Memuat...

Gaza Masih Berdarah di Tengah Gencatan Senjata: Ibu Hamil Gugur, Bayi Tewas dalam Kandungan, Anak-anak Terbakar Hidup

Samir Musa
Kamis, 6 Agustus 2026 / 23 Safar 1448 20:08
Gaza Masih Berdarah di Tengah Gencatan Senjata: Ibu Hamil Gugur, Bayi Tewas dalam Kandungan, Anak-anak Terbakar Hidup
Kepulan asap membumbung tinggi setelah serangan udara menghantam kawasan permukiman dan tenda-tenda pengungsi di Gaza. Meski gencatan senjata diumumkan, serangan mematikan masih terus merenggut nyawa warga sipil. (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) — Di tengah pembicaraan politik tentang tahapan baru kesepakatan gencatan senjata, warga Gaza masih menghadapi kenyataan pahit. Serangan udara terus menelan korban jiwa, meninggalkan kisah duka dari para penyintas yang kehilangan keluarga mereka dalam tragedi mengerikan.

Dilansir dari Al Jazeera, dalam 72 jam terakhir lebih dari 30 warga Palestina dilaporkan gugur menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Sementara itu, sejak 10 Oktober lalu setelah pengumuman gencatan senjata, sebanyak 1.249 warga Palestina disebut telah terbunuh.

Seruan “La ilaha illallah, asy-syahid habibullah” (Tiada Tuhan selain Allah, syahid adalah kekasih Allah) masih menggema di jalan-jalan Gaza. Kalimat itu terus dilantunkan para pengantar jenazah yang setiap hari membawa korban perang di tengah wilayah yang belum benar-benar merasakan keamanan.

Ibu Hamil Kehilangan Bayi, Pernikahan Berubah Menjadi Duka

Salah satu kisah memilukan datang dari seorang perempuan hamil yang menjadi korban serangan udara. Ledakan menghantamnya hingga bayi dalam kandungannya meninggal dunia hanya beberapa hari sebelum jadwal kelahiran.

Kisah lain datang dari Ramadan Abu Audah, seorang calon pengantin yang sedang mendirikan tenda di pusat kota sebagai persiapan menyambut pernikahannya. Namun serangan udara "Israel" mengubah tenda kebahagiaan itu menjadi tempat duka.

Saat salah seorang kerabatnya mengumpulkan jasadnya, ia menemukan bagian tubuh Ramadan yang mengenaskan.

“Mereka menghancurkannya di tenda tempat ia akan memulai hidupnya. Bahkan sedikit kebahagiaan yang masih kami perjuangkan terus diburu oleh ‘Israel’,” kata kerabat Ramadan kepada Al Jazeera.

Empat Anak Tewas Terbakar di Depan Pamannya

Kisah lain datang dari Muhammad Al-Masri, seorang perawat yang menjadi saksi kehancuran keluarganya sendiri.

Saat serangan menghantam rumah saudaranya, Firas, rudal menghancurkan ruangan tempat Firas dan istrinya berada. Keempat anak mereka — Naim, Ferial, Salma, dan Amirah — terjebak dalam kobaran api.

Muhammad mendengar jeritan keponakannya meminta pertolongan. Ia berusaha membuka pintu yang memisahkan mereka dengan harapan bisa menyelamatkan mereka dan memadamkan api.

Namun tindakan itu justru membuka jalan bagi kobaran api menyebar ke bagian lain rumah.

Setelah sekitar empat menit, suara anak-anak itu perlahan menghilang. Muhammad menyadari bahwa keluarga saudaranya telah musnah.

“Seluruh keluarga Firas telah hilang. Firas dan istrinya tewas mengenaskan, sementara anak-anak mereka meninggal terbakar,” tuturnya.

Api kemudian menjalar ke apartemen tempat Muhammad bersama ibunya, istrinya yang sedang hamil, dan dua anaknya berlindung.

Dalam kondisi terdesak, mereka hanya memiliki satu pilihan: melompat dari jendela.

“Aku berteriak kepada mereka, tidak apa-apa jika tulang kita patah, yang penting kita tidak meleleh terbakar,” ujar Muhammad.

Ia melempar anaknya satu per satu keluar jendela dari ketinggian satu lantai, kemudian melompat bersama keluarganya hingga mereka berhasil selamat.

Anak 12 Tahun Kehilangan Seluruh Keluarga

Muhammad bukan satu-satunya penyintas yang harus membawa luka kehilangan.

Aiham Nisman, bocah berusia 12 tahun, selamat hanya karena sebuah kebetulan. Beberapa menit sebelum rumah keluarganya di Gaza City dihantam tiga rudal, ia pergi ke rumah pamannya untuk mengambil sesuatu.

Ketika ledakan terjadi, Aiham kembali bersama pamannya dan mendapati rumah serta seluruh keluarganya telah hilang.

Ayahnya, Adham Nisman, ibunya Marwah, serta saudara-saudaranya Yahya, Ibrahim, dan Arwa gugur dalam serangan tersebut.

Pamannya, Walid Nisman, mengatakan Aiham menghabiskan dua hari mengumpulkan potongan tubuh keluarganya dari reruntuhan rumah dan bangunan sekitar.

“Ketika seseorang mengira dirinya berada dalam masa gencatan senjata dari kematian, ternyata kematian datang dengan kekejaman yang tidak bisa dibayangkan,” ujarnya.

Syahid Hasan Labbad gugur bersama keluarganya dalam serangan yang menghantam rumah mereka, sementara putrinya, Hala, selamat setelah terpental jauh akibat ledakan rudal. (Al Jazeera)

Keluarga Penghafal Al-Qur’an Musnah

Walid menggambarkan keluarga Nisman sebagai keluarga ilmu dan Al-Qur’an. Seluruh anggota keluarga dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an dan memiliki kecintaan terhadap pendidikan.

Yahya, anak tertua, merupakan siswa berprestasi dalam bidang matematika dan bercita-cita menjadi insinyur arsitektur.

Dua hari sebelum gugur, ia mengatakan kepada pamannya bahwa ia yakin akan memperoleh nilai lebih dari 95 persen dalam ujian akhir sekolah dan melanjutkan cita-citanya.

Namun ketika hasil ujian keluar, Yahya sudah tidak ada untuk merayakannya.

Ayahnya, Adham, merupakan lulusan kimia dan sedang melanjutkan studi magister dalam bidang hadis.

Hala Labbad, bocah yang selamat dari pembantaian keluarga Labbad di Gaza barat bulan lalu, mengalami luka bakar parah setelah rumah keluarganya dihantam serangan. (Al Jazeera)

Bocah 8 Tahun Selamat dari Reruntuhan

Di wilayah barat Gaza City, kisah memilukan lainnya datang dari keluarga Labbad.

Hala Labbad, seorang anak berusia delapan tahun, ditemukan hidup dari balik reruntuhan dengan luka bakar parah setelah serangan menghantam rumah keluarganya.

Serangan terjadi ketika keluarga tersebut sedang tidur. Rumah itu juga menjadi tempat berlindung bagi 18 orang pengungsi.

Rudal menghantam langsung ruangan tempat Hasan Labbad bersama istrinya Manar dan dua anak mereka.

Kekuatan ledakan membuat Hala terpental keluar ruangan, sementara ibunya mengalami luka bakar parah dan Hasan gugur.

Hala kemudian ditemukan dengan luka bakar berat pada tangan dan kakinya. Dokter akhirnya harus melakukan amputasi pada tangan kanannya.

Meski mengalami trauma berat, keluarga mengatakan Hala perlahan mulai menerima kondisinya dengan berpegang pada keyakinan yang selama ini ditanamkan keluarganya.

Trauma Penyintas Belum Berakhir

Pakar psikologi menjelaskan bahwa warga Gaza tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan trauma karena ancaman masih terus berlangsung.

Konselor psikologi Safaa Hijazi mengatakan otak manusia akan terus berada dalam kondisi bertahan hidup selama bahaya masih ada.

“Selama ancaman terus berlangsung, seseorang tidak memiliki ruang untuk memahami trauma yang dialaminya,” katanya kepada Al Jazeera.

Menurutnya, dampak psikologis yang sebenarnya sering baru terlihat ketika ancaman berhenti, karena selama perang berlangsung manusia hanya fokus menyelamatkan diri.

Di tengah pernyataan politik tentang gencatan senjata, para penyintas Gaza masih membawa kisah kehilangan mereka. Bagi mereka, perang belum benar-benar berakhir, karena kematian masih datang sebelum kesempatan untuk pulih.

(Samirmusa/arrahmah id)