Memuat...

Iran Peringatkan Perang Baru dengan AS Bisa Berlangsung Lebih Lama

Zarah Amala
Senin, 2 November 2026 / 23 Jumadilawal 1448 13:31
Iran Peringatkan Perang Baru dengan AS Bisa Berlangsung Lebih Lama
Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada sejumlah target di Iran yang perlu diserang. (Getty)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Iran pada Ahad (1/11/2026) memperingatkan bahwa perang baru dengan Amerika Serikat (AS) berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada sejumlah target di Iran yang harus diserang.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah terus dibayangi ancaman berulang dari AS dan 'Israel' untuk kembali melancarkan serangan udara.

"Perang yang mungkin terjadi di masa depan bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Presiden Amerika tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu maupun syarat berakhirnya perang tersebut," kata juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, sebagaimana dilaporkan televisi pemerintah Iran.

Fase paling intens dalam perang tersebut dimulai pada 28 Februari melalui serangan AS-'Israel' terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah di kawasan. Kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran juga terlibat dalam pertempuran di Lebanon dan Yaman.

Pernyataan Akraminia muncul setelah Trump mengisyaratkan bahwa AS dapat dengan cepat menyerang sejumlah target yang masih tersisa di Iran.

"Kami masih harus menangani, katakanlah, satu atau dua lokasi. Namun, kami bisa melakukannya dalam waktu 10 menit," ujar Trump kepada wartawan.

"Kalian mungkin bisa melihat Pickaxe Mountain. Lokasi itu juga harus ditangani. Kami bisa menyelesaikan semuanya dengan sangat cepat," tambahnya, merujuk pada kompleks nuklir bawah tanah yang diduga dimiliki Iran.

Media AS melaporkan bahwa Trump melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu pada Sabtu (31/10) untuk membahas kemungkinan dan waktu peningkatan operasi militer terhadap Iran.

Axios, mengutip seorang pejabat AS dan seorang pejabat 'Israel', melaporkan bahwa keduanya membahas perkembangan negosiasi dengan Republik Islam Iran. Netanyahu disebut mendesak Trump agar menyerang Iran segera setelah pemilihan paruh waktu AS, sementara Trump ingin memberikan kesempatan lebih lanjut bagi proses negosiasi.

Sumber 'Israel' menggambarkan percakapan tersebut sebagai pembicaraan yang "keras", sedangkan sumber AS menyebutnya sebagai pembicaraan yang "langsung".

Sejumlah pejabat tinggi militer dan politik Iran juga telah memperingatkan konsekuensi dari kemungkinan serangan baru.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, pada Ahad mengulangi peringatan yang sebelumnya disampaikan melalui pesan tertulis oleh Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei.

"Dalam konflik dengan Amerika, tidak ada batasan geografis. Sebuah medan operasi yang luas telah ditetapkan untuk menimbulkan kerugian terhadap musuh," kata Mohebbi sebagaimana dikutip televisi pemerintah Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya berharap AS memilih jalur diplomasi.

"Kami berharap pihak lain akan bertindak rasional dan memilih diplomasi," ujarnya. Ia menegaskan bahwa Iran "tetap siap menghadapi kedua kemungkinan, baik pertahanan maupun diplomasi", sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi IRNA.

Peringatan tersebut muncul setelah Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei mengungkapkan pada Sabtu bahwa dirinya telah menerima surat dari Wakil Presiden AS JD Vance yang berisi upaya untuk menghidupkan kembali perundingan.

Rezaei mengakui adanya perubahan positif dalam "nada" komunikasi dari pihak AS, tetapi mengatakan dirinya belum memberikan tanggapan.

Ia menyebut Teheran sebelumnya telah menyampaikan kepada Washington bahwa selama persyaratan Iran tidak dipenuhi, "Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali dan tidak akan ada perundingan".

Persyaratan tersebut mencakup pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, pencabutan sanksi-sanksi lama, serta penghentian perang di seluruh front pertempuran.

Sejak perang dimulai, Iran mengklaim telah menguasai Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global. Teheran juga berulang kali menargetkan kapal-kapal yang berusaha melintasi selat tersebut tanpa izin.

Sebagai respons, AS memberlakukan blokade laut tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (zarahamala/arrahmah.id)