Memuat...

24 Jam yang Membingungkan: Trump Berulang Kali Bertentangan soal Iran

Samir Musa
Ahad, 22 Maret 2026 / 3 Syawal 1447 09:55
24 Jam yang Membingungkan: Trump Berulang Kali Bertentangan soal Iran
Presiden AS Donald Trump saat pengumuman di Ruang Roosevelt Gedung Putih di Washington, DC, pada 12 Februari 2026 (Saul Loeb/AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai sorotan setelah dalam kurun waktu 24 jam ia mengeluarkan serangkaian pernyataan yang saling bertentangan terkait perang melawan Iran.

Laporan Associated Press mencatat, Trump mengirim sinyal yang membingungkan: mulai dari rencana mengakhiri perang, melonggarkan sanksi, hingga justru menambah kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini memicu pertanyaan serius terkait arah strategi Washington dalam konflik yang juga melibatkan "Israel".

Isyarat Akhiri Perang

Setelah tekanan berat di pasar keuangan global, Trump pada Jumat menyatakan bahwa Amerika “sangat dekat” dengan pencapaian tujuan militernya.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer besar di Timur Tengah.

Trump mengklaim bahwa kemampuan maritim, rudal, dan industri Iran telah dilemahkan, serta menegaskan bahwa Teheran telah dicegah untuk memperoleh senjata nuklir.

Namun, dalam pernyataan yang mengejutkan, ia juga memberi sinyal bahwa Amerika bisa mundur tanpa mengamankan Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

“Negara-negara lain yang menggunakan Selat Hormuz harus melindunginya sendiri,” tulis Trump.

Meski begitu, ia kembali membuka kemungkinan keterlibatan AS jika diminta—sebuah kontradiksi lain dalam pernyataannya.

Tambah Pasukan di Tengah Wacana Mundur

Di saat yang sama, pemerintahan Trump justru mengumumkan pengiriman tambahan kekuatan militer ke kawasan.

Sebanyak tiga kapal perang dan sekitar 2.500 personel marinir dikerahkan, menambah total sekitar 50.000 tentara yang kini mendukung operasi militer.

Langkah ini menjadi pengiriman kedua dalam sepekan, meski Trump sebelumnya menyatakan tidak akan mengirim pasukan darat dalam skala besar.

Para analis menilai, pengamanan Selat Hormuz pada akhirnya tetap membutuhkan kehadiran militer di lapangan.

Sementara itu, Pentagon dilaporkan tengah mengajukan tambahan anggaran hingga 200 miliar dolar kepada Kongres—angka yang menunjukkan konflik ini masih jauh dari kata selesai.

Sanksi Dilonggarkan, Minyak Iran Dilepas

Dalam langkah lain yang tak kalah mengejutkan, pemerintahan Trump melonggarkan sebagian sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Kebijakan ini disebut bertujuan meredam lonjakan harga energi global, sekaligus membuka pasokan tambahan ke pasar internasional.

Namun, langkah tersebut justru dinilai paradoks, karena di saat yang sama Washington terus menekan dan menyerang Iran secara militer.

Harga minyak dunia tetap tinggi, dan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Kritik dari Dalam Negeri

Kontradiksi kebijakan ini bahkan memicu kritik dari kalangan Partai Republik sendiri.

Anggota Kongres Nancy Mace menyindir kebijakan tersebut dengan mengatakan:

“Membombardir Iran dengan satu tangan, dan membeli minyaknya dengan tangan yang lain.”

Arah Perang Masih Kabur

Memasuki pekan keempat, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih berjalan tanpa arah yang jelas.

Campuran kebijakan militer dan ekonomi yang saling bertentangan dinilai memperkuat anggapan bahwa Washington belum memiliki strategi jangka panjang yang matang.

Di tengah ketidakpastian tersebut, dampak terhadap ekonomi global terus terasa—mulai dari gejolak pasar saham hingga lonjakan harga energi di berbagai belahan dunia.

(Samirnusa/arrahmah.id)