Memuat...

Trump Ancam Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS

Zarah Amala
Sabtu, 15 Agustus 2026 / 3 Rabiulawal 1448 11:42
Trump Ancam Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS
Dalam pidatonya, Trump menyinggung tingginya harga bahan bakar di Amerika, dan menegaskan bahwa harga tersebut akan turun setelah Iran mengalami "kekalahan telak" (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan keras dengan mengumumkan rencana untuk segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai "wilayah milik Amerika Serikat", seraya memperingatkan Teheran dengan ancaman pukulan ekonomi yang masif.

​Dalam pidatonya di sebuah pusat kepolisian dan intelijen di New York, Jumat (14/8/2026), Trump membela kebijakan blokade laut terhadap Iran yang disebutnya sebagai dinding baja. Ia menegaskan bahwa Washington akan membalas setiap serangan Iran dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

​Trump juga menyinggung dampak kenaikan harga bahan bakar bagi warga AS akibat konflik tersebut, namun bersikeras bahwa kebijakan tersebut diperlukan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan senada diungkapkan oleh Wakil Presiden AS J.D. Vance yang menyatakan bahwa prioritas utama Washington saat ini adalah memulihkan arus pasokan minyak dan menurunkan harga energi di pasar domestik, menggeser fokus dari isu program nuklir. Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent menjatuhkan ancaman sanksi ekonomi baru yang diklaim belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengisolasi Teheren.

Di pihak lain, militer Iran menegaskan kesiapan penuh untuk menghadapi eskalasi apa pun. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil mendeteksi dan menembak jatuh sebuah drone intai canggih jenis MQ-9 Reaper di wilayah udara Provinsi Hormozgan, selatan Iran.

​Komandan Angkatan Laut IRGC, Laksamana Rearm Ali Azmoudeh, menegaskan bahwa Teheran memegang kendali mutlak atas perairan Selat Hormuz dan seluruh pergerakan militer asing terpantau ketat oleh pasukannya.

​Di tengah ketegangan yang terus memuncak di jalur air strategis tersebut, militer AS mulai merotasi kekuatannya dengan mengerahkan kapal induk USS George Washington ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya menjalani misi penugasan terpanjang di tengah berbagai tantangan operasional dan logistik. (zarahamala/arrahmah.id)