Memuat...

FENOMENA AKHIR ZAMAN: Ketika Islam Tinggal Nama dan Al-Qur’an Sebatas Tulisan

Oleh Ustadz Irfan S. Awwas
Ahad, 22 Februari 2026 / 5 Ramadan 1447 14:42
FENOMENA AKHIR ZAMAN: Ketika Islam Tinggal Nama dan Al-Qur’an Sebatas Tulisan
FENOMENA AKHIR ZAMAN: Ketika Islam Tinggal Nama dan Al-Qur’an Sebatas Tulisan

Dalam perjalanan sejarah umat manusia, kita sering kali diingatkan oleh Rasulullah SAW tentang tantangan iman yang akan terjadi di masa depan. Sebuah kondisi yang ironis, di mana simbol-simbol agama menjulang tinggi, namun esensi spiritualnya justru memudar.

Suatu waktu Rasulullah SAW mengadu kepada Allah SWT tentang sikap umatnya terhadap Al-Qur'an.

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Rasul Allah berkata: "Wahai Tuhanku, kaumku benar-benar telah menjauhi aku karena aku menyampaikan Al-Qur'an ini kepada mereka."
(QS. Al-Furqan [25]: 30)

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang cukup “menggetarkan” dalam Al-Qur'an, karena berisi pengaduan langsung dari Rasulullah ﷺ kepada Allah SWT mengenai sikap kaumnya. Dapat dibayangkan, betapa pedihnya hati Rasulullah, manusia menjauhi bahkan memusuhi dakwah yang disampaikannya. Panggilannya diabaikan, dakwahnya dimusuhi, undangannya tidak dipenuhi, ajakannya diremehkan.

Berbeda dengan banyak ayat di mana Rasulullah SAW memohon syafaat (pertolongan) bagi umatnya, di ayat ini beliau justru “mengadukan” perilaku umatnya. Ini menunjukkan betapa beratnya rasa kecewa beliau terhadap mereka yang berpaling dari petunjuk yang sangat berharga.

Allah SWT mengabadikan pengaduan Rasulullah SAW ini dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran bagi umat Islam, agar tidak meniru perilaku kaum kafir dengan meninggalkan Al-Qur'an, melainkan menjadikannya pedoman hidup. Tidak mengabaikan seruan dakwah para da’i yang mengajak pada jalan yang benar, tidak meremehkan ajakan untuk menegakkan syariat Islam.

Poin inti dari ayat ini terletak pada kata mahjura, yang berasal dari akar kata hajara (meninggalkan/memutuskan). Para ulama tafsir (seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi) menjelaskan bahwa “meninggalkan” Al-Qur'an bukan hanya berarti tidak membacanya, tetapi mencakup beberapa perilaku, antara lain:

  1. Tidak Mengimani Tidak percaya bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah; atau menganggapnya tidak relevan untuk dilaksanakan di zaman now.
  2. Tidak Mendengarkan Sengaja membuat kegaduhan atau memalingkan telinga saat Al-Qur'an dibacakan.

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ

"Orang-orang kafir berkata: 'Janganlah kalian dengarkan Al-Qur'an ini. Hendaklah kalian buat keributan supaya kalian dapat mengalahkan suara bacaan Al-Qur'an.'"
(QS. Fushshilat [41]: 26)

  1. Tidak Mengamalkan Membaca teksnya, namun melanggar perintah dan larangannya. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu yang menyebabkan manusia menjadi lalai, tersesat, dan jauh dari petunjuk Tuhan.

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Wahai Muhammad, apa pendapatmu tentang orang yang mempertuhankan hawa nafsunya? Allah menyesatkan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah memateri pendengaran mereka, hati mereka, dan memasang tabir di depan penglihatan mereka. Karena itu, siapakah yang dapat memberikan petunjuk kepada mereka selain Allah? Mengapa orang-orang kafir itu tidak mau berpikir?”
(QS. Al-Jatsiyah [45]: 23)

  1. Tidak Mentadabburi Tidak berusaha memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.
  2. Berpaling kepada yang lain Lebih mengutamakan perkataan dan pandangan hidup buatan manusia di atas firman Allah.

Para ulama memperingatkan bahwa ayat ini juga menjadi peringatan bagi umat Muslim. Jika seorang Muslim memiliki Al-Qur'an tetapi hanya menjadikannya pajangan, jarang membacanya, atau tidak menjadikan hukumnya sebagai pedoman hidup, maka ia terancam masuk dalam kategori mahjura, orang yang meninggalkan Al-Qur'an.

Surah Al-Furqan ayat 30 adalah pengingat bagi kita semua agar tidak membiarkan Al-Qur'an menjadi sesuatu yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan kita dengan Al-Qur'an seharusnya mencakup lima dimensi: Meyakini, Membaca, Memahami, Mengamalkan, dan Mendakwahkannya.

Tips Menjaga Iman di Zaman Fitnah

Menjaga iman di zaman yang penuh dengan syubhat (keraguan) dan syahwat (keinginan duniawi) memang tantangan besar. Para ulama sering mengibaratkan kondisi ini seperti memegang bara api—panas dan sulit, namun harus tetap digenggam.

  1. Menjaga Shalat dan Ibadah Wajib Ibadah wajib adalah benteng pertama. Tanpa benteng yang kokoh, pengaruh luar akan sangat mudah merusak hati. • Shalat di awal waktu • Perbanyak sujud
  2. Memperdalam Ilmu Agama (Tafaqquh Fiddin) • Cari guru yang sanadnya jelas • Pelajari akidah
  3. Mencari Lingkungan yang Shalih • Bergabung dengan majelis taklim • Ziarah orang shalih
  4. Interaksi Aktif dengan Al-Qur’an Rutin membaca terjemahan dan tafsirnya.
  5. Hidupkan Ruh Masjid Menjadikan masjid pusat diskusi ilmu dan kepedulian sosial.
  6. Do’a Penjaga Hati

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

  1. “Uzlah” Secara Maknawi Tetap bergaul dengan masyarakat, namun memiliki prinsip yang kuat agar tidak ikut arus yang salah.


Kajian, 5 Ramadhan 1447 H, di Masjid Raya Ar-Rasul, Yogyakarta.

IRFAN S. AWWAS

(*/arrahmah.id)

Editor: Samir Musa