Memuat...

Darurat Energi Filipina–Bangladesh, Warga Terpaksa Jalan Kaki

Hanoum
Jumat, 27 Maret 2026 / 8 Syawal 1447 04:49
Darurat Energi Filipina–Bangladesh, Warga Terpaksa Jalan Kaki
Kelangkaan BBM memaksa ribuan orang filipina berjalan kaki jauh untuk mencapai tujuan mereka. [Foto: Manila Standrart]

MANILA (Arrahmah.id) -- Filipina dan Bangladesh menghadapi krisis energi serius yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, dengan kelangkaan bahan bakar memaksa sebagian warga berjalan kaki untuk beraktivitas di tengah gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.

Dilansir Reuters (26/3/2026), pemerintah Filipina secara resmi menetapkan status darurat energi nasional setelah pasokan bahan bakar terancam akibat gejolak global. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyebut kondisi ini sebagai “ancaman nyata” terhadap ketahanan energi, dengan cadangan nasional diperkirakan hanya cukup untuk sekitar beberapa minggu ke depan.

Dampaknya langsung terasa di lapangan. Lonjakan harga BBM dan keterbatasan pasokan menyebabkan terganggunya transportasi publik, sehingga banyak warga terpaksa berjalan kaki menuju tempat kerja atau tujuan lain. Tekanan terhadap sektor transportasi bahkan memicu aksi protes dari pekerja transportasi dan masyarakat.

Krisis ini tidak hanya terjadi di Filipina. Di Bangladesh, menurut Al Jazeera, pemerintah juga menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya biaya impor energi dan terbatasnya pasokan. Negara ini sangat bergantung pada impor energi, sehingga gangguan global langsung berdampak pada distribusi BBM domestik.

Sejumlah kebijakan darurat telah diterapkan, termasuk pembatasan distribusi bahan bakar, pengurangan aktivitas ekonomi, hingga imbauan untuk mengurangi perjalanan. Bahkan, beberapa negara termasuk Bangladesh mendorong kerja jarak jauh dan pembatasan mobilitas untuk menghemat energi.

Secara regional, krisis ini merupakan bagian dari gangguan besar pada rantai pasok energi global, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang menghambat jalur distribusi minyak utama dunia. Dampaknya meluas ke berbagai negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi, memicu kebijakan penghematan hingga potensi perlambatan ekonomi.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa krisis energi global kini telah masuk ke fase yang berdampak langsung pada masyarakat, dengan perubahan drastis pada mobilitas sehari-hari, termasuk fenomena warga yang terpaksa berjalan kaki akibat kelangkaan bahan bakar. (hanoum/arrahmah.id)