GAZA (Arrahmah.id) - Jalur Gaza kembali menghadapi ancaman kelaparan akibat pembatasan pasokan pangan oleh 'Israel' dan pemangkasan bantuan kemanusiaan. Krisis tepung terigu bahkan mengancam operasional seluruh toko roti yang masih bertahan di wilayah tersebut.
Kepala Asosiasi Pemilik Toko Roti Gaza, Abdel Nasser al-Ajrami, memperingatkan pada Kamis (22/10/2026) bahwa tujuh toko roti yang masih beroperasi dapat berhenti memproduksi roti dalam waktu 48 jam jika pasokan tepung baru tidak masuk ke Gaza. Pernyataan itu dilaporkan Quds News Network (QNN).
Menurut al-Ajrami, gudang tepung telah kosong dan kekurangan pasokan mencapai 100 persen. Persediaan terbatas habis setelah 'Israel' menutup perlintasan pada pekan sebelumnya dan tetap membatasi pengiriman tepung komersial meski sebagian perlintasan kembali dibuka.
Dari 20 toko roti yang sebelumnya beroperasi, kini hanya tujuh yang masih bertahan. Toko roti komersial yang bergantung pada pasokan tepung dari luar Gaza telah berhenti beroperasi. Sementara itu, tepung yang masih tersedia di pasar berasal dari Program Pangan Dunia (WFP).
Euro-Med Human Rights Monitor juga memperingatkan bahwa tujuh toko roti yang didukung WFP berisiko berhenti beroperasi dalam 48 jam. Sejumlah toko roti telah tutup akibat kekurangan tepung dan bahan bakar, termasuk dua fasilitas besar di Kota Gaza.
Organisasi yang berbasis di Jenewa itu melaporkan bahwa pasar semakin kosong dan harga pangan melonjak. Pasokan yang saat ini diizinkan masuk ke Gaza disebut hanya memenuhi maksimal 37 persen kebutuhan penduduk.
Euro-Med menuduh 'Israel' sengaja menghalangi warga Palestina memperoleh makanan yang cukup di tengah genosida yang masih berlangsung, sebagaimana dilaporkan Anadolu.
'Israel' menghentikan pengiriman barang komersial pada 13 Oktober sebelum mengumumkan pada 19 Oktober bahwa sebagian impor dapat kembali masuk. Namun, menurut Euro-Med, kebijakan itu belum banyak membantu karena pengiriman masih dibatasi ketat dan buah serta sayuran segar tetap tidak diizinkan masuk.
Penutupan perlintasan setiap Jumat dan Sabtu juga menimbulkan ketidakpastian mengenai kelanjutan pasokan. Kondisi ini dikhawatirkan menghabiskan stok pangan yang tersisa dan membuat harga semakin tidak terjangkau bagi keluarga Gaza.
Krisis tepung terjadi bersamaan dengan pemangkasan bantuan WFP akibat kekurangan pendanaan.
Pada Senin (19/10), WFP mengumumkan pengurangan jumlah penerima bantuan pangan dan uang tunai dari 1,6 juta menjadi 1,1 juta orang. Artinya, sekitar 500 ribu warga Palestina kehilangan akses terhadap bantuan bulanan tersebut, menurut QNN.
Jatah paket pangan juga dikurangi dari dua menjadi satu paket per keluarga, disertai pengurangan alokasi tepung. Jumlah makanan siap santap yang dibagikan setiap hari turun dari 250 ribu menjadi 150 ribu porsi. Bantuan tunai untuk 75 ribu keluarga juga dipangkas.
Pemantauan WFP pada paruh pertama September menemukan bahwa 44 persen rumah tangga yang disurvei mengaku anggota keluarganya pernah tidur dalam keadaan lapar setidaknya sekali selama sebulan sebelumnya. Sebanyak 45 persen lainnya mengatakan mereka pernah kehabisan seluruh persediaan makanan dalam periode yang sama.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Kamis (22/10) memperingatkan bahwa bantuan kemanusiaan penting ke Gaza masih sangat dibatasi 'Israel' menjelang musim dingin.
Ia menyebut WFP membutuhkan dana mendesak sebesar 450 juta dolar AS untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga Gaza dan Tepi Barat selama enam bulan ke depan, yakni Oktober 2026 hingga Maret 2027.
Guterres membandingkan kebutuhan tersebut dengan sekitar 90 menit pengeluaran militer global dan mendesak para donor meningkatkan dukungan.
Euro-Med juga menyerukan agar 'Israel' mencabut pembatasan masuknya barang-barang kebutuhan pokok. Organisasi itu meminta para donor internasional menambah bantuan pangan dan membantu toko-toko roti kembali beroperasi. (zarahamala/arrahmah.id)
