Memuat...

Arab Saudi, UEA, dan Kuwait Kompak Lakukan Perlawanan Terhadap Serangan Rudal dan Drone Iran

Zarah Amala
Selasa, 24 Maret 2026 / 5 Syawal 1447 10:45
Arab Saudi, UEA, dan Kuwait Kompak Lakukan Perlawanan Terhadap Serangan Rudal dan Drone Iran
Kepulan asap tebal membubung setelah serangan Iran di kawasan industri Fujairah di Uni Emirat Arab (AFP).

ABU DHABI (Arrahmah.id) - Memasuki pekan keempat perang besar AS-'Israel' melawan Iran, negara-negara Teluk terus berada dalam status siaga tinggi. Pada Senin (23/3/2026), Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait kembali melaporkan keberhasilan sistem pertahanan udara mereka dalam merontokkan gelombang rudal balistik dan drone yang dikirim langsung dari daratan Iran.

Meskipun Teheran berdalih hanya menyasar kepentingan Amerika sebagai aksi balas dendam atas kematian Ali Khamenei, fakta di lapangan menunjukkan infrastruktur sipil seperti bandara dan pelabuhan menjadi korban, memicu kecaman internasional yang semakin meluas.

Kemenhan UEA merilis statistik mengejutkan sejak konflik pecah (28 Februari). Mereka telah mencegat total 352 rudal balistik, 15 rudal kris, dan 1.789 drone. Serangan ini telah menewaskan 2 tentara dan 6 warga sipil (lintas negara), serta melukai 161 orang. Terbaru, seorang warga India terluka ringan akibat serpihan rudal di wilayah Al-Shawamekh.

Sementara itu, pertahanan udara Saudi berhasil menghancurkan 4 drone di wilayah Timur dan mencegat satu rudal balistik yang mengarah ke ibu kota Riyadh. Satu rudal lainnya dilaporkan jatuh di area tak berpenghuni tanpa menimbulkan kerusakan.

Militer Kuwait mengonfirmasi pencegatan satu rudal balistik dan beberapa drone tanpa ada korban jiwa. Sementara itu, Bahrain mencatatkan total 147 rudal dan 282 drone yang berhasil dijatuhkan oleh sistem pertahanan mereka sejak awal agresi.

Iran mengeklaim serangan ini adalah respons atas kematian ratusan pejabat mereka, namun negara-negara Teluk menegaskan bahwa serangan tersebut justru melanggar kedaulatan dan membahayakan warga sipil serta fasilitas publik yang tidak terkait dengan militer AS.

Hingga hari ke-24, langit di semenanjung Arab hampir setiap hari diwarnai oleh jejak intersepsi rudal. Kehadiran kapal selam nuklir Inggris (HMS Anson) dan tambahan ribuan Marinir AS di kawasan diharapkan dapat memperkuat payung pertahanan udara sekutu, meskipun risiko "peluru nyasar" atau serpihan rudal tetap menjadi ancaman nyata bagi penduduk kota-kota besar di Teluk. (zarahamala/arrahmah.id)