Memuat...

Dijuluki "Sang Hantu", Muhammad Deif Ungkap Kisah Hidupnya dalam Dokumenter Al Jazeera

Zarah Amala
Senin, 2 November 2026 / 23 Jumadilawal 1448 12:02
Dijuluki "Sang Hantu", Muhammad Deif Ungkap Kisah Hidupnya dalam Dokumenter Al Jazeera
Mendiang Muhammad Deif (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Dalam penampilan langka yang menampilkan suara dan sosoknya secara langsung, program dokumenter Ma Khafiya A‘zham menayangkan rekaman Muhammad Deif, mantan Panglima Brigade Izzuddin Al-Qassam, yang menceritakan sejumlah fase penting dalam perjalanan hidupnya.

Kesaksian eksklusif tersebut mengungkap berbagai detail kehidupan pribadi dan perjalanan militernya melalui penuturan Deif sendiri, sekaligus meluruskan sejumlah spekulasi yang selama bertahun-tahun beredar di media.

Memperkenalkan dirinya dengan nama Muhammad Diab Ibrahim, Deif menyebut dirinya lahir pada 1965 di Khan Yunis, Jalur Gaza. Namun, ia menegaskan bahwa keluarganya berasal dari desa Kukaba, sebelah timur Kota Al-Majdal, yang penduduknya terusir sejak masa awal pendudukan Palestina.

Dalam kisah masa mudanya, Deif menceritakan pengalamannya menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza dengan mengambil jurusan biologi. Saat itu, ia juga aktif dalam kegiatan teater dan pernah berakting bersama kelompok seni Palestina bernama Al-A'idun (Mereka yang Kembali).

Menanggapi anggapan bahwa latar belakangnya sebagai pemain teater bertolak belakang dengan perannya kemudian sebagai komandan militer, Deif mengatakan bahwa seorang pejuang tetaplah manusia biasa. Menurutnya, minat, pemikiran, dan karakter seseorang tidak serta-merta bertentangan dengan keterlibatannya dalam perjuangan bersenjata.

Deif kemudian menceritakan pengalaman penahanannya oleh otoritas 'Israel' pada 1989. Ia mengaku menjalani serangkaian interogasi keras yang disertai kekerasan fisik, termasuk tindakan pencekikan oleh beberapa interogator. Meski demikian, ia mengaku tetap bungkam selama pemeriksaan.

Masa penahanan itu menjadi salah satu periode penting yang membentuk arah perjalanan militernya. Deif mengenang pertemuannya dengan tokoh senior Salah Syahadah ketika keduanya dibawa untuk menjalani persidangan militer. Dalam kesempatan itu, Deif meminta agar dirinya diberi tugas lapangan setelah dibebaskan.

Di dalam penjara yang sama, ia juga bertemu Zakaria Al-Syurabji. Keduanya mulai membicarakan rencana kegiatan militer, termasuk menjadikan penyanderaan tentara 'Israel' sebagai salah satu prioritas dalam strategi pertukaran tahanan.

Deif juga mengungkap bahwa pengetahuannya mengenai persenjataan pada masa awal diperoleh melalui materi dan gambar teknis yang sampai ke dalam penjara.

Pembentukan Jaringan dan Operasi Rahasia

Setelah dibebaskan, Deif mulai terlibat dalam kegiatan militer. Pada September tahun yang sama, ia merencanakan sebuah serangan terhadap tentara 'Israel' bernama Alon Kervani. Operasi itu berujung pada direbutnya senapan M-16 milik tentara tersebut, yang disebut menjadi senjata Israel pertama yang berhasil diperoleh kelompoknya.

Karena pengawasan ketat dan keterbatasan persenjataan di Jalur Gaza, Deif kemudian diam-diam menuju Tepi Barat. Ia mengungkap bahwa Muhyiddin Asy-Syarif bertugas mengatur perjalanan dan membantunya tiba di Bethlehem. Dari sana, ia mulai terlibat dalam upaya memperluas jaringan kelompok militer.

Setibanya di Hebron, Deif bertemu Muhammad Aziz Rasydi untuk membangun kembali jaringan militer di wilayah tersebut. Ia juga mengenang pengorbanan sejumlah tokoh lapangan, seperti Khalid Az-Zir dan Salim Subaih, yang menurutnya menjual perhiasan emas milik istri mereka untuk membiayai pengadaan senjata dan kebutuhan kelompok.

Dalam dokumenter tersebut, Deif turut menceritakan aktivitas kelompoknya di wilayah perbukitan dan pegunungan Tepi Barat, termasuk upaya menjaga kerahasiaan pergerakan mereka dari pantauan 'Israel'.

Ia juga mengisahkan pertemuannya dengan Yahya Ayyash di Desa Arura. Deif menggambarkan rekannya yang berlatar belakang insinyur itu sebagai sosok pendiam, tenang, dan jarang berbicara kecuali ketika ditanya secara langsung. Menurutnya, Ayyash sangat fokus pada pekerjaannya.

Deif kemudian menjelaskan bagaimana ia berusaha menghindari upaya pembunuhan 'Israel' selama bertahun-tahun dengan menjalani kehidupan berpindah-pindah dan menghindari pola hidup menetap.

Melalui kesaksian langsung tersebut, dokumenter Ma Khafiya A‘zham menghadirkan gambaran mengenai perjalanan pribadi Deif, mulai dari masa kecil dan aktivitasnya di dunia seni, pengalaman di penjara, hingga keterlibatannya dalam pembentukan jaringan militer Brigade Al-Qassam.

Rekaman itu juga memperlihatkan sisi lain sosok yang selama bertahun-tahun dikenal luas melalui julukan "Sang Hantu" karena jarang tampil di hadapan publik dan sulit dilacak oleh 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)