JAKARTA (Arrahmah.id) - Gelombang dukungan terhadap mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, terus menguat di tengah polemik pemotongan video ceramahnya yang berujung pada laporan dugaan penistaan agama di Polda Metro Jaya.
Setelah sebelumnya dukungan datang dari tokoh lintas agama dan aktivis mahasiswa, kini giliran Presidium Anti Provokator Nasional yang bermarkas di Makassar menyatakan sikap tegas membela JK.
Melalui pernyataan resminya, Presidium yang dikomandoi oleh Muchtar Dg Lau mengutuk pihak yang pertama kali mengunggah video ceramah JK yang telah dipotong sehingga memicu polemik berkepanjangan.
“Kami mengutuk keras orang pertama yang memposting video Pak JK saat ceramah di UGM sehingga menimbulkan polemik dan ketidaknyamanan yang berkepanjangan,” ujar Muchtar, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, sosok JK memiliki peran besar dalam menjaga toleransi dan persatuan bangsa. Ia menilai kontribusi JK tidak hanya pada skala nasional, tetapi juga dalam penyelesaian konflik sosial-keagamaan di tingkat internasional.
Presidium juga menegaskan bahwa istilah “mati syahid” yang disampaikan JK merupakan bagian dari terminologi dalam Islam yang memiliki kriteria dan batasan jelas, bukan untuk menafsirkan agama lain.
Muchtar menjelaskan bahwa pernyataan JK lebih merupakan deskripsi atas realitas sosial dan keyakinan pihak-pihak dalam konflik masa lalu, bukan representasi ajaran agama tertentu secara normatif.
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi oleh framing sepihak serta mengedepankan sikap objektif dalam memahami konteks pernyataan JK secara utuh.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta menjunjung tinggi nilai kebangsaan dan keberagaman,” tegasnya.
Ia juga menilai tuduhan penistaan agama terhadap JK tidak tepat, tidak berdasar, dan cenderung berlebihan.
Karena itu, ia meminta agar narasi yang berkembang diluruskan melalui pendekatan yang bijak dan profesional sesuai dengan hukum dan nilai adat yang berlaku.
Sebelumnya, cendekiawan Nahdlatul Ulama, Hilmi Firdausi, juga menyoroti framing negatif terhadap JK. Ia menegaskan bahwa rekam jejak JK dalam menjaga kerukunan antarumat beragama tidak dapat dipungkiri.
“Pak JK itu jasanya sangat besar dalam mendamaikan konflik antar umat beragama di Indonesia,” ujar Gus Hilmi.
Ia pun mempertanyakan logika di balik tudingan penistaan agama terhadap JK, mengingat peran besarnya dalam meredam konflik keagamaan di Tanah Air.
(ameera/arrahmah.id)
