NABLUS (Arrahmah.id) - Di saat lembaga-lembaga kemanusiaan memperingati Hari Tawanan Palestina pada 17 April 2026, duka mendalam menyelimuti rumah-rumah di Tepi Barat. Tahun ini, sorotan tertuju pada fenomena memilukan: anak-anak yang harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus karena ditangkap oleh otoritas 'Israel'.
Berdasarkan data organisasi tawanan, saat ini terdapat sekitar 86 wanita Palestina yang mendekam di penjara dari total 9.600 tawanan. Sebanyak 25 di antaranya ditahan di bawah status Tahanan Administratif, penahanan tanpa dakwaan atau pengadilan yang dapat diperpanjang tanpa batas waktu.
Kisah Iliya: Dialog Imajinatif dengan Orang Tua yang Hilang
Di desa Beit Furik, Nablus Timur, seorang bocah perempuan berusia 6 tahun bernama Iliya Mleitaat harus menjalani hidup dalam kesunyian. Ayahnya, Mus'ab, dan ibunya, Aseel, keduanya ditangkap oleh militer 'Israel'. Bibinya, Suad Mleitāt, menceritakan dampak psikologis berat yang dialami keponakannya.
Akibat trauma kehilangan, Iliya sempat mengalami anemia, kekurangan vitamin, hingga gangguan kelenjar tiroid. Setiap malam sebelum tidur, Iliya menciptakan cerita khayalan seolah-olah ia sedang berbicara dengan ayah dan ibunya. Suad menceritakan bagaimana Iliya pernah berpura-pura berada di dalam mobil bersama ayahnya, tertawa, dan seolah memeluk ibunya dalam imajinasi tersebut.
Keluarga menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi kesehatan Aseel (ibu Iliya) di penjara. Menurut informasi yang diterima keluarga, Aseel mengalami patah kaki kanan dan kehilangan berat badan hingga 33 kilogram sejak ditahan. Suad juga menyoroti vakumnya peran Palang Merah Internasional yang tidak lagi bisa mengunjungi tawanan sejak pecahnya perang, dengan alasan status darurat.
Fatima Mansour: Menghafal Al-Qur'an di Tengah Kekosongan
Kisah lain datang dari desa Biddu, Yerusalem Barat. Fatima Mansour, seorang ibu dari tujuh anak, telah mendekam di penjara selama satu tahun. Kehadirannya sangat dirindukan oleh anak-anaknya, terutama putranya, Muhammad (16), yang merasa kehilangan sosok pembimbing di usia remajanya.
"Ibu yang biasanya mengajari saya Al-Qur'an dan memperhatikan pelajaran saya," ungkap Muhammad. Namun, di tengah kesedihan, ada secercah kabar bahagia: Fatima dikabarkan telah berhasil menghafalkan seluruh Al-Qur'an selama masa penahanannya. Keluarga kini menghitung hari menanti pembebasannya yang dijadwalkan dalam 10 hari ke depan.
Keluarga tawanan kini hidup dalam kecemasan ekstra setelah parlemen 'Israel' (Knesset) mendiskusikan undang-undang hukuman mati bagi tawanan. Suad Mleitāt menggambarkan kondisi batin para ibu dan istri tawanan seperti "berada di atas api," selalu waspada dan takut akan nasib anggota keluarga mereka di bawah kebijakan baru menteri keamanan Itamar Ben-Gvir.
Keluarga para tawanan mendesak lembaga internasional untuk segera bergerak, terutama untuk memulihkan hak kunjungan keluarga agar mereka dapat memastikan kondisi fisik dan mental orang-orang tercinta yang terisolasi di balik jeruji besi. (zarahamala/arrahmah.id)
