Memuat...

Negosiasi Islamabad Memanas, Trump Tuntut Iran Serahkan Uranium Tanpa Bayaran

Zarah Amala
Sabtu, 18 April 2026 / 1 Zulkaidah 1447 10:14
Negosiasi Islamabad Memanas, Trump Tuntut Iran Serahkan Uranium Tanpa Bayaran
Iran minta 20 Miliar dolar untuk hentikan pengayaan uranium (Foto: tangkapan video)

ISLAMABAD (Arrahmah.id) - Isu pengayaan uranium kembali menjadi kerikil tajam dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan. Presiden Donald Trump secara tegas menolak tawaran terbaru dari Teheran, memicu ketidakpastian baru dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri ketegangan di Timur Tengah.

Dalam wawancara televisi terbaru, Trump menegaskan sikap kerasnya terkait stok uranium Iran. Ia menyatakan akan bekerja sama untuk mengeluarkan uranium yang telah diperkaya dari Iran dan memindahkannya ke wilayah Amerika Serikat, namun dengan syarat yang sangat kaku.

Trump menyatakan tidak akan membayar sepeser pun, untuk mengambil alih stok uranium Iran. Ia meyakini kesepakatan bisa dicapai tanpa perlu kontak senjata. Trump menolak tawaran Iran untuk menangguhkan pengayaan selama 5 tahun. Ia menuntut pembekuan aktivitas nuklir selama minimal 20 tahun.

Sementara Rusia menawarkan diri untuk menampung stok uranium tersebut, Washington menolak dan bersikeras memindahkannya ke AS, meskipun pakar keamanan menilai skenario ini sulit diwujudkan tanpa kerja sama militer di lapangan.

Tuntutan Ekonomi Iran: 20 Miliar Dolar

Di sisi lain, Teheran memberikan syarat yang tak kalah berat. Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Iran menginginkan imbal balik yang besar atas konsesi nuklir mereka. Iran menuntut dana sekitar 20 miliar dolar AS atau lebih. Teheran menuntut hak untuk menjual minyak secara bebas di pasar global dengan harga pasar dan kembali ke sistem keuangan internasional (SWIFT).

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memperingatkan bahwa Iran kini memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%. Level ini hanya selangkah lagi menuju ambang batas 90% yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir.

Sinyal Positif dari Selat Hormuz

Meski negosiasi nuklir buntu, terdapat perkembangan positif di jalur maritim. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali sepenuhnya bagi navigasi internasional. Langkah ini diambil sejalan dengan gencatan senjata yang berlangsung di Lebanon, meski Iran menegaskan bahwa pelayaran tetap harus mengikuti jalur yang ditentukan oleh otoritas pelabuhan mereka.

Pakar keamanan Omar Ashour menilai tuntutan Trump yang meminta pembekuan selama 20 tahun menunjukkan ambisi yang lebih besar dibandingkan kesepakatan tahun 2015 (JCPOA) yang hanya menuntut 15 tahun. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar apakah kedua belah pihak mampu menemukan jalan tengah di tengah jurang tuntutan yang begitu lebar. (zarahamala/arrahmah.id)