YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Imam Masjid Al-Aqsa memperingatkan potensi peningkatan ketegangan berbahaya pada Jumat (15/5/2026) menyusul seruan dari sejumlah pejabat 'Israel' yang mengajak warga 'Israel' untuk memasuki kompleks Al-Aqsa dalam rangka memperingati Hari Yerusalem.
Peringatan tersebut disampaikan di Yerusalem Timur, khususnya di kompleks Masjid Al-Aqsa, yang merupakan salah satu situs suci paling sensitif di dunia. Situasi ini berkembang menjelang peringatan Hari Yerusalem, sebuah momen nasional di Israel yang sering kali diiringi aktivitas massa di wilayah yang disengketakan.
Imam Al-Aqsa, Sheikh Ekrima Sabri, seperti dilansir Palinfo (6/5), menegaskan kekhawatiran atas situasi tersebut. “Seruan ini dapat memicu ketegangan berbahaya dan memperburuk situasi di tempat suci ini,” ujarnya.
Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa sedikitnya belasan pejabat 'Israel', termasuk beberapa menteri, telah menyerukan warga untuk memasuki kompleks Al-Aqsa sebagai bagian dari peringatan Hari Yerusalem.
Media lain seperti CNN juga melaporkan bahwa ajakan tersebut dinilai berpotensi memicu konflik, mengingat status kompleks Al-Aqsa yang sensitif dan sering menjadi titik gesekan antara warga Palestina dan 'Israel'.
Selain itu, laporan dari Babel Insight dan unggahan Middle East Monitor di media sosial turut menguatkan adanya seruan dari pejabat 'Israel' tersebut yang mendorong mobilisasi massa ke kawasan Al-Aqsa.
Sejauh ini, otoritas 'Israel' belum memberikan pernyataan resmi yang merinci langkah pengamanan khusus terkait seruan tersebut. Namun, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa peringatan Hari Yerusalem kerap diiringi peningkatan kehadiran aparat keamanan di sekitar kompleks Al-Aqsa untuk mengantisipasi potensi bentrokan.
Situasi ini kembali menempatkan Al-Aqsa sebagai pusat perhatian internasional, dengan kekhawatiran bahwa eskalasi kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
