TEPI BARAT (Arrahmah.id) -- 'Israel' menutup akses ke Taybeh, salah satu desa Kristen Palestina terakhir yang sepenuhnya berpenduduk Kristen di Tepi Barat, bagi warga non-penduduk atau turis pada Ahad (9/8/2026). Militer 'Israel' menyatakan langkah tersebut ditujukan untuk mencegah serangan yang dilakukan pemukim 'Israel' terhadap warga Palestina di wilayah itu, tetapi keputusan tersebut sekaligus membatasi akses warga 'Israel' ke desa yang memiliki nilai sejarah dan religius penting bagi umat Kristen.
Taybeh berada di sebelah timur Ramallah dan dikenal sebagai salah satu komunitas Kristen tertua yang masih bertahan di Tepi Barat. Desa tersebut juga menjadi tujuan kunjungan tokoh-tokoh gereja, termasuk Patriark Ortodoks Yunani dan kardinal Katolik Roma dari Yerusalem. Selain warisan keagamaannya, Taybeh dikenal memiliki tempat pembuatan bir yang disebut sebagai salah satu yang tertua di Timur Tengah.
Keputusan penutupan dikeluarkan setelah meningkatnya kekerasan pemukim 'Israel' di sekitar Taybeh. Militer 'Israel' mengatakan status wilayah tertutup hanya berlaku bagi warga 'Israel', bukan bagi penduduk Palestina. Juru bicara militer menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah terjadi sejumlah serangan kekerasan oleh warga Israel di kawasan tersebut.
"Setelah menerima laporan mengenai pelanggaran terhadap perintah tersebut, tentara IDF dikirim ke lokasi dan bertindak untuk membubarkan kerumunan serta menahan tersangka guna melindungi warga di wilayah tersebut dan menjaga ketertiban," demikian pernyataan militer 'Israel' yang dikutip Reuters (10/8).
Penutupan itu terjadi setelah serangkaian insiden yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga Taybeh. Pada Juni lalu, pemukim 'Israel' dilaporkan menghalangi upaya petugas pemadam kebakaran Palestina memadamkan kebakaran besar di sekitar desa. Pastor Taybeh, Bashar Fawadleh, sebelumnya mengatakan bahwa warga menghadapi pola intimidasi dan kekerasan yang terus berlangsung.
Pastor Bashar Fawadleh juga telah menyerukan tindakan internasional untuk mempertahankan keberadaan komunitas Kristen di Taybeh. Dalam wawancara dengan Vatican News, ia mengatakan, "Tanah Suci tidak dapat dipertahankan hanya dengan kata-kata. Tanah ini harus dilindungi melalui tindakan nyata."
Ia memperingatkan bahwa pembangunan pos permukiman baru di dekat rumah warga dapat memperburuk tekanan terhadap komunitas Kristen setempat.
Menurut laporan Reuters, Taybeh sebagian berada di Area B berdasarkan pengaturan Oslo, sehingga administrasi sipil berada di bawah Otoritas Palestina, sementara persoalan keamanan memerlukan koordinasi dengan Israel. Di Tepi Barat dan Yerusalem terdapat sekitar 50.000 warga Palestina beragama Kristen, sebuah komunitas yang telah hidup di kawasan tersebut sejak zaman kuno.
Situasi di Taybeh menjadi bagian dari meningkatnya ketegangan di Tepi Barat. Laporan PBB yang dirilis pekan lalu menyatakan bahwa otoritas Israel terlibat secara langsung dalam serangan pemukim yang menyebabkan warga Palestina tewas, terluka, dan terusir. Pemerintah 'Israel' menolak temuan tersebut dan mengatakan para pemimpinnya telah berulang kali mengecam kekerasan terhadap warga Palestina. (hanoum/arrahmah.id)
