudal THAAD. Berkurangnya persediaan tersebut dinilai mempersempit pilihan militer Presiden Donald Trump dan memaksa komandan Amerika di kawasan mengubah strategi pertahanan mereka.

Para analis menilai kondisi itu memberi keuntungan bagi Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap Amerika, termasuk memperkuat tuntutannya atas kendali Selat Hormuz serta kompensasi atas kerusakan yang dialaminya sejak dimulainya perang pada 28 Februari lalu.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperkirakan biaya perang melawan Iran mencapai 37,5 miliar dolar AS hingga akhir September 2026. Angka tersebut belum mencakup biaya pembangunan kembali pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah yang rusak akibat serangan Iran.

Sementara itu, pemerintahan Trump sedang berupaya memperoleh persetujuan Kongres untuk mengesahkan anggaran tambahan sebesar 67 miliar dolar AS guna mengisi kembali persediaan persenjataan Pentagon yang terkuras selama perang.

(Samirmusa/arrahmah.id)