Memuat...

Reaksi Dunia terhadap Serangan Udara Pakistan di Afghanistan

Hanin Mazaya
Rabu, 23 September 2026 / 12 Rabiulakhir 1448 19:36
Reaksi Dunia terhadap Serangan Udara Pakistan di Afghanistan
Ilustrasi. (Foto: crisisgroup.org)

KABUL (Arrahmah.id) - Di tengah reaksi yang terus berlanjut terkait serangan udara militer Pakistan baru-baru ini di provinsi Kunar dan Paktika, Wakil Menteri Bidang Publikasi di Kementerian Informasi dan Kebudayaan Imarah Islam Afghanistan menyatakan bahwa Pakistan menyerang Afghanistan sebagai upaya untuk menghambat keamanan dan rekonstruksi negara tersebut.

Hayatullah Muhajir Farahi juga menegaskan bahwa Imarah Islam tidak akan tinggal diam dalam menghadapi agresor.

Hayatullah Muhajir Farahi, Wakil Menteri Bidang Publikasi di Kementerian Informasi dan Kebudayaan, mengatakan: "Selama beberapa hari, kelompok Houtsi telah melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, dan Pakistan menyerang Afghanistan untuk menampilkan citra seolah-olah mereka terlibat dalam perang di sini. Dalam konflik-konflik sebelumnya, Imarah Islam selalu memberikan respons setiap kali mereka melakukan serangan. Drone milik Imarah Islam bahkan pernah melancarkan serangan hingga ke Islamabad, Balochistan, dan Khyber Pakhtunkhwa."

Sementara itu, Global Human Rights Foundation menyatakan keprihatinannya atas laporan mengenai korban sipil akibat serangan udara Pakistan di Afghanistan dan menyerukan penyelidikan yang independen, transparan, serta kredibel terhadap insiden-insiden tersebut, lansir Tolo News (23/9/2026).

Organisasi tersebut juga menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional, perlindungan nyawa warga sipil, dan penurunan ketegangan (de-eskalasi) segera antara Afghanistan dan Pakistan.

International Human Rights Foundation menulis di X: "Warga sipil Afghanistan tidak boleh diperlakukan sebagai korban tambahan yang bisa dikorbankan begitu saja. IHRF menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional, perlindungan nyawa warga sipil, pertanggungjawaban atas setiap pelanggaran, dan de-eskalasi mendesak antara Pakistan dan Afghanistan. Keamanan tidak dapat dibangun di atas penderitaan warga sipil."

Zalmay Khalilzad, mantan Utusan Khusus AS untuk Rekonsiliasi Afghanistan, juga mengatakan bahwa pendekatan Pakistan saat ini dalam menangani krisis domestik dan hubungannya dengan Afghanistan tidak berhasil, dan bahwa Islamabad perlu mengubah strateginya.

Khalilzad memperingatkan bahwa melanjutkan pendekatan saat ini akan memperburuk situasi bagi Pakistan maupun Afghanistan.

Zalmay Khalilzad menulis di X: "Pakistan perlu mengubah strategi dalam menangani krisis internal utama dan terkait Afghanistan. Saya tetap ragu bahwa kepemimpinan saat ini akan mengubah strategi tersebut. Pendekatan saat ini berarti lebih banyak kabar buruk bagi Pakistan dan Afghanistan."

Hanif Khan Karokhail, seorang analis politik, mengatakan: "Untuk mengalihkan perhatian dari masalahnya sendiri, Pakistan menyeret pihak lain ke dalam kesulitan. Pakistan terus menjalankan kebijakan yang sama terhadap Afghanistan—kebijakan yang sejauh ini tidak membuahkan hasil dan tidak akan membuahkan hasil di masa depan." Ini bukan kali pertama Pakistan melancarkan serangan udara yang berdampak pada warga sipil di Afghanistan. Berdasarkan data dari Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA), lebih dari 1.100 warga sipil Afghanistan tewas atau terluka akibat kekerasan bersenjata lintas batas antara Afghanistan dan Pakistan sejak awal tahun 2026.

Reaksi-reaksi ini muncul setelah militer Pakistan melancarkan serangan udara di provinsi Paktika dan Kunar sekitar pukul 03.00 pagi pada Senin. Menurut informasi yang diperoleh, tiga orang tewas dan empat lainnya terluka dalam serangan udara terbaru di Kunar tersebut. (haninmazaya/arrahmah.id)