Memuat...

Di Tengah Tenda Pengungsian, Anak-anak Gaza Rayakan Hafalan Al-Qur'an

Zarah Amala
Sabtu, 19 September 2026 / 8 Rabiulakhir 1448 10:52
Di Tengah Tenda Pengungsian, Anak-anak Gaza Rayakan Hafalan Al-Qur'an
(Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Di tempat yang selama bertahun-tahun akrab dengan pengungsian, tenda, dan ketakutan, warga Gaza menggelar momen berbeda. Anak-anak, remaja putra dan putri berkumpul di Al-Mawasi, Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, bukan untuk membawa barang-barang mereka saat mengungsi, melainkan untuk merayakan keberhasilan menghafal Al-Qur'an.

Salah seorang peserta adalah seorang siswi yang memulai perjalanan menghafal Al-Qur'an pada usia 13 tahun. Perang memaksanya mengungsi dari Rafah ke Khan Yunis, tetapi ia tetap melanjutkan hafalannya hingga berhasil menyelesaikan seluruh Al-Qur'an di tengah kehancuran dan kondisi yang serba sulit.

Perjalanan para penghafal Al-Qur'an itu juga tidak mudah. Salah seorang dari mereka mengatakan dirinya terluka dalam perang setelah sebuah rudal jatuh di dekatnya ketika sedang berjalan. Ia menjalani perawatan selama 45 hari, termasuk tujuh hari di ruang perawatan intensif.

Cedera tersebut tidak menghentikannya menghafal Al-Qur'an. Ia terus belajar meski harus berpindah-pindah tempat dan menghabiskan waktu menunggu di depan dapur umum, fasilitas air, serta sekolah.

Menuntaskan Hafalan setelah Kehilangan Keluarga

Kisah seorang penghafal perempuan lainnya bahkan lebih berat. Pada 22 Februari 2024, rumah keluarganya terkena serangan. Ayah, ibu, dan saudara-saudaranya tewas, sementara ia menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat.

Ayahnya sebelumnya telah memulai perjalanan menghafal Al-Qur'an bersamanya dan berharap suatu hari dapat melihat putrinya menjadi penghafal Al-Qur'an.

Setelah kehilangan seluruh keluarganya, ia tidak berhenti. Ia bergabung dengan kamp-kamp Jil al-Wahy al-Qur'ani dan melanjutkan hafalannya sambil mengenang cita-cita sang ayah.

Ia mengatakan khataman Al-Qur'an yang diselesaikannya dipersembahkan untuk ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Ia juga berterima kasih kepada keluarga pamannya yang mendukungnya selama perjalanan tersebut.

Dalam acara tersebut, seorang anak perempuan berdiri dan melantunkan kalimat sederhana yang menggambarkan cita-citanya:

“Aku akan besar dan menjadi seperti mereka.”

Namun, perang juga menjangkau tempat-tempat penghafalan Al-Qur'an. Salah seorang pengawas mengatakan tembakan dari tank 'Israel' sempat menyasar lokasi tersebut ketika suara bacaan Al-Qur'an terdengar dari halaqah.

Seorang pengawas lainnya mengatakan Gaza tetap melahirkan para penghafal Al-Qur'an dari tengah tenda-tenda pengungsian meski wilayah itu dipenuhi reruntuhan. Menurutnya, para siswa telah berusaha keras untuk menyelesaikan hafalan mereka dalam kondisi yang sangat berat.

Salah seorang ibu yang hadir dalam acara itu juga menceritakan pengalaman putrinya. Ia mengatakan keluarganya telah mengalami lebih dari 12 kali pengungsian, kehilangan rumah, menghadapi luka, ketakutan, kelaparan, dan kehancuran.

Namun, di tengah semua itu, putrinya tetap pergi ke kamp-kamp tahfiz hingga berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur'an.

Sang ibu mengatakan anak-anak Gaza “tumbuh sebelum waktunya” karena pengalaman perang yang mereka hadapi. Namun, menurutnya, mereka juga mampu meraih berbagai pencapaian di tengah kondisi tersebut.

Di Al-Mawasi, Khan Yunis, acara tersebut bukan sekadar perayaan berakhirnya perjalanan menghafal Al-Qur'an. Momen itu menjadi kesempatan bagi warga untuk merasakan kembali kehidupan normal: anak-anak menghafal, orang tua memberikan dukungan, dan sebuah cita-cita terus tumbuh di tengah tenda-tenda pengungsian. (zarahamala/arrahmah.id)