RIYADH (Arrahmah.id) -- Sekolah-sekolah di Riyadh sempat beralih ke pembelajaran jarak jauh pada Ahad (27/9/2026), di tengah meningkatnya ketegangan keamanan dan serangkaian serangan milisi Syiah Houtsi dari Yaman terhadap Arab Saudi. Namun, keputusan tersebut berubah dalam waktu singkat dan sekolah di ibu kota Saudi kembali menggelar pembelajaran tatap muka pada Senin (28/9). Perubahan mendadak itu berlangsung ketika pertahanan udara Saudi melaporkan mencegat drone dan rudal balistik yang diarahkan ke sejumlah wilayah kerajaan.
Orang tua di Riyadh menerima pemberitahuan dari sejumlah sekolah pada Ahad yang menyatakan kegiatan belajar tatap muka dihentikan dan diganti dengan pembelajaran daring selama sepekan, hingga Kamis (1/10). Dilansir AFP (28/9), pemberitahuan tersebut menyebut keputusan dilakukan berdasarkan instruksi otoritas Saudi, tetapi tidak menjelaskan alasan resmi pengalihan pembelajaran. Sejumlah sekolah menggunakan platform pembelajaran daring, termasuk Madrasati, untuk melanjutkan kegiatan pendidikan dari rumah.
Keputusan itu muncul sehari setelah koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat dua drone yang diluncurkan Houtsi menuju kawasan Riyadh. Juru bicara koalisi, Brigadir Jenderal Turki Al-Malki, juga mengatakan dua rudal balistik yang diarahkan ke Khamis Mushait di barat daya Saudi berhasil dicegat. Sebelumnya, koalisi melaporkan enam rudal balistik telah dicegat ketika diarahkan ke Taif dan kawasan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
The National melaporkan keputusan pembelajaran jarak jauh tersebut tidak disertai pengumuman resmi yang menjelaskan apakah seluruh sekolah di Riyadh memang diwajibkan tutup. Setidaknya tiga sekolah diketahui mengirim pemberitahuan kepada orang tua mengenai pembelajaran daring. Jerusalem Post juga melaporkan sejumlah sekolah swasta di Riyadh mengalihkan kegiatan belajar ke sistem daring dari 27 September sampai 1 Oktober, meskipun pada saat itu belum terdapat pengumuman menyeluruh dari otoritas pendidikan Riyadh mengenai penutupan seluruh sekolah.
Situasi kemudian berubah pada Senin. Sekolah-sekolah di Riyadh kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka setelah orang tua menerima pemberitahuan baru pada Ahad malam. AFP melaporkan salah satu pemberitahuan menyatakan seluruh kampus di Riyadh akan kembali dibuka berdasarkan arahan kementerian yang baru diterima.
Perubahan kebijakan pendidikan itu berlangsung ketika ketegangan Saudi-Houthi meningkat sejak Juli. Menurut laporan AFP, serangkaian serangan Houtsi terhadap Arab Saudi kembali meningkat setelah gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa tahun runtuh di tengah konflik regional yang lebih luas. Perkembangan tersebut membuat wilayah Saudi menghadapi ancaman serangan rudal dan drone secara berulang.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Turki, Mesir, Arab Saudi, dan Pakistan pada 22 September menegaskan hak Arab Saudi untuk mempertahankan diri sesuai dengan hukum internasional di tengah meningkatnya serangan Houtsi. Keempat negara juga menekankan pentingnya keamanan pelayaran di kawasan dan menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog serta diplomasi. (hanoum/arrahmah.id)
