Memuat...

Blok Oposisi Ungguli Netanyahu dalam Proyeksi Awal Pemilu 'Israel'

Zarah Amala
Rabu, 28 Oktober 2026 / 18 Jumadilawal 1448 10:00
Blok Oposisi Ungguli Netanyahu dalam Proyeksi Awal Pemilu 'Israel'
Blok yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot, mantan kepala militer berhaluan tengah kanan, unggul tipis atas blok Netanyahu, yang mencakup kelompok sayap kanan ekstrem [getty]

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Blok oposisi 'Israel' unggul tipis atas blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam hasil sementara pemilu yang digelar Selasa (27/10/2026). Proyeksi awal menunjukkan meningkatnya partisipasi pemilih dan perolehan suara partai-partai Arab berpotensi mengubah peta politik 'Israel'.

Dilansir The New Arab, hasil jajak pendapat pemilih (exit poll) dari sejumlah stasiun televisi 'Israel' menunjukkan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, mantan kepala militer berhaluan kanan-tengah, diproyeksikan memperoleh 52–53 kursi. Sementara itu, blok Netanyahu diperkirakan meraih sekitar 50 kursi.

Meski demikian, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu diproyeksikan menjadi partai tunggal terbesar di parlemen dengan 24–25 kursi.

Pemilu kali ini merupakan pemilu pertama 'Israel' sejak perang di Jalur Gaza pecah pada Oktober 2023. Tidak ada satu partai pun yang diperkirakan memperoleh mayoritas di parlemen yang memiliki 120 kursi. Karena itu, para politisi diperkirakan akan menjalani negosiasi panjang untuk membentuk pemerintahan koalisi.

Tingkat partisipasi pemilih secara nasional mencapai hampir 75 persen hingga pukul 20.00 waktu setempat, menurut laporan tersebut. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade.

Sekitar 7,3 juta warga 'Israel' tercatat memenuhi syarat untuk memberikan suara. Puluhan ribu warga 'Israel' yang tinggal di luar negeri juga diperkirakan kembali ke negara itu untuk mengikuti pemilu yang dinilai menentukan arah politik 'Israel' ke depan.

Netanyahu, yang telah menjabat sebagai perdana menteri selama lebih dari 19 tahun secara tidak berturut-turut, menghabiskan hari pemungutan suara dengan menyerukan pendukungnya untuk datang ke tempat pemungutan suara. Ia juga menyoroti meningkatnya partisipasi warga Arab 'Israel'.

Netanyahu menuduh warga Arab 'Israel' berupaya “mencuri pemilu” dan memperingatkan bahwa negara itu bisa bangun dengan pemerintahan yang dipimpin kelompok kiri dan Ikhwanul Muslimin. Ia juga mengklaim tiga pejabat senior Daftar Arab Bersatu ditangkap di wilayah selatan dengan amplop berisi uang tunai.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Komite Pemilihan Umum Pusat, Dean Livne, mengatakan polisi menangkap sejumlah orang yang diduga mencoba menyuap pemilih. Namun, ia menegaskan bahwa para tersangka tidak berada di tempat pemungutan suara dan ditangkap di dekat rumah mereka.

Livne menyebut kasus tersebut bersifat lokal dan masih dalam penyelidikan.

Mansour Abbas, pemimpin Daftar Arab Bersatu, menuduh Netanyahu berbohong dan melakukan provokasi untuk mengerahkan para pendukungnya. Sementara itu, pihak oposisi menilai tuduhan Netanyahu berpotensi menjadi dalih untuk mempersoalkan hasil pemilu.

Hasil awal juga menunjukkan peningkatan signifikan perolehan kursi partai-partai Arab. Dua daftar politik Arab diproyeksikan meraih total 17–18 kursi di parlemen, naik dari 10 kursi yang mereka peroleh dalam pemilu 2022.

Dengan persaingan yang ketat, partai-partai Arab berpotensi memainkan peran penting dalam menentukan komposisi pemerintahan berikutnya, terutama jika kedua blok utama gagal memperoleh mayoritas.

Netanyahu kembali berkuasa pada Desember 2022 dengan membentuk koalisi bersama kelompok-kelompok ultra-nasionalis sayap kanan. Sejak itu, kelompok tersebut semakin memperkuat pengaruh politiknya dan secara agresif mendukung perluasan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Pada hari-hari terakhir kampanye, Netanyahu mengunggah gambar bom nuklir yang menghancurkan Tel Aviv dan menonjolkan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap dirinya.

Hasil yang dirilis sejauh ini masih berupa proyeksi awal dan belum merupakan hasil resmi. Perolehan kursi final serta komposisi koalisi pemerintahan akan ditentukan setelah proses penghitungan suara dan negosiasi politik berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)