GAZA (Arrahmah.id) - Warga di sejumlah wilayah Kota Gaza mengeluhkan bau sangat menyengat yang menyebar di udara pada malam hari. Sejumlah warga dan jurnalis setempat menyebut bau tersebut berasal dari benda-benda yang diduga dijatuhkan oleh drone 'Israel' di atas permukiman dan tenda pengungsian.
Menurut laporan Al Jazeera, bau tersebut tercium di wilayah yang membentang dari kawasan Shujaiya, Al-Daraj, dan Al-Tuffah di timur hingga Al-Shati dan Beit Lahia di barat. Sejumlah warga menggambarkannya sebagai benda atau gelembung yang pecah di udara dan menyebarkan bau menyengat.
Pejabat kesehatan lingkungan dan keselamatan kerja di Kementerian Kesehatan Gaza, Ayman al-Ramlawi, mengatakan laporan mengenai bau tersebut datang dari sejumlah wilayah di Kota Gaza dan Gaza utara. Ia menyebut bau itu juga dirasakannya, tetapi hingga kini belum ada informasi pasti mengenai jenis atau kandungan material tersebut karena sampel belum dapat diperoleh untuk pemeriksaan kimia.
Jurnalis Palestina Yusuf Faris mengatakan melalui Facebook bahwa ratusan benda yang membawa bau tersebut diduga dijatuhkan dari pesawat 'Israel' dan menyebar ke berbagai kawasan. Aktivis Yaser Hammad juga mengaku mencium bau kuat selama dua malam berturut-turut dan mengatakan bau tersebut menimbulkan iritasi serta gangguan pernapasan.
Namun, belum ada pemeriksaan independen yang memastikan apakah material itu hanya mengandung zat berbau menyengat atau memiliki kandungan kimia berbahaya. Kekhawatiran mengenai kemungkinan efek kesehatan karena itu masih belum dapat dipastikan.
Penggunaan zat berbau menyengat oleh aparat 'Israel' bukan hal yang sepenuhnya baru. Organisasi hak asasi dan laporan media sebelumnya mendokumentasikan penggunaan cairan yang dikenal sebagai skunk water atau air sigung untuk membubarkan demonstrasi Palestina.
Di Tepi Barat, cairan tersebut dilaporkan digunakan sejak 2008, sementara di Yerusalem penggunaannya juga tercatat dalam aksi-aksi protes pada 2014 dan 2015. Cairan itu dikenal memiliki bau yang sangat menyengat dan dapat menyebabkan mual serta muntah.
Al Jazeera juga melaporkan bahwa polisi 'Israel' menggunakan cairan berbau tersebut dalam pembubaran demonstrasi di Sheikh Jarrah pada 2021 dan dalam aksi Great March of Return di Gaza pada 2018.
Pada akhir Juni 2026, 'Israel' juga dilaporkan memompa material yang disebut menyerupai semen ke terowongan di sekitar Kamp Maghazi, Gaza tengah. Material tersebut kemudian mengalir ke jalan dan di antara rumah-rumah warga. Sifat dan kandungannya juga disebut belum diketahui secara pasti.
Kekhawatiran dampak kesehatan
Konsultan kesehatan lingkungan dan toksikologi Ramzi Sansour sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera bahwa cairan yang digunakan dalam penyemprotan terhadap warga Palestina memiliki karakteristik yang mendekati air limbah. Ia menduga material tersebut mengandung senyawa sulfur dan bahan organik buatan.
Namun, menurut Sansour, material itu belum dapat diperiksa di laboratorium Palestina karena sulit memperoleh sampel. Ia memperingatkan bahwa dampak kesehatan dari paparan material semacam itu perlu diteliti lebih lanjut.
Laporan mengenai bau menyengat di Gaza muncul ketika kondisi lingkungan di wilayah tersebut telah mengalami kerusakan parah akibat perang. Al Jazeera mengutip data Kementerian Kesehatan Palestina yang menyebut 73.922 warga Palestina tewas dan sekitar 175.000 lainnya terluka sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Data yang sama menyebut pelanggaran terhadap gencatan senjata sejak Oktober tahun lalu telah menyebabkan 1.402 kematian dan 4.881 luka-luka. Angka tersebut merupakan data dari otoritas kesehatan Palestina dan belum diverifikasi secara independen. (zarahamala/arrahmah.id)
