Memuat...

Serangan 'Israel' di Gaza Lukai Putra Pimpinan Hamas, Khalil al-Hayya

Zarah Amala
Kamis, 7 Mei 2026 / 20 Zulkaidah 1447 10:30
Serangan 'Israel' di Gaza Lukai Putra Pimpinan Hamas, Khalil al-Hayya
Putra Khalil al-Hayya terluka dalam serangan 'Israel' di Gaza (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Ketua gerakan Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, mengungkapkan bahwa putranya, Azzam, mengalami luka berat akibat serangan udara 'Israel' di lingkungan al-Daraj, Gaza, pada Rabu malam (6/5/2026). Al-Hayya menyatakan insiden ini merupakan bagian dari agresi berkelanjutan yang menargetkan rakyat Palestina.

Dalam pernyataannya kepada Al Jazeera, al-Hayya menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Hamza al-Sharbasi yang tewas dalam serangan yang sama. Ia menyebut putranya dan sejumlah warga lain mengalami luka "sangat parah" dan kini berada dalam kondisi kritis.

Meskipun tidak mengonfirmasi secara pasti apakah putranya adalah target langsung, al-Hayya menegaskan bahwa seluruh rakyat Palestina adalah sasaran. Ia menuding 'Israel' kerap menggunakan narasi yang berbeda untuk membenarkan operasi mereka, baik yang dianggap berhasil maupun gagal.

Menurut al-Hayya, pesan politik di balik serangan ini adalah upaya menekan negosiator Palestina agar menyerah dan memberikan sinyal bahwa para pemimpin serta keluarga mereka tidak aman. Ia menilai pembunuhan yang terjadi setiap hari merupakan bagian dari kebijakan intimidasi yang sistematis.

"Kebijakan ini tidak akan berhasil mematahkan keinginan rakyat Palestina. Kami tidak akan meninggalkan tanah kami dan tidak akan menyerah, tidak peduli seberapa besar pengorbanannya," tegasnya.

Terkait kesepakatan gencatan senjata, al-Hayya menuduh 'Israel' tidak mematuhi ketentuan fase pertama. Ia mencatat lebih dari 850 warga Palestina gugur selama tujuh bulan terakhir, dengan rata-rata lima korban jiwa per hari, di samping ribuan orang yang terluka akibat kelaparan sistematis dan pembatasan bantuan kemanusiaan.

Hamas mengaku telah melaporkan pelanggaran tersebut kepada para mediator dan penjamin, namun menurut al-Hayya, 'Israel' terus mengabaikannya. Ia mendesak para mediator, terutama Amerika Serikat, untuk bertanggung jawab dalam memaksa 'Israel' melaksanakan kesepakatan.

Al-Hayya menjelaskan bahwa kebuntuan menuju fase kedua negosiasi disebabkan oleh ketidakpatuhan 'Israel' pada fase pertama. Ia menegaskan bahwa Hamas siap melanjutkan ke tahap berikutnya segera setelah kewajiban kemanusiaan dipenuhi sepenuhnya.

Terkait wacana pelucutan senjata perlawanan, al-Hayya menyebut hal itu sebagai gagasan tidak realistis. Ia menekankan bahwa prioritas saat ini seharusnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar hidup, akses medis, pembukaan perlintasan, dan evakuasi jenazah dari bawah reruntuhan.

Tanggung Jawab Mediator

Al-Hayya menegaskan bahwa keberhasilan jalur negosiasi bergantung pada kemampuan mediator, khususnya Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat, dalam mendesak 'Israel'. "Jika pihak penjamin tidak mampu memaksa 'Israel', maka kesepakatan ini akan sia-sia," ujarnya.

Menanggapi ancaman 'Israel' untuk melanjutkan perang, al-Hayya menyatakan bahwa agresi sebenarnya tidak pernah berhenti, melainkan hanya berlangsung dengan intensitas rendah. Ia menegaskan bahwa Hamas tidak menginginkan eskalasi, namun akan mempertahankan rakyatnya jika konfrontasi dipaksakan.

Tujuan utama Hamas, menurutnya, tetap pada penghentian perang secara total, penarikan pasukan Israel, dan dimulainya rekonstruksi Gaza. Ia pun menyerukan komunitas internasional untuk segera turun tangan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. (zarahamala/arrahmah.id)