TEL AVIV (Arrahmah.id) - Menteri Keuangan 'Israel' Bezalel Smotrich menyerukan agar 'Israel' melancarkan perang di Tepi Barat yang diduduki dengan pola operasi militernya di Jalur Gaza.
Dalam wawancara dengan media 'Israel', Smotrich mengatakan 'Israel' perlu melakukan di sana apa yang mereka lakukan di Gaza dan membongkar Otoritas Palestina (PA) yang disebutnya sebagai otoritas teror. Ia juga menyerukan agar infrastruktur kelompok bersenjata di Tepi Barat dihancurkan.
Seruan tersebut disampaikan ketika 'Israel' memperketat pembatasan pergerakan warga Palestina di Tepi Barat. Penutupan pos pemeriksaan dan pemblokiran jalan dilaporkan mengisolasi sejumlah komunitas serta menghambat akses warga ke tempat kerja, rumah dan layanan dasar.
Smotrich juga kembali menyerukan pembubaran PA, lembaga yang dibentuk melalui Kesepakatan Oslo dan saat ini menjalankan pemerintahan terbatas di sejumlah wilayah Tepi Barat.
Ia telah berulang kali menentang keberadaan PA serta mendorong perluasan kontrol 'Israel' di Tepi Barat. Pernyataan terbarunya menunjukkan keinginannya agar operasi militer 'Israel' di Gaza dijadikan model untuk menangani kelompok bersenjata dan pemerintahan Palestina di wilayah tersebut.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam pernyataan Smotrich dan menyebutnya sebagai seruan berbahaya untuk memperluas eskalasi, aneksasi dan pemindahan warga Palestina.
Seruan Smotrich muncul di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023.
Menurut data Palestina yang dikutip sejumlah laporan, lebih dari 1.206 warga Palestina tewas, 13.300 lainnya terluka dan hampir 26.000 ditangkap oleh pasukan 'Israel' dan pemukim sejak periode tersebut. Laporan mengenai kekerasan itu mencakup pembongkaran rumah, penghancuran lahan pertanian, serangan terhadap masjid, pembatasan akses petani ke tanah mereka, serta pengusiran sejumlah komunitas Palestina.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga mencatat lebih dari 1.330 serangan terkait pemukim 'Israel' terhadap warga Palestina di Tepi Barat sejak Januari hingga akhir Juli 2026, dengan rata-rata sekitar enam serangan per hari. Angka tersebut disebut sebagai tingkat tertinggi dalam sekitar dua dekade.
Sementara itu, perang 'Israel' di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan hampir 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 lainnya, menurut otoritas kesehatan Palestina yang dikutip laporan terbaru. Sekitar 90 persen infrastruktur Gaza juga dilaporkan rusak atau hancur.
'Israel' menolak tuduhan bahwa operasi militernya di Gaza merupakan genosida dan menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk menghadapi Hamas serta ancaman keamanan terhadap 'Israel'.
Di Tepi Barat, Smotrich dan sejumlah anggota sayap kanan pemerintahan 'Israel' juga terus mendorong perluasan permukiman serta peningkatan kontrol 'Israel' atas wilayah yang diduduki tersebut.
Pernyataan terbaru Smotrich kini menambah tekanan terhadap masa depan pemerintahan Palestina di Tepi Barat, sekaligus memicu kecaman Palestina terkait ancaman eskalasi militer, aneksasi dan pemindahan penduduk. (zarahamala/arrahmah.id)
