KABUL (Arrahmah.id) - Jan Egeland, Sekretaris Jenderal Norwegian Refugee Council (NRC), menyatakan bahwa keterlibatan dan investasi di Afghanistan sangat penting untuk mengatasi situasi kemanusiaan di negara tersebut.
Dalam wawancara eksklusif dengan Tolo News, Egeland mendesak masyarakat internasional untuk kembali menjalin hubungan langsung dengan pihak berwenang Afghanistan dengan cara mengirimkan kembali diplomat mereka ke negara tersebut.
Sekretaris Jenderal NRC itu mengatakan: "Saya mendesak berbagai negara untuk kembali ke Afghanistan dengan diplomat mereka dan berinteraksi langsung dengan pihak berwenang Afghanistan. Saya sendiri melakukan hal ini. Saya bertemu dengan pihak berwenang Afghanistan di Kabul dan Kandahar, dan kami membahas semua isu, termasuk masalah pengungsi, orang-orang yang mengungsi di dalam negeri (IDP), serta pendidikan bagi anak perempuan. Situasi ini hanya dapat ditangani melalui keterlibatan dan investasi."
Menyinggung kembalinya hampir enam juta warga Afghanistan dari Iran dan Pakistan selama tiga tahun terakhir, Egeland menyebutnya sebagai salah satu gerakan kepulangan terbesar di dunia dan menyatakan bahwa mereka membutuhkan perhatian serta bantuan yang lebih besar, lansir Tolo News (14/9/2026).
Egeland meminta pihak berwenang Afghanistan untuk mengalokasikan lebih banyak dana bagi para warga yang kembali dan menegaskan bahwa proses kepulangan migran harus dilakukan secara sukarela, dengan persiapan yang matang, serta aman.
Egeland mengatakan: "Salah satu kelompok yang menghadapi tantangan luar biasa namun kurang mendapat perhatian dunia adalah enam juta orang yang telah kembali dari Iran dan Pakistan dalam tiga tahun terakhir beserta kebutuhan mereka. Jumlah ini tergolong signifikan menurut standar global. Ini merupakan salah satu gerakan kepulangan terbesar di dunia, sehingga memerlukan perhatian dan bantuan yang lebih besar."
Sekretaris Jenderal NRC tersebut juga mengungkapkan kekhawatirannya atas penurunan drastis bantuan internasional untuk Afghanistan. Ia menyebutkan bahwa bantuan kemanusiaan, yang nilainya mencapai hampir 3,5 miliar dolar AS pada 2022 dan 2023, bisa merosot hingga hanya sekitar 500 juta dolar AS pada tahun ini.
Menurut Egeland, Amerika Serikat—yang sebelumnya merupakan donor terbesar bagi Afghanistan hingga tahun 2024—kini telah menghentikan bantuannya, sementara negara-negara Eropa juga telah mengurangi dukungan mereka.
Egeland mengatakan: "Hal ini berarti kini terdapat kesenjangan yang sangat besar, yang sebagian mungkin dapat ditutupi oleh sumber daya dalam negeri. Afghanistan memiliki pelaku bisnis yang kompeten di sektor pertambangan yang mampu melakukan ekspor. Afghanistan dapat berbuat lebih banyak bagi penduduknya yang paling rentan, dan masyarakat internasional—yang selama bertahun-tahun hadir di sini dan menjalankan program-program pembangunan besar—seharusnya tidak melupakan warga sipil tersebut." Egeland juga mengatakan bahwa meskipun sumber daya keuangan berkurang, Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) terus memberikan bantuan di berbagai sektor.
Ia menambahkan bahwa jumlah pegawai NRC di Afghanistan telah berkurang dari hampir 800 menjadi 350 orang, namun jumlah penerima manfaat dari layanan organisasi tersebut tidak berkurang.
Seraya menyatakan optimisme mengenai masa depan Afghanistan, Egeland mengatakan bahwa kerja sama antara komunitas internasional dan pihak berwenang Afghanistan tetap penting untuk memperbaiki kehidupan jutaan warga Afghanistan. (haninmazaya/arrahmah.id)
