Memuat...

Ganas Annar MUI Sulsel Dorong Kolaborasi Lintas Elemen Menuju Sulsel Bebas Narkoba 2030

Ameera
Sabtu, 22 Agustus 2026 / 10 Rabiulawal 1448 18:02
Ganas Annar MUI Sulsel Dorong Kolaborasi Lintas Elemen Menuju Sulsel Bebas Narkoba 2030
Ganas Annar MUI Sulsel Dorong Kolaborasi Lintas Elemen Menuju Sulsel Bebas Narkoba 2030

MAKASSAR (Arrahmah.id) — Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan kembali mendorong keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional bertema “Kolaborasi Lintas Elemen Mewujudkan Sulsel Bebas Narkoba” yang digelar pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) IX MUI Provinsi Sulawesi Selatan.

Ketua Annar MUI Sulsel, Waspada Santing, mengatakan persoalan narkoba masih membutuhkan perhatian serius dan penanganan bersama.

Karena itu, tema kolaborasi kembali diangkat untuk mendorong seluruh pihak agar tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi ancaman narkoba.

“Persoalan narkoba ini masih membutuhkan perhatian yang serius. Karena itu, kita kembali mengangkat tema kolaborasi lintas elemen agar semua pihak bisa bergerak bersama menghadapi persoalan narkoba,” ujar Waspada Santing.

Menurut Waspada, Sulawesi Selatan masih menghadapi tantangan besar dalam persoalan penyalahgunaan narkoba. Ia menyebut Sulsel masih masuk dalam jajaran 10 besar provinsi di Indonesia dengan prevalensi penyalahgunaan narkoba.

“Kita melihat Sulawesi Selatan masih masuk dalam 10 besar provinsi dengan prevalensi penyalahgunaan narkoba. Ini tentu menjadi perhatian bersama dan tidak bisa dibiarkan begitu saja,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Waspada, menunjukkan bahwa gerakan anti narkoba membutuhkan pendekatan yang lebih luas.

Penanganan tidak dapat hanya mengandalkan satu lembaga, tetapi harus melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Ulama, pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, keluarga, organisasi kemasyarakatan hingga kelompok lintas agama dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat pencegahan penyalahgunaan narkoba.

“Tidak mungkin persoalan narkoba ini diselesaikan hanya oleh satu pihak. Kita membutuhkan kolaborasi lintas elemen karena narkoba menyentuh berbagai lapisan kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Seminar nasional tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menyatukan pandangan dan memperkuat komitmen bersama dalam membangun strategi pencegahan penyalahgunaan narkoba di Sulawesi Selatan.

Waspada menegaskan, kolaborasi yang dibangun tidak boleh berhenti pada seminar, diskusi, atau kegiatan seremonial. Menurutnya, diperlukan langkah konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Yang kita harapkan bukan sekadar seminar atau diskusi. Setelah ini harus ada gerakan yang lebih konkret, sehingga semangat kolaborasi benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai langkah lanjutan, Annar MUI Sulsel juga menyiapkan rencana Deklarasi Sulsel Bebas Narkoba 2030. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang dan diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen dalam membangun gerakan anti narkoba secara berkelanjutan.

Selain deklarasi, Annar MUI Sulsel juga mendorong penguatan literasi publik melalui penerbitan buku kedua yang mengangkat isu penyalahgunaan narkoba dalam perspektif lintas agama.

Upaya tersebut diharapkan semakin memperluas pemahaman bahwa pencegahan penyalahgunaan narkoba bukan hanya menjadi tanggung jawab kelompok atau agama tertentu, melainkan kepentingan bersama seluruh masyarakat.

“Deklarasi ini kita harapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen. Pencegahan narkoba harus menjadi gerakan bersama dan melibatkan semua agama serta seluruh komponen masyarakat,” kata Waspada.

Dengan target Sulsel Bebas Narkoba 2030, Ganas Annar MUI Sulsel mulai mendorong gerakan anti narkoba dalam kerangka jangka panjang. Target tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui edukasi, penguatan sinergi, pencegahan sejak dini, serta aksi nyata di tengah masyarakat.

Kolaborasi lintas elemen pun diharapkan menjadi kekuatan utama untuk membangun lingkungan yang semakin tangguh terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba, sekaligus mewujudkan Sulawesi Selatan yang lebih sehat, aman, dan bebas dari narkoba.

(ameera/arrahmah.id)