NEW YORK (Arrahmah.id) — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta masyarakat Amerika bersiap membayar harga bensin yang lebih mahal akibat perang dengan Iran dan terganggunya pelayaran di Selat Hormuz.
Trump mengatakan kenaikan harga bensin dalam jumlah terbatas merupakan harga yang layak dibayar untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah kampanye politik di Garden City, New York. Dikutip dari Reuters.
Trump menggambarkan Iran sebagai “negara yang sangat jahat” dan menegaskan bahwa sedikit tambahan biaya yang harus dibayar masyarakat di SPBU dinilai sepadan dengan tujuan tersebut.
Pernyataan Trump muncul ketika perang terus memberikan tekanan terhadap pasar energi global. Pada Jumat (14/8/2026), kontrak berjangka minyak mentah naik sekitar 1 dolar AS per barel di tengah terhentinya secara efektif lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) juga berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan masing-masing sekitar 6 persen dan 5,4 persen.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur terpenting bagi perdagangan energi dunia. Sebelum ditutup setelah pecahnya perang Amerika Serikat dan "Israel" terhadap Iran pada 28 Februari lalu, sekitar seperlima ekspor minyak dunia melintasi selat tersebut.
Berdasarkan analisis perusahaan pelacak kapal Kpler, hanya dua kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Jumat. Tidak ada pengiriman minyak mentah yang terdeteksi. Kondisi tersebut sangat kontras dengan situasi sebelum perang, ketika lebih dari 130 kapal melintasi selat itu setiap hari.
Dilema Politik Trump
Kenaikan harga bensin menempatkan Trump dalam posisi politik yang sulit karena bertentangan dengan salah satu janji kampanyenya, yakni menurunkan biaya energi dan meningkatkan daya beli masyarakat Amerika.
Trump berusaha meyakinkan masyarakat bahwa tambahan biaya yang harus dikeluarkan di SPBU merupakan “harga yang dapat diterima” demi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Namun, Partai Demokrat berupaya memanfaatkan dampak ekonomi perang dengan Iran, termasuk kenaikan harga bahan bakar, sebagai isu utama dalam pemilihan paruh waktu Kongres AS yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Kapal Tanker Diserang
Risiko terhadap pelayaran di Selat Hormuz juga semakin meningkat.
Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) mengatakan dua kapal miliknya diserang ketika melintasi Selat Hormuz pada Kamis malam. Kantor berita resmi Uni Emirat Arab, WAM, juga melaporkan sebuah kapal lainnya mengalami serangan pada Jumat.
Iran menyebut pembatasan terhadap lalu lintas pelayaran sebagai bentuk “blokade”. Sementara itu, Amerika Serikat menggunakan istilah serupa untuk menggambarkan ancamannya terhadap kapal-kapal Iran yang meninggalkan pelabuhan negara tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Tehran akan terus memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk membuka atau menutup selat tersebut “hanya akan dilakukan atas perintah Iran”.
Menurutnya, Amerika Serikat tidak dapat menguasai Selat Hormuz hanya “dengan sebuah cuitan, kapal induk, atau mengeluarkan perintah”.
(Samirmusa/arrahmah.id)
