Memuat...

Presiden Suriah Tegaskan Tak Akan Perang dengan 'Israel', Fokus Jadi Pusat Energi Regional

Hanoum
Sabtu, 18 April 2026 / 1 Zulkaidah 1447 09:15
Presiden Suriah Tegaskan Tak Akan Perang dengan 'Israel', Fokus Jadi Pusat Energi Regional
Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa. [Foto: Ilkha]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa menyatakan negaranya tidak akan memilih jalur konfrontasi militer dengan 'Israel' demi menjaga stabilitas kawasan, sekaligus menegaskan ambisi menjadikan Suriah sebagai pusat jalur energi dan perdagangan regional.

Asy Syaraa menyatakan bahwa prioritas utama Suriah saat ini adalah menjaga stabilitas nasional dan kawasan, serta memulihkan ekonomi pascakonflik. Ia juga menekankan bahwa negaranya ingin berperan sebagai penghubung strategis dalam jalur energi dan perdagangan lintas kawasan.

“Kami tidak ingin perang dengan 'Israel'. Prioritas kami adalah stabilitas dan membangun kembali Suriah sebagai pusat jalur pasokan energi dan perdagangan di kawasan,” kata Asy Syaraa di sela-sela partisipasinya dalam Forum Diplomasi Antalya, dikutip dari Enab Baladi (17/4/2026).

Menurut laporan Enab Baladi, pemerintah Suriah tengah mengembangkan visi jangka panjang untuk menjadikan negara tersebut sebagai hub logistik yang menghubungkan Timur Tengah dengan kawasan lain, termasuk melalui infrastruktur energi dan transportasi.

Sementara itu, laporan Al-Monitor menyebut bahwa Suriah juga berupaya menjaga jarak dari eskalasi konflik antara Iran dan 'Israel', serta membuka ruang diplomasi sebagai alternatif penyelesaian konflik.

Asy-Syaraa mengakui adanya ketegangan dengan 'Israel', namun menegaskan bahwa jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup. Ia menyebut pembicaraan masih mungkin dilakukan meskipun situasi politik tetap kompleks.

Dalam laporan The Times of Israel, ia juga menyinggung bahwa tindakan 'Israel' di masa lalu dinilai keras, namun bukan berarti menutup peluang dialog di masa depan.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan kawasan pada 2026, dengan konflik yang melibatkan beberapa aktor regional. Suriah memilih pendekatan yang lebih pragmatis dengan mengedepankan stabilitas ekonomi dan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama.

Pengamat menilai pernyataan ini mencerminkan perubahan strategi Suriah, dari pendekatan konfrontatif menuju diplomasi dan pembangunan ekonomi. Jika berhasil, Suriah berpotensi menjadi jalur penting dalam distribusi energi dan perdagangan regional, meskipun tantangan politik dan keamanan masih menjadi faktor penentu. (hanoum/arrahmah.id)