WASHINGTON (Arrahmah.id) - Keamanan nasional Amerika Serikat diguncang oleh insiden peretasan yang menyasar petinggi puncaknya. Kelompok peretas bernama Handala, yang diduga kuat berafiliasi dengan intelijen Iran, mengeklaim telah membobol email pribadi Direktur FBI, Kash Patel. Mereka menyebarkan sejumlah dokumen dan foto pribadi milik Patel ke jagat maya pada Jumat (27/3/2026).
Laporan dari CNN mengonfirmasi validitas dokumen tersebut berdasarkan sumber internal. Foto-foto yang disebarkan mencakup dokumentasi pribadi Patel sebelum ia resmi menjabat sebagai Direktur FBI pada tahun 2025. Hingga berita ini diturunkan, Departemen Keadilan AS dan FBI masih menolak memberikan komentar resmi.
Handala secara terbuka mengeklaim tanggung jawab atas peretasan ini. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai balasan langsung atas tindakan FBI yang menyita beberapa domain situs web milik mereka pekan lalu.
Selain menyebarkan foto, para peretas diduga mendapatkan akses ke komunikasi sensitif yang bisa membahayakan operasi intelijen AS. Kelompok ini dikenal sebagai salah satu unit kejahatan siber paling aktif sejak perang AS-'Israel' melawan Iran meletus pada 28 Februari lalu.
Pakar keamanan siber internasional meyakini bahwa Handala merupakan kepanjangan tangan dari Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS). Serangan ini menunjukkan bahwa Iran mampu menembus lapisan pelindung individu paling berpengaruh di Amerika Serikat.
Pekan lalu, Departemen Keadilan AS menyita empat situs web yang terkait dengan aktivitas Handala, menuduh mereka melakukan sabotase siber sistematis. Namun, serangan ke email pribadi Kash Patel membuktikan bahwa penyitaan domain tidak menghentikan operabilitas kelompok ini.
Insiden ini memicu debat besar di Washington mengenai penggunaan email pribadi oleh pejabat tinggi keamanan, yang sering kali menjadi pintu masuk termudah bagi peretas negara asing untuk melakukan spionase.
Peretasan terhadap Direktur FBI di tengah situasi perang aktif bukan sekadar pencurian data, melainkan serangan psikologis. Iran ingin menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun di Washington yang benar-benar aman dari jangkauan mereka. Dokumen yang bocor bisa digunakan untuk pemerasan (blackmail) atau untuk memetakan jaringan komunikasi internal pemerintah AS dalam menghadapi konflik regional yang sedang berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)
