WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa pemerintahannya terus menerima kontak dari berbagai figur di Iran terkait kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, Trump menyatakan belum puas dengan proposal terbaru yang diajukan Teheran dan masih berupaya menentukan pihak yang tepat untuk diajak bernegosiasi.
Dalam pernyataan terbarunya hari ini (2/5/2026), Trump mengeklaim bahwa kemampuan militer Iran telah lumpuh total akibat serangkaian serangan militer gabungan AS-'Israel'. Trump mengeklaim 159 kapal perang Iran kini berada di dasar laut.
Angkatan Udara Iran diklaim sudah tidak beroperasi, sementara 82% fasilitas rudal dan 85% kapasitas produksi rudal baru telah dihancurkan. Sebagian besar pabrik drone Iran dilaporkan telah dihancurkan, menyisakan kapasitas produksi yang sangat terbatas.
Trump menggambarkan situasi ini sebagai perubahan rezim yang nyata karena hilangnya struktur kepemimpinan tingkat pertama dan kedua di Iran. Meski membuka opsi militer, Trump mengaku lebih memilih penyelesaian diplomatik atas dasar kemanusiaan.
Respon Iran: Siap Berdiplomasi Asal AS Berubah
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran bersedia melanjutkan upaya diplomatik, namun dengan syarat tegas: Amerika Serikat harus mengubah pendekatan "bahasa ancaman dan tindakan provokatif" mereka.
Melalui Pakistan sebagai mediator, Iran telah menyerahkan proposal negosiasi terbaru pada Kamis malam (30/4). Selain itu, Araghchi telah melakukan kontak intensif dengan negara-negara kawasan seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Irak, dan Azerbaijan untuk membahas inisiatif perdamaian.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, juga tengah terlibat dalam diskusi dengan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengaturan keamanan jangka panjang di kawasan.
Ketegangan ini terjadi di tengah berakhirnya tenggat waktu 60 hari bagi Trump untuk meminta otorisasi baru dari Kongres guna melanjutkan permusuhan militer di bawah War Powers Act. Trump telah mengirim pesan ke Kongres yang menyatakan bahwa permusuhan yang dimulai sejak 28 Februari telah berakhir, namun sinyal militer di lapangan menunjukkan persiapan untuk rencana serangan baru jika negosiasi terus mengalami kebuntuan.
Hingga saat ini, kondisi di kawasan tetap kritis. Iran secara praktis masih menutup Selat Hormuz bagi navigasi internasional.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan rakyatnya untuk melakukan "jihad ekonomi" dan memprioritaskan produk lokal guna mematahkan dampak blokade laut yang diberlakukan AS.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa AS menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade pelabuhan, sementara poin-poin krusial lainnya, termasuk masalah nuklir, ditunda.
Pertarungan antara retorika keras di Washington dan tuntutan martabat nasional di Teheran membuat masa depan kawasan ini masih diselimuti ketidakpastian. Kedua belah pihak kini berada dalam fase di mana tekanan ekonomi dan militer yang ekstrem beradu dengan kebutuhan mendesak untuk menemukan jalan keluar sebelumlkonflik kembali memanas. (zarahamala/arrahmah.id)
